Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menyoroti dampak perubahan iklim yang dirasakan masyarakat secara berbeda. Petani, masyarakat pesisir, hingga penduduk perkotaan menghadapi risiko yang berkaitan dengan ketersediaan air dan perubahan kondisi lingkungan.
Bagi petani, ketersediaan air dapat menentukan keberhasilan panen. Sementara itu, masyarakat pesisir menghadapi dampak perubahan lingkungan terhadap mata pencaharian, sedangkan warga perkotaan berhadapan dengan persoalan akses air bersih dan risiko banjir.
"Penanganan perubahan iklim perlu memperhatikan kondisi masyarakat dan ekosistem yang rentan," kata Jumhur dalam keterangan tertulis, Rabu 14 Oktober 2026. Persoalan tersebut menunjukkan bahwa krisis air tidak dapat dipandang hanya sebagai isu lingkungan. Ketersediaan air juga berkaitan dengan produksi pangan, keberlangsungan mata pencaharian, dan kualitas hidup masyarakat.
Isu keamanan air menjadi bagian dari tema AWMUN XV, yakni Building a Just and Sustainable Future: Peace, Water Security and Social Inclusion. Forum simulasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini dirancang untuk mengembangkan keterampilan diplomasi, kepemimpinan, komunikasi, dan negosiasi generasi muda.
AWMUN XV di Bali. Dok IGN
Dalam konferensi tersebut, para peserta berperan sebagai perwakilan negara dan mengikuti mekanisme sidang yang mengadopsi prosedur diplomasi PBB. Mereka melakukan riset, menyampaikan pandangan, membangun aliansi, serta menyusun rancangan resolusi bersama.
Proses tersebut memberi peserta kesempatan mempelajari cara negara-negara dengan kepentingan berbeda mendiskusikan persoalan bersama. Dalam isu keamanan air, misalnya, kepentingan lingkungan, kebutuhan pangan, pembangunan, dan kesejahteraan masyarakat dapat saling berkaitan.
Pada kesempatan tersebut, Presiden International Global Network (IGN), Muhammad Fahrizal, menekankan pentingnya dialog dan kemampuan memahami perspektif berbeda dalam menghadapi tantangan global. Menurut dia, diplomasi tidak hanya berkaitan dengan kompetisi.
"Diplomasi juga juga kemampuan mendengarkan pihak lain dan mencari titik temu melalui dialog," terang Fahrizal.
Rangkaian AWMUN XV dilanjutkan dengan AWMUN Multistakeholder Forum pada 5 Oktober 2026. Forum tersebut mempertemukan perwakilan United Nations Information Centre (UNIC), organisasi nonpemerintah lokal di Bali, jajaran penyelenggara, delegasi terpilih, serta kepala sekolah.
Dalam forum itu, para peserta mendiskusikan rancangan resolusi yang dikembangkan selama sesi komite. Para pemangku kepentingan juga memberikan perspektif dan masukan terhadap gagasan yang dirumuskan delegasi.
Pelibatan berbagai pihak membuka ruang bagi peserta untuk memahami bahwa persoalan global membutuhkan perspektif yang beragam. Pembahasan tidak berhenti pada simulasi sidang, tetapi diperluas melalui dialog dengan pihak di luar konferensi.
AWMUN XV diselenggarakan oleh IGN, organisasi pendidikan internasional yang mengembangkan program kepemudaan melalui pengalaman belajar, kepemimpinan, dan forum internasional. Sejak berdiri pada 2016, IGN menyelenggarakan sejumlah program, termasuk Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) dan AWMUN.