Merespons antusiasme tersebut, Education Malaysia Global Services (EMGS), sebuah lembaga di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia, bersama Education Malaysia Indonesia (EMI) menggelar pameran pendidikan terbesar bertajuk MEGA Ayo Kuliah di Malaysia 2026. Acara yang berlangsung pada 11 Juli 2026 di Kempinski Grand Ballroom, Grand Indonesia Mall, Jakarta ini menghadirkan 28 institusi pendidikan tinggi terkemuka dari Negeri Jiran.
Ketua Pegawai Eksekutif (CEO) EMGS, Novie Tajuddin, menjelaskan, kehadiran pameran ini bukan sekadar ajang promosi, melainkan sebuah jembatan untuk menguatkan kolaborasi serumpun dan membuka akses pendidikan berkualitas internasional dengan biaya yang bersahabat.
Daya Tarik Konsep "3T" untuk Pelajar Indonesia
Untuk itu, universitas di Malaysia makin agresif menjemput bola ke Indonesia. Salah satunya karena adanya faktor kedekatan kultural dan kualitas yang ditawarkan. Novie menyebut, keunggulan pendidikan Malaysia bagi pelajar Indonesia itu ada dalam konsep 3T, yakni Tetangga, Terakui, dan Terjangkau.
Suasana pameran pendidikan Mega Ayo Kuliah Malaysia. Foto: Medcom/Citra Larasati
Kultur yang serumpun menjadikan proses adaptasi mahasiswa Indonesia jauh lebih mudah dan less stressful, sebuah faktor krusial bagi pelajar Indonesia yang sangat fokus terhadap kesehatan mental saat jauh dari rumah.
"Seperti dalam ucapan saya tadi, pentingnya Indonesia kepada Malaysia ialah melalui 3 T ya, tetangga kerana kita yang jejiran tetangga yang amat dekat sekali. Yang kedua dari segi terakui karena universitas yang ada di Malaysia menawarkan program-program yang diakui di peringkat antarabangsa. Yang mana ranking-ranking universiti di Malaysia juga adalah antara yang terbaik di dunia," kata Novie di Jakarta.
Ia juga menekankan betapa signifikannya kedekatan budaya antara kedua negara. "Maknanya ini adalah negara tetangga. Kalau aku pergi keluar di laut lagi makanya kita bukan tetangga. Jadi ini sebelah saja kan? Jadi itu adalah antara sebab kenapa kita ada di Indonesia. Dan keduanya dari segi culture-nya ya. Culture-nya sama. Ya macam saya bilang tadi kalau di di Malaysia, di Indonesia ada tempe, di Malaysia juga ada tempe. Jadi semuanya sama, serasi. Ya, bahasanya pun sama. Ya," terangnya.
Biaya Terjangkau, Kualitas Dunia
Salah satu ketakutan terbesar saat berencana kuliah ke luar negeri adalah masalah finansial. Menariknya, biaya pendidikan di Malaysia bisa dibilang sangat kompetitif, bahkan bersaing dengan beberapa universitas swasta ternama di Indonesia. Untuk universitas negeri di Malaysia, biayanya berkisar di angka RM20.000 atau sekitar Rp80 juta per tahun."Maksud terjangkau ialah kursus-kursus yang ditawarkan, program-programnya adalah amat-amat Amat-amat terjangkau cost-nya. Karena tidak perlu lagi untuk pergi ke luar negara. Contohnya kalau mau pergi ke Amerika, United Kingdom, Australia. Kerana cost-nya berlipat ganda," imbuh Novie.

Ketua Pegawai Eksekutif (CEO) EMGS, Novie Tajuddin. Foto: Medcom/Citra Larasati
Bagi mahasiswa yang mencari dukungan dana, Malaysia turut membuka pintu beasiswa. Selain mengandalkan LPDP atau beasiswa dari pemerintah provinsi di Indonesia, pemerintah Malaysia sendiri menyediakan kuota khusus melalui program Malaysia International Scholarship (MIS). Tersedia sekitar 100 kuota beasiswa penuh untuk jenjang S2 dan S3 yang mencakup biaya kuliah (tuition fees) sekaligus biaya hidup (cost of living).
Fasilitas Kelas Dunia dan Ekosistem Karier Lulusan
Lonjakan minat pelajar Indonesia terbukti dari angka pendaftaran. Tercatat, tren aplikasi mahasiswa internasional dari Indonesia ke Malaysia meningkat 18-19 persen setiap tahunnya. Hingga saat ini, sudah ada sekitar 12.000 mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di sana, menjadikan Indonesia sebagai penyumbang pelajar internasional tertinggi kedua di Malaysia.Selain biaya dan budaya, Malaysia menawarkan daya tarik gaya hidup khas pelajar global. Kuala Lumpur baru saja dinobatkan sebagai salah satu dari 15 kota pelajar terbaik di dunia versi QS Best Student Cities 2026.
Tidak berhenti sampai di kelulusan, Malaysia juga telah memperluas program Graduate Pass ke 32 negara, termasuk Indonesia. Fasilitas ini memungkinkan lulusan untuk menetap sementara di Malaysia pascastudi untuk mencari pengalaman industri, magang, atau sekadar melakukan eksplorasi karier di tingkat regional.
Sebagai dukungan nyata di lapangan, EMGS juga memanjakan calon mahasiswa baru dengan mendirikan International Student Arrival Centre (ISAC) di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), sebuah pusat bantuan yang beroperasi 24/7 khusus untuk menyambut kedatangan pelajar internasional.
Pada akhirnya, visi besar dari kolaborasi pendidikan ini bermuara pada penguatan sumber daya manusia di kawasan ASEAN. "Jadi dengan itu Malaysia dan Indonesia juga akan dapat Malaysia dapat membantu untuk Indonesia mencapai Indonesia emas," pungkas Novie.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda