Prosesi serah terima jabatan yang berlangsung di Balai Senat UGM pada Jumat, 19 Juni 2026, menjadi penanda penting. Momen ini tak sekadar transisi kepemimpinan, melainkan langkah strategis berkelanjutan untuk menjaga tata kelola UGM agar terus relevan dengan tantangan masa depan.
Melewati Badai Disrupsi Pandemi
Pratikno, dalam pidato perpisahannya, menyoroti beratnya tantangan pada periode 2021–2026. Disrupsi pandemi Covid-19 sempat mengguncang ekosistem pendidikan tinggi. Namun, berkat adaptasi yang lincah, agenda strategis pengembangan UGM tetap berada di jalurnya.“Berbagai tantangan yang kami hadapi menjadi pembelajaran berharga untuk menjaga keberlanjutan pengembangan UGM di tengah berbagai perubahan yang terjadi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa stabilitas kampus selama lima tahun terakhir adalah hasil dari kerja keras kolektif seluruh sivitas akademika, bukan sekadar one-man show.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja bersama selama periode ini dan selamat kepada pimpinan serta anggota MWA yang baru untuk melanjutkan pengabdian bagi UGM,” katanya.
Fokus pada Fasilitas Kampus dan Daya Saing Global
Menyambut tongkat estafet tersebut, Ketua MWA UGM 2026–2031, Tumiran, mengapresiasi fondasi kuat yang ditinggalkan pengurus lama. Ia menilai reputasi UGM saat ini, baik di kancah nasional maupun internasional, sudah sangat mentereng.“Kami menyampaikan penghargaan atas berbagai capaian yang telah diwujudkan oleh MWA periode sebelumnya dalam mendukung kemajuan UGM,” tuturnya. Kabar baik bagi para mahasiswa, kepengurusan baru ini akan memprioritaskan optimalisasi infrastruktur. Segala fasilitas yang ada harus dirasakan manfaatnya secara maksimal untuk mendukung iklim belajar yang modern dan inovatif.
“Berbagai capaian yang telah diraih perlu terus dioptimalkan agar memberikan dampak yang lebih besar bagi mahasiswa, dosen, dan masyarakat,” ujarnya.
Kepemimpinan Terbuka dan Kolaboratif
MWA UGM periode ini diperkuat oleh 16 anggota yang berasal dari lintas latar belakang, mulai dari tokoh masyarakat, alumni, dosen, tenaga kependidikan, hingga perwakilan mahasiswa.Tumiran berjanji akan mengedepankan gaya kepemimpinan yang terbuka. MWA akan menjadi ruang dialog yang ramah masukan, memastikan tata kelola universitas berjalan sinergis bersama Rektorat, Senat Akademik, dan Dewan Guru Besar.
“MWA tidak akan berarti tanpa dukungan seluruh sivitas akademika, sehingga sinergi dan kolaborasi menjadi kunci untuk membawa UGM semakin maju,” tegasnya.
Dengan semangat kebersamaan ini, MWA UGM formasi baru bersiap tancap gas mengawal transformasi kampus, mencetak talenta unggul, dan menempatkan UGM di jajaran universitas elite dunia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda