"Yang tentu saja dapat menghambat penanganan pandemi secara keseluruhan," ujar Normah dalam konferensi internasional virtual yang digelar Universitas Terbuka, Kamis, 8 Juli 2021.
Normah menjelaskan, selama pandemi terdapat setidaknya 2.000 kekeliruan informasi atau disinformasi yang beredar di internet. Secara keseluruhan, disinformasi yang terjadi selama pandemi covid-19 terbagi menjadi tiga kategori, yakni yang berhubungan dengan kesehatan, teori konspirasi, dan penipuan.
Ia mencontohkan, disinformasi yang berhubungan kesehatan misalnya terkait desas-desus mengenai konsumsi bawang putih dapat mencegah terinfeksi covid 19. Kemudian, menghindari makanan pedas, konsumsi vitamin C, hingga mengonsumsi air seni sapi.
"Kategori kedua adalah teori konspirasi. Berdasarkan riset dari Pew Research Center sekitar 71 persen penduduk Amerika Serikat terpapar teori konspirasi mengenai virus covid-19,” tambah dia.
Baca: Bio Farma Targetkan Vaksin Merah Putih Bisa Diproduksi April 2022
Selanjutnya, pandemi covid-19 berdampak buruk pada perekonomian global dan menyebabkan jutaan orang menjadi pengangguran. Kondisi itu dimanfaatkan oleh penipu dalam melancarkan aksinya.
Dia menambahkan untuk mengatasi disinformasi itu perlu sejumlah langkah seperti deteksi dini terhadap disinformasi, cek fakta, kebijakan publik, multimodalitas, dan transparansi.
Pakar komunikasi dari Universitas Terbuka, D Sri Sediyaningsih mengatakan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ibarat dua sisi yang berlawanan. Satu sisi dapat mempermudah penyebaran informasi dan sisi lainnya juga menyebabkan banyak disinformasi yang tersebar di media sosial.
Sri menambahkan meski komunikasi terjadi di ruang maya, komunikasi harus tetap menerapkan prinsip komunikasi yakni dengan penuh cinta, sadar dan terkendali. “Apa yang disampaikan di media sosial merupakan cerminan dari sikap kita," ujar Sri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News