Founder dan Global CEO Go-Jek Nadiem Makarim - Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.
Founder dan Global CEO Go-Jek Nadiem Makarim - Medcom.id/Muhammad Syahrul Ramadhan.

Jika Ditunjuk Jadi Mendikbud CEO Go-Jek Bakal Ubah Kurikulum

Pendidikan gojek Kurikulum Pendidikan
Muhammad Syahrul Ramadhan • 04 Juli 2019 12:50
Jakarta: Founder dan Global CEO Go-Jek Nadiem Makarim mengatakan budaya berpikir kritis perlu ditanamkan pada pelajar Indonesia. Sehingga bisa melihat masalah dari dua sisi.
 
Untuk itu, kalau ia dipilih menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dia bakal membenahi kurikulum sekolah. Pembenahan mulai dari pengukuran tes, pasalnya pengukuran saat ini hanya berfokus pada sistem hafalan.
 
"Mungkin kurikulum yang pertama saya ubah adalah dari sisi assessment atau tesnya. Karena yang saya lihat saat ini banyak yang bersifat hafalan saja. Lalu hasil hafalan tersebut dites. Padahal yang penting itu bukan hafalan konten ilmunya saja, namun kecakapan anak tersebut berpikir kritis dengan melihat suatu permasalahan dari dua sisi berbeda," ungkap Nadiem ditemui di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis, 4 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nadiem menambahkan konsep berpikir kritis harus ditanamkan di lingkungan pendidikan dan kebudayaan saat ini. Pasalnya kurangnya kemampuan berpikir kritis menjadi akar masalah masuknya paham radikal maupun menelan informasi atau sebuah isu begitu saja.
 
(Baca juga:Amel Carla Berharap Menteri Baru Tak Gonta-ganti Kurikulum)
 
Ia berharap generasi muda mampu berpikir kritis. Mereka tak begitu saja sepakat dengan berbagai hal selain itu juga lebih solutif melihat permasalahan yang ada di masyarakat. Karena, mereka akan lebih skeptis dan tidak mudah menelan informasi secara utuh.
 
"Sebetulnya lebih penting cara berpikir kritis dibanding hafalan. Mereka jadi bisa melihat dua sisi, dari semua masalah. Karena akar permasalahan yang ada di masyarakat seperti perpecahan, persebaran informasi hoaks, itu karena kurang adanya kemampuan berpikir kritis. Sehingga hanya menelan bulat-bulat informasi yang ada tanpa melihat dua sisi permasalahan tersebut," ujar Nadiem.
 
Nadiem menambahkan pendidikan karakter perlu ada di kurikulum pendidikan formal. Meskipun nantinya metode pengetesan dinilai rumit, namun itu lebih baik daripada hanya berbasis pada nilai pelajaran saja.

 

(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif