Penjemputan pelajar pemenang IOAA 2018, Medcom.id/Citra Larasati.
Penjemputan pelajar pemenang IOAA 2018, Medcom.id/Citra Larasati.

Olimpiade Astronomi Internasional

Pelajar Indonesia Sabet Lima Medali di Beijing

Citra Larasati • 13 November 2018 20:35
Jakarta:  Pelajar Indonesia kembali menorehkan prestasi internasional di bidang Astronomi.  Tim Nasional Indonesia berhasil membawa pulang satu emas, satu perak, dan tiga perunggu dalam The 12th International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) 2018 di Beijing, Tiongkok.
 
The 12th International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) 2018 yang berlangsung
tanggal 3-11 November 2018 di kota Beijing, Tiongkok baru saja berakhir.  IOAA ke-12 ini 
diselenggarakan oleh Beijing Academy of Science and Technology dan Foreign Affairs of the 
People’s Government of Beijing Municipality.
 
"Beijing Planetarium bertindak sebagai tuan rumah," kata Kepala Subdit Peserta Didik, Direktur Pembinaan SMA, Kemendikbud, Juandanilsyah, di Jakarta, Senin 13 November 2018.

Sebanyak 209 siswa, dan 71 team leaders dan 35 observers, yang berasal dari 39 negara telah 
berpartisipasi pada IOAA kali ini. "Anak-anak kita hebat, dari lima yang diberangkatkan, semuanya pulang bawa medali," kata Juandanilsyah.
 
Kemendikbud akan memberikan penghargaan berupa uang pembinaan dan beasiswa hingga S3 bagi pelajar yang mendapatkan emas, S2 peraih medali perak, dan beasiswa S1 untuk peraih medali perunggu. 
 
Para team leaders dan observers menginap di Xijuan Hotel, Beijing, sedang siswa tinggal dan berlomba di Holiday Inn Resort, Yanqing sekitar dua jam dari kota Beijing.   Selama sepuluh hari, siswa telah melalui tiga ronde utama yang diperlombakan dalam ajang ini. 
 
Ronde Teori dilaksanakan di Conference Room, Holiday Inn Resort, Yanqing, pada tanggal 5
November 2018, diikuti ronde kompetisi tim dan ronde pengamatan yang terdiri atas dua bagian, yaitu day time dan night time pada 6 November 2018. 
 
"Ronde pengamatan dilaksanakan secara indoor, karena langit dinilai kurang baik untuk pengamatan," terang Juandanilsyah.
 
Baca: LPDP Siapkan Kuota Beasiswa Khusus Santri
 
Ronde Analisis Data berlangsung lima jam pada 8 November 2018 di Conference Room, Holiday Inn Resort.   Pada ronde teori, siswa bergelut dengan 11 soal.  Terdiri atas dua soal Betul-Salah, tujuh soal esai pendek-medium dan dua soal esai panjang selama lima jam.
 
Sedangkan pada ronde analisis data, dua soal panjang harus diselesaikan dalam lima jam. 
"Kecerdasan dan ketahanan siswa benar-benar diuji dalam ronde-ronde tersebut," terang Dia.
 
Nathanael Beta Budiman, siswa SMAN 2 Jakarta peraih medali emas dari olimpiade tersebut mengatakan, materi uji terberat yang diujikan adalah analisis data. "Tim kami kemarin agak kurang di teori," kata Nathanael.
 
Dari 39 negara peserta, saingan terberat menurut Nathanael adalah Iran, Rusia, Amerika dan India.  Menurut Nathanael, sebagian dari negara-negara tersebut sudah mempelajari astronomi sejak di jenjang pendidikan menengah.
 
"Kalau di kita astronomi itu baru dipelajari saat kuliah, itu pun hanya ada di beberapa kampus saja.  Astronomi tidak masuk kurikulum di SMA kita," ungkap Nathanael.
 
Untuk itu, persiapan yang dilakukan Nathanael menghadapi olimpiade astronomi ini lebih berat. 
"Ada pelatihan nasional, observasi ke Boscha, belajarnya diajar dosen astronomi ITB," tutupnya.
 
Seluruh siswa dari Indonesia memperoleh medali dengan rincian sebagai berikut:
 
1. Ahmad Izuddin, dari SMAN Plus Provinsi Riau, Riau, Perunggu
2. Made Yongga Anggar Pangestu, dari SMAN 1 Mataram, NTB, Perunggu
3. Muhammad Fajril Afkaar Ali, dari SMA Kharisma Bangsa, Banten, Perunggu
4. Muhammad Ikhsan Kusrachmansyah, dari SMA Kesatuan Bangsa, DI Yogyakarta, Perak
5. Nathanael Beta Budiman dari SMAN 2 Jakarta, DKI Jakarta, Emas.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan