Ilustrasi: Foto: MI/Arya Manggala
Ilustrasi: Foto: MI/Arya Manggala

39 SMA/SMK di Sukabumi Ajukan Buka Belajar Tatap Muka

Pendidikan sekolah tahun ajaran baru Kenormalan Baru
Antara • 15 Juli 2020 16:11
Bandung: Dinas Pendidikan Jawa Bawat menyatakan 39 SMA dan SMK di Kota Sukabumi sudah mengajukan permohonan izin untuk menyelenggarakan pembelajaran di sekolah. Pengajuan itu selanjutnya diteruskan kepada Gugus Tugas Covid-19 Kota Sukabumi.
 
"Untuk dilihat (apakah) indikator-indikator (untuk menyelenggarakan) pembelajaran tatap muka terpenuhi," kata Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Dedi Supandi di Bandung, Rabu, 15 Juli 2020.
 
Menurut dia, SMA dan SMK di Kota Sukabumi harus siap menerapkan protokol kesehatan dan mengatur kuota siswa yang bisa mengikuti kegiatan belajar dalam setiap sesinya. Gugus Tugas Kota Sukabumi sudah menetapkan jumlah siswa dalam satu kelas yaitu 12 orang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Shift pembelajaran sudah ditetapkan juga. Satu pekan kelas 10, pekan selanjutnya kelas 11, dan kelas 12. Semua persiapan sudah dilakukan dengan komprehensif," kata Dedi.
 
Ia menambahkan, harus dilakukan proteksi menyeluruh, baik perihal lingkungan, izin, dan infrastruktur sekolah. "Yang belum adalah konsistensi Kota Sukabumi berada di zona hijau," ujarnya.
 
Menurut dia, pembelajaran tatap muka di sekolah belum bisa dilakukan di Kota Sukabumi karena penularan virus korona (covid-19) belum sepenuhnya terkendali.
 
"Kami akan memantau status di sana. Jika konsisten berstatus zona hijau, akhir Juli akan evaluasi. Kemudian, kami akan membuat keputusan, apakah pembelajaran tatap muka di Kota Sukabumi dapat dilaksanakan," kata Dedi.
 
Baca:Sekolah di Yogyakarta Dilarang Mewajibkan Siswa Beli Seragam
 
Ia menjelaskan, seluruh SMA dan SMK di Jawa Barat masih melaksanakan kegiatan pembelajaran dari jarak jauh via daring selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2020/2021 yang berlangsung mulai Senin, 13 Juli 2020.
 
Dinas Pendidikan Jawa Barat sudah melaksanakan survei pada orang tua dan peserta didik mengenai penyelenggaraan metode pembelajaran jarak jauh. Hasilnya, menunjukkan orang tua dan peserta didik masih menghadapi kendala dalam mengikutinya.
 
Kendalanya antara lain keterbatasan akses internet, kesulitan orang tua mendampingi anak selama pembelajaran, dan siswa masih mengalami hambatan dalam berkomunikasi dengan guru. Pemerintah provinsi, menurut Dedi, berupaya mengatasi kendala-kendala tersebut agar kegiatan belajar dari jarak jauh bisa berjalan optimal.
 
"Kami menempatkan siswa, orang tua, pengawas, dan guru, masing-masing memiliki tugas. Kemudian semua pihak harus berinovasi, khususnya guru dalam menyampaikan materi secara interaktif. Kami juga sudah mengalokasikan biaya internet melalui dana BOS," katanya.
 
Dedi menjelaskan, ada beberapa modul yang dikirim kepada siswa yang berada di blank spot melalui PT Pos. Guru yang terpaksa berkeliling menemui peserta didik juga dipastikan tetap menerapkan protokol kesehatan.
 
"Itu kami lakukan supaya pembelajaran daring tetap berlangsung optimal," ungkapnya.
 
(AGA)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif