Ilustrasi LPDP.
Ilustrasi LPDP.

Rekrutmen Reviewer LPDP Dinilai Sudah Bagus, Hanya Perlu Tegas Terhadap Pelanggar

Pendidikan pendidikan Beasiswa rasisme lpdp Beasiswa LPDP Kemendikbudristek Rektor ITK
Renatha Swasty, Citra Larasati • 05 Mei 2022 17:13
Jakarta: Rektor Universitas Widya Mataram, Edy Suandi Hamid, mengaku proses rekrutmen pewawancara/reviewer beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sudah bagus. Namun, Kementerian Pendidikan, Kebudyaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) diminta lebih tegas.
 
"Sudah bagus. Dulu saya juga pernah menjadi reviewer LPDP dan pola evaluasinya baik. Ini hanya kasus saja, tak harus mengubah sistem," kata Edy kepada Medcom.id, Kamis, 5 Mei 2022.
 
Edy menyebut kementerian perlu bersikap tegas. Utaman pada reviewer yang melanggar aturan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hanya perlu sikap tegas dan cepat manakala ada kasus yang jelas-jelas di luar standar yang ditetapkan dan melanggar prinsip-prinsip dasar rekrutmen," tutur mantan Ketua Forum Rektor Indonesia itu.
 
Pewawancara beasiswa LPDP terdiri atas akademisi, praktisi, profesional, dan psikolog. Mereka semua diseleksi berdasarkan pendaftaran ke LPDP.
 
Tiap tahun, LPDP membuka pendaftaran untuk reviewer LPDP bagi dosen perguruan tinggi negeri maupun swasta yang memenuhi kriteria. Sejumlah kriteria untuk pewawancara, yakni:
  1. Memiliki ijazah gelar Doktor dan/atau yang setara bagi calon pewawancara akademis
  2. Memiliki ijazah gelar Magister Psikologi dan sudah berprofesi psikolog bagi calon pewawancara psikolog Memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik
  3. Melampirkan surat rekomendasi sekurang-kurangnya dari dekan
  4. Mengisi Daftar Riwayat Hidup.
Sebelumnya, media sosial ramai membicarakan Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Budi Santosa Purwokartika. Tulisannya di media sosial dinilai menyinggung suku, agama, ras, antargolongan (SARA).
 
Dalam postingannya, Budi mengungkapkan mewawancarai mahasiswa yang akan berangkat ke luar negeri. Dia memuji kemampuan akademis maupun soft skills kandidat.
Namun, pada bagian akhir, dia memberi stigma bersifat SARA.
 
"Jadi, 12 mahasiswa yang saya wawancarai, tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun. Otaknya benar-benar open minded. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju seperti Korea, Eropa barat, dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi," tulis Budi.
 
Tulisan itu menuai banyak komentar. Budi dianggap menghakimi suatu golongan.
 
Baca: Kemendikbudristek Tegaskan Reviewer LPDP Diseleksi Ketat dan Dievaluasi
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif