NEWSTICKER
Suasana belajar di rumah. Foto: Dok. Pribadi
Suasana belajar di rumah. Foto: Dok. Pribadi

Belajar di Rumah, Siswa Kangen 'Mabar PUBG' di Sekolah

Pendidikan Virus Korona Metode Pembelajaran
Ilham Pratama Putra • 19 Maret 2020 14:43
Jakarta: Salah satu gangguan dalam melakukan belajar daring atau online adalah perangkat belajar itu sendiri. Siswa kerap tergoda untuk bermain games online alih-alih belajar daring di laptop maupun gawai masing-masing.
 
Godaan inilah yang dihadapi siswa SMA Panglima Sudirman 1 Bekasi, Andhika Rizky Satria. Satria panggilan akrabnya, mengaku kangen main bareng (mabar) salah satu games perang daring PUBG bersama teman-temannya.
 
Biasanya, saat berada di sekolah, pada waktu senggang Satria kerap mabar. Kini kebiasaan tersebut hilang dikarenakan harus fokus belajar di rumah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Enggak sukanya belajar darin cuma itu (tidak bisa mabar di sekolah) kalau belajar di rumah. Kadang bosen juga jadinya," kata Satria kepada Medcom.id, Kamis 19 Maret 2020.
 
Baca juga:KPAI Minta Guru Tak Bebani Siswa dengan Tugas Berlebihan
 
Tapi Satria memahami akan kondisi terkini. Satria mencoba sabar menahan keinginannya untuk kembali mabar PUBG di sela-sela waktu istirahatnya saat sekolah.
 
Dia juga mengerti, proses belajar harus tetap menjadi prioritas. Tugas-tugas yang diberikan sekolah sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai siswa.
 
"Bunda juga bilang, bosan itu wajar. Tapi aku ngerti, aku harus belajar juga. Nanti kalau sudah selesai tugas bisa main. Atau ya disambi main, tapi tugas jangan enggak selesai," sambungnya.
 
Sebagai orang tua, yang sampai hari ini masih harus hadir ke kantor, Andriyani menyebut kondisi saat ini memang dilema. Namun, dengan bantuan grup WhatsApp (WA) dia bisa terus memantau kegiatan Satria di rumah.
 
"Aku sendiri sebenarnya juga yang jarang buka grup WA. Tapi kondisi ini yang ngedorong aku buat terus monitor anak," kata Andriyani.
 
Dia mengaku, komunikasinya dengan Satria berjalan lancar. Begitu pula koordinasi dengan sekolah juga berjalan baik.
 
Baca juga:Orang Tua Kewalahan Dampingi Belajar di Rumah Sambil Bekerja
 
Andriyani selalu mendapat laporan setiap pagi dari sekolah terkait tugas anaknya. Pun pada siang hari, guru di sekolah juga melaporkan, siswa mana yang telah mengumpulkan tugas.
 
"Meski begitu, aku juga tanya langsung ke Satria apakah sudah mengerjakan tugas atau belum. Yang penting dimonitor terus," ujarnya.
 
Bagi Andriyani pada kondisi sekarang, tak ada pihak yang bisa disalahkan. Pilihan terbaik adalah bergotong royong untuk memastikan pendidikan anak bisa terus berjalan.
 
"Kita juga paham mungkin ada guru yang kesulitan metode ini. Aku juga masih harus kerja, dan anak juga mesti didorong untuk belajar. Tapi kalau kita gotong royong, aku yakin kita bisa menghadapi ini," lanjut Andriyani.
 
Dia juga berkomitmen, setelah pulang kerja, akan kembali mendampingi Satria belajar. "Iya pulang jam 18.00 WIB sore, aku sempetin kalau Satria ada pertanyaan sambil evaluasi sedikit pelajaran dan tugasnya," ujarnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif