Dosen Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Nido Dipo Wardana. DOK Unair
Dosen Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Nido Dipo Wardana. DOK Unair

Sering Dibohongi Berkali-kali Tanpa Sebab? Kenali Fenomena Pembohong Patologis

Renatha Swasty • 06 April 2022 15:35
Jakarta: Pernakah Sobat Medcom mengenal seseorang atau dibohongi berkali-kali tanpa motif tertentu? Dalam psikologi, orang yang berbohong berkali-kali tanpa motif itu disebut pembohong patologis.
 
Dosen Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Nido Dipo Wardana menuturkan terdapat perbedaan pemahaman antara orang awam dan tokoh psikologi atau psikiatri terkait dengan fenomena satu ini.
 
“Yang penting untuk dipahami dari pembohong patologis adalah orang yang berbohong tapi tanpa ada sebab yang jelas kenapa mereka berbohong,” kata Nido dikutip dari laman unair.ac.id, Rabu, 6 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menuturkan fenomena pembohong patologis harus dibedakan dari bentuk-bentuk kebohongan lain yang sama-sama kronis. Namun, memiliki motif jelas di balik kebohongannya.
 
“Ada bentuk-bentuk pembohong kronis lainnya yang juga suka berbohong tapi motifnya bisa kita identifikasi,” ujar Nido.
 
Nido mengatakan penyebab seseorang menjadi pembohong patologis belum diketahui pasti. Lantaran fenomena itu belum mendapat banyak perhatian ilmiah.
 
Namun, dari sudut pandang biologis, Nido menjelaskan terdapat perbedaan cara kerja otak pada orang dengan kebiasaan berbohong patologis. Utamanya di bagian otak depan.
 
“Hal ini menyebabkan seorang pembohong patologis kurang mampu mengendalikan impuls (dorongan) untuk melakukan kebohongan,” ujar dia.
 
Dari sudut pandang psikologis, kata Nido, seseorang dengan kebiasaan berbohong patologis kerap kali ditemui pada individu yang memiliki harga diri rendah. “Kadang-kadang, konten kebohongan yang dia buat itu adalah bentuk dari semacam ideal self-nya,” beber Nido.
 
Seorang pembohong patologis tidak jarang mengalami stres dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu karena memiliki tuntutan untuk terus menyebarkan kebohongan lain untuk menjelaskan kebohongan yang dilakukan sebelumnya.
 
“Itu semacam rantai yang susah diubah sehingga secara komitmen memberatkan individu karena harus berpikir keras untuk fabricating informasi yang tidak benar,” ujar Nido.
 
Nido menyebut lantaran masih minimnya studi mengenai fenomena pembohong patologis, belum diketahui pasti apakah kondisi tersebut dapat dihilangkan atau tidak. Dia mengatakan perlu dipastikan terlebih dahulu apakah fenomena itu sama dengan gangguan kompulsif lainnya.
 
“Kalau misalnya kita tempatkan pembohong patologis di posisi yang sama dengan gangguan kompulsif, maka asumsinya adalah bisa dibantu untuk menghilangkan kebiasaan ini. Tentu saja dengan terapi serta mungkin nantinya bisa dikembangkan medikasi dan segala macam. Tetapi, untuk pastinya ini perlu riset yang mendalam lagi,” ujar Nido.
 
Nido mengatakan untuk menghadapi orang dengan sifat berbohong patologis tentu bukan perkara mudah. Nido menyarankan agar tidak menghadapi dengan konfrontasi penuh bila orang terdekat seperti teman atau bahkan pasangan merupakan pembohong patologis.
 
“Coba konfirmasi (informasi dalam kebohongannya) kemudian dibantu untuk melihat bahwa mereka sudah sering berbohong. Bisa diajak berpikir gimana (solusi) selanjutnya,” kata Nido.
 
Baca: Banyak yang Relate Lagu Hati-Hati di Jalan, Ini Manfaat Mendengar Lagu Galau
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif