Dirjen SDID Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, dokumentasi Ditjen SDID.
Dirjen SDID Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti, dokumentasi Ditjen SDID.

Program World Class Professor Perkuat Publikasi Nasional

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Intan Yunelia • 15 November 2018 18:37
Jakarta: Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menggelar Program World Class Professor (WCP). Program ini bertujuan untuk memperkuat kolaborasi antara dosen dalam negeri dengan profesor kelas dunia.
 
Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti (SDID), Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti menegaskan, profesor kelas dunia yang bergabung pada Program WCP tidak hanya berasal dari luar negeri. Namun juga profesor dalam negeri yang berkelas dunia, bahkan para diaspora yang telah sukses meniti karir di kampus terbaik dunia.
 
Tercatat, jumlah perguruan tinggi penyelenggara Program WCP tahun ini dibagi ke dalam dua skema. Skema A sebanyak sembilan universitas yang terdiri atas delapan PTN (UGM, UI, ITB, Unair, IPB, ITS UPI, Unsyiah) dan satu PTS (UII). Sementara untuk Program WCP Skema B sebanyak 21 Universitas, yang terdiri atas 15 PTN dan enam PTS.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saat ini, ada 23 negara yang terlibat pada program WCP," kataGhufron saat membuka Annual Seminar WCP, di Jakarta, Kamis, 15 November 2018.
 
Program WCP tahun ini, kata Ghufron, melampaui target Kemenristekdikti, yakni dari target 70 orang menjadi 115 orang. Dari jumlah tersebut, 67 orang mengikuti skema A dan 48 orang mengikuti WCP skema B.
 
Artinya sebanyak 10% dari total profesor kelas dunia tersebut telah memenuhi h-index Scopus lebih dari 10 publikasi. Sebab, imbuh dia, untuk mengikuti Program WCP Skema A, profesor yang bersangkutan harus memiliki h-index Scopus lebih dari atau sama dengan 20 publikasi.
 
Sedangkan untuk mengikuti Program WCP Skema B, profesor kelas dunia yang diundang harus memenuhi h-index Scopus lebih dari atau sama dengan 10 publikasi.
 
Annual Seminar World Class Professor sendiri menjadi ajang untuk mengevaluasi capaian Program WCP yang telah berlangsung dari bulan Mei 2018. Kendati demikian, kegiatan dan lama penelitian bergantung pada kesepakatan kedua belah pihak, yakni dari dua sampai dengan empat bulan.
 
Hingga saat ini, perkmbangan capaian publikasi yang telah di-monitoringoleh tim pakar WCP sebesar 60%.Sementara yang berstatus published sebanyak dua,revisedsebanyak empat,acceptedsebanyak satu,underreviewedsebanyak 20, dansubmittedsebanyak 35.
 
"Targetnya program ini bisa menghasilkan 115 publikasi," ujar Ghufron.
 
Baca:Kemenristekdikti Moratorium Izin Pendirian Prodi Ilmu Sosial
 
Selain publikasi, lanjut Ghufron, pihaknya kini juga mendorong peningkatan jumlah sitasi, inovasi dan hak paten. Oleh sebab itu, penting bagi setiap universitas untuk terhubung dengan industri dan masyarakat.
 
Isu masuknya dosen asing sempat menjadi polemik di kalangan akademisi Tanah Air. Hal ini segera ditanggapi dan diklarifikasi oleh Kemenristekdikti bahwa mengundang profesor dari luar negeri tidak semata-mata untuk menyaingi dosen Indonesia.
 
Sebaliknya, melalui Program World Class Professor (WCP) yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti, diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara dosen dalam negeri dan profesor kelas dunia.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi