Ilustrasi kesehatan mental. Pexel
Ilustrasi kesehatan mental. Pexel

Sedang di Fase Quarter Life Crisis? Begini Cara Hadapinya

Antara • 07 Juli 2022 15:33
Jakarta: Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Rita Pranawati mengatakan literasi yang kurang baik menyebabkan remaja maupun mahasiswa mengalami kerentanan mental. Hal itu bisa diatasi dengan sejumlah hal. 
 
“Kerentanan yang terjadi pada mahasiswa disebabkan literasi yang kurang baik, kurangnya pemahaman tentang agama dan nilai sosial yang berpotensi berdampak pada kualitas dan ketangguhan keluarga, pergaulan yang tidak selalu positif dan pengaruh buruk dunia maya,” ujar Rita dalam The Workshop Help Desk Series dengan tema “Kesiapan Mental Remaja dalam Menghadapi Realitas Semu Media Sosial dan Fase Quarter Life Crisis” dikutip dari Antara, Kamis, 7 Juli 2022. 
 
Rita menyebut pengguna media sosial harus dapat memahami nilai guna yang terkandung dalam unggahan media sosial. Dia menyebut media sosial kerap dijadikan ajang unjuk kebolehan diri dalam hidup seakan-akan keseluruhan yang ada di media sosial nyata. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Seringkali kondisi ini menimbulkan rasa rendah diri dan iri, sebab merasa tidak sebaik yang terlihat pada unggahan di media sosial, " ujar dia. 
 
Dia menyebut bila sikap membandingkan diri dengan yang terlihat di media sosial tidak dikelola dengan sehat maka dapat mendorong individu ke dalam kesulitan menghadapi fase quarter life crisis atau krisis seperempat abad.  
 
"Merasakan khawatir dan cemas mengenai kehidupannya di masa mendatang, merasa takut dengan hadirnya kegagalan, tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki, merasa tidak terlihat cukup baik seperti orang lain, merasa bimbang dengan segala pilihan hidup, dan meragukan setiap tindakan yang diambil, seringkali menyulitkan generasi muda keluar dari fase krisis seperempat abad," tutur dia. 
 
Psikolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indri Yunita Suryaputri, mengungkap cara mengatasi krisis seperempat abad. Yakni menjaga kesehatan serta mengenali diri dari kekurangan dengan menghilangkan pikiran negatif dan berpikir berlebihan.
 
Indri mengatakan perlu dukungan sosial dengan menemukan orang yang bisa dipercaya dan bisa diajak bicara. Kemudian, hindari orang yang berdampak negatif, meningkatkan modal diri secara keahlian maupun finansial, hindari media sosial, dan beragama.
 
Dekan FISIP Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka), Tellys Corliana, mengatakan workshop Help Desk merupakan bentuk komitmen FISIP Uhamka dalam memberi perhatian pada kesehatan mental mahasiswa. Workshop bertujuan agar mahasiswa dapat melewati fase krisis seperempat abad dengan mudah dan terkendali. 
 
"Dengan begitu, fase krisis seperempat abad itu tidak menimbulkan masalah gangguan kesehatan mental pada diri seseorang,” kata Tellys.
 
Baca juga: Mengenal Toxic Masculinity, Sejarah Hingga Dampak Terhadap Psikologis

 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif