Ia menjelaskan tepat sasaran yang dimaksud adalah pemberian beasiswa kepada yang berprestasi dan membutuhkan. Selama ini, salah satu beasiswa negara yaitu Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tidak menjalankan hal tersebut.
"Beasiswa yang diberikan oleh LPDP sampai saat ini belum atau tidak sama sekali mempertimbangkan latar belakang ekonomi. Jadi hanya diberikan berdasarkan prestasi," ungkap Stella dalam Hot Room Metro TV dikutip Kamis, 26 Februari 2026.
Dia meminta LPDP dievaluasi. Apalagi, setelah ada kontroversi dari pasangan suami istri penerima beasiswa LPDP, Arya Iwantoro dan Dwi Sasetyaningtyas.
"Inilah saatnya kita bercermin, bahwa kita menggunakan uang negara untuk memberikan beasiswa bagi mereka yang membutuhkan," tegas Stella.
Baca Juga :
44 Alumni LPDP Belum Kembali ke Indonesia, 8 Orang Dapat Sanksi Kembalikan Dana Beasiswa
Kontrovesi ini bermula dari pernyataan Dwi Sasetyaningtyas alias Tyas yang bangga anaknya mendapat kewarganegaraan Inggris. Namun, amarah publik terpantik karena ia mengucapkan: "I know the world seems unfair, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat,".
Pernyataan Tyas mendapat kecaman dari warga net, pasalnya ia bisa berada di luar negeri atas bantuan pendidikan dari LPDP yang merupakan uang dari pajak rakyat. Warga net lalu mengulik kehidupan Tyas.
Rupanya, suaminya, Arya Iwantoro, juga merupakan penerima LPDP dan belum menjalankan kewajiban kontribusi di Indonesia setelah lulus studi.
Belakangan, Tyas meminta maaf atas ucapannya. Dia menyadari kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai WNI.
Untuk itu, Tyas mengakui kesalahannya dan memahami dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawabnya. "Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi," tulis Tyas di akun Instagramnya @sasetyaningtyas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News