Pelajar SD. DOK Kemendikdasmen
Pelajar SD. DOK Kemendikdasmen

Peka pada Persoalan Nyata, Siswa Didorong dari Screen Time jadi Green Time

Ilham Pratama Putra • 10 Februari 2026 13:04
Ringkasnya gini..
  • Menko PMK Pratikno mendorong sekolah melalui para guru mengenalkan budaya green time kepada siswa untuk mengurangi screen time.
  • Pratikno yakin dengan green time para siswa akan lebih peka terhadap persoalan nyata. Salah satunya perubahan iklim atau climate change.
  • Para murid perlu memiliki pemahaman mengenai langkah-langkah untuk menekan dampak perubahan iklim sebagai bekal di masa depan.
Depok: Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno meminta sekolah memperkuat pendidikan karakter para murid terkait perubahan iklim. Ia ingin para guru mengenalkan budaya green time untuk mengurangi screen time.
 
"Kita berkepentingan agar anak mulai bergeser dari screen time ke green time, dari melihat layar menjadi melihat realita kehidupan yang sebenarnya. Oleh karena itu, Bapak-Ibu sekalian, saya titip," kata Pratikno dalam Konsolidasi Nasional Dikdasmen 2026 di PPSDM Kemendikdasmen, Depok, Senin, 9 Februari 2026.
 
Dia percaya dengan green time para siswa akan lebih peka terhadap persoalan nyata. Salah satunya perubahan iklim atau climate change.

Pratikno menyebut perubahan iklim telah membawa dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya hingga politik. Sehingga para murid perlu memiliki pemahaman mengenai langkah-langkah untuk menekan dampak tersebut sebagai bekal di masa depan.
 
"Ruang-ruang kelas di sekolah itu agar juga menjadi media pembelajaran dalam menghadapi climate change, perubahan iklim,” kata Pratikno.
 
Ia menyebut salah satu dampak nyata dari disrupsi itu adalah gagal panen (food loss) yang meningkatkan food waste. Hal itu dapat memengaruhi ketahanan pangan dalam negeri.
 
“Nah, mohon anak-anak bisa dilatih, jangan sampai meninggalkan food waste. Karena Bapak-Ibu sekalian, di Indonesia diperkirakan food loss dan food waste itu memboroskan 30 persen dari stok pangan kita. Food loss itu ketika pengolahan dari sawah banyak yang tercecer atau hilang, kemudian food waste ketika makan tidak dihabiskan dan disia-siakan. Jadi food waste itu masalah serius, membiasakan anak untuk tidak food waste, menyia-nyiakan makan," tutur dia. 
 
Pratikno mendorong dinas pendidikan dan satuan pendidikan di tiap daerah memainkan peran penting dalam mempersiapkan generasi penerus. Hal itu agar para siswa lebih sehat secara fisik, mental, emosional hingga sosial dalam menghadapi berbagai risiko akibat dari disrupsi perubahan iklim.
 
Dia mengatakan satuan pendidikan dapat mengurangi budaya screen time para murid yang dapat mencapai hingga 9 jam per hari menjadi aktivitas yang mengeksplorasi kondisi lingkungan. Termasuk berbagai aktivitas yang bertujuan untuk menjaga alam.
 
"Salah satunya ialah dengan mengubah budaya screen time menjadi green time dengan aktivitas memilah sampah ataupun menghabiskan bekal makanan masing-masing," ujar dia.
 
Terkait hal tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga mendorong penggunaan tumbler. Hal ini sudah dimulai dari kegiatan di Kemendikdasmen.
 
"Jadi kami mulai menyelengarakan namanya Green Meeting. Semua pakai tumbler, kita sediakan dispenser, tidak ada lagi minuman dalam kemasan plastik. Ini langsung menjawab apa yang menjadi arahan Pak Presiden (Prabowo Subianto) untuk kita mulai membangun budaya bersih, sadar lingkungan, dan juga mengurangi konsumsi yang menimbulkan banyak sampah, salah satunya sampah dari botol plastik," sebut Mendikdasmen Abdul Mu'ti.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan