Serangan Rusia di kota perbatasan Ukraina. DOK AFP
Serangan Rusia di kota perbatasan Ukraina. DOK AFP

Polandia-Rumania Dinilai Opsi Terbaik Evakuasi WNI Ketimbang Moldova

Renatha Swasty • 04 Maret 2022 10:30
Jakarta: Pemerintah Indonesia terus mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) di Ukraina buntut memanasnya konflik Rusia-Ukraina. Pakar Hubungan Internasional (HI) Universitas Airlangga (Unair) Radityo Dharmaputra menilai Polandia dan Rumania menjadi opsi terbaik pemerintah untuk mengevakuasi WNI.
 
“Polandia yang paling aman karena negara ini tergabung dalam Uni Eropa dan NATO. Selain itu, kalau ke Polandia, mereka cukup menerima pengungsi dengan baik. WNI pun akan lebih mudah diterbangkan ke Indonesia,” ujar Radityo dikutip dari laman unair.ac.id, Jumat, 4 Maret 2022.
 
Pemerintah memilih tiga negara tujuan evakuasi WNI, yakni Polandia, Rumania, dan Moldova. Ketiga negara itu berbatasan langsung dengan Ukraina.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pengamat Kawasan Rusia dan Eropa Timur itu menyebut tak mengherankan beberapa hari terakhir pengungsi Ukraina menuju Polandia sangat padat. Radityo menyebut status keanggotaan Polandia di Uni Eropa dan NATO akan mencegah Rusia melakukan serangan apabila konflik meluas.
 
Hal yang sama berlaku pada Rumania. Radityo menilai negara yang telah terdaftar sebagai anggota Uni Eropa dan NATO itu sebagai opsi lebih baik ketimbang negara tetangga, Moldova.
 
Radityo menyebut Moldova termasuk berisiko karena memiliki wilayah berkonflik dan didukung Rusia. Wilayah tersebut ialah Transnistria yang dikabarkan menjadi salah satu jalur pasukan Rusia masuk ke Ukraina.

Risiko evakuasi WNI

Radityo menyebut langkah selanjutnya yang harus diperhatikan pemerintah usai evakuasi ialah proses pemulangan WNI ke Indonesia. Pemulangan juga mesti diperhitungkan dan berhati-hati.
 
“Utamanya terkait penerbangan wilayah. Harus diingat delapan tahun lalu ada pesawat Malaysia Airlines yang tertembak jatuh di kawasan konflik di Ukraina Timur,” kata alumni University of Glasgow tersebut.
 
Radityo mengimbau jalur penerbangan evakuasi WNI ditentukan hati-hati. Dia menyarankan jalur kepulangan berputar.
 
“Kalau perlu berputar ke wilayah Selatan. Jangan melewati wilayah konflik seakan-akan perang hanya terpusat di Ukraina. Wilayah perbatasan tetap harus dijaga,” ujar dia.  

Situasi sulit bagi WNI yang masih tertahan

Sejauh ini, Kementerian Luar Negeri RI melaporkan masih ada 13 WNI yang belum dievakuasi. Sebanyak empat WNI di Kharkiv dan sembilan lainnya di Chernihiv.
 
Radityo menilai situasi ini problematis. Sebab, pemerintah RI hanya bisa menunggu konflik mereda untuk mengevakuasi WNI.
 
Khususnya di wilayah Kharkiv, Timur Ukraina yang menjadi pusat konflik. Situasi itu membuat evakuasi tertahan karena hanya bisa dilakukan lewat jalur darat.
 
“Seumpama wilayah itu masih dipegang Ukraina, maka serangan akan terus berlanjut. Tapi kalau Rusia berhasil mengambil alih, mungkin evakuasi memungkinkan. Namun, itu semua hanya hipotesis, kini belum bisa diprediksi arahnya ke mana,” papar dia.
 
Radityo menekankan agar pemerintah memaksimalkan shelter dan logistik agar WNI dapat bertahan dalam beberapa hari ke depan. Termasuk, bagi 24 WNI yang memilih tetap tinggal karena telah berkeluarga dengan warga Ukraina.  
 
“Pemerintah Indonesia perlu tetap menawarkan evakuasi. Cuma jika memang mereka punya ikatan pernikahan dan emosional kita tidak perlu memaksa dan biarkan mereka ambil keputusan sendiri,” kata dia.
 
Radityo mengapresiasi langkah Kedutaan Besar RI dan Pemerintah Indonesia telah mengusahakan proses evakuasi WNI. Terlebih, belum ada kabar WNI kesulitan keluar atau menjadi korban konflik secara langsung.
 
Baca: Pakar Unair: Masih Terlalu Dini Menyimpulkan Terjadinya Perang Dunia III
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif