Binus University. Foto: Binus
Binus University. Foto: Binus

Bahasa Inggris Saja Tak Cukup, Ini Modal Mahasiswa Bersaing di Level Global

Ilham Pratama Putra • 16 Oktober 2026 19:03
Ringkasnya gini..
  • Wakil Rektor BINUS Rini Setiowati menekankan bahwa mahir bahasa Inggris saja tidak cukup bagi mahasiswa untuk bersaing di kancah global.
  • Mahasiswa perlu mengimbangi kemampuan bahasa dengan skill komunikasi, negosiasi, rasa percaya diri, serta pemikiran yang terbuka.
  • BINUS University mendorong mahasiswa membangun portofolio, mengikuti kompetisi, dan mengambil pengalaman internasional sejak awal kuliah.
Jakarta: Menguasai bahasa Inggris penting bagi mahasiswa yang ingin bersaing di tingkat global. Namun, kemampuan bahasa asing saja tidak cukup.

"Jadi penting juga untuk diimbangi dengan keterampilan komunikasi, negosiasi, kepercayaan diri, dan pengalaman bekerja sama dengan orang dari berbagai negara," kata Vice-Rector for Collaboration & Global Engagement BINUS University, Rini Setiowati, melalui live TikTok Medcom.id dikutip Jumat, 16 Oktober 2026. 

Di samping itu, sebagai mahasiswa yang akan bersaing secara global, memiliki wawasan terbuka juga menjadi modal penting. Mahasiswa tidak boleh terlalu membatasi pandangan hanya pada lingkungan sendiri.

“Bahasa itu satu aspek penting, tapi kemampuan berkomunikasi, kemampuan bernegosiasi,” kata Rini. 

Menurut dia, ada orang yang memiliki kemampuan bahasa Inggris baik, tetapi masih kesulitan berkomunikasi secara efektif. Karena itu, mahasiswa perlu membangun keterampilan menyampaikan gagasan, berdiskusi, dan bernegosiasi agar dapat berpartisipasi dalam lingkungan internasional.  
WhatsApp Image 2026-10-16 at 12_42_45 PM
Binus University. Foto: Binus

Rini juga menilai sebagian lulusan Indonesia terkadang merasa kurang percaya diri ketika berhadapan dengan lulusan luar negeri. Kekhawatiran terhadap kemampuan bahasa dapat membuat mereka ragu menunjukkan kemampuan yang sebenarnya dimiliki.

Padahal, menurut dia, kemampuan berkomunikasi tidak harus ditentukan oleh aksen atau pelafalan yang sama dengan penutur asli. Hal yang penting adalah mahasiswa mampu menyampaikan gagasan dengan jelas dan terlibat dalam percakapan lintas budaya.

Selain bahasa dan komunikasi, mahasiswa perlu memperluas wawasan melalui berbagai kegiatan. Rini menyarankan mahasiswa mengikuti kompetisi dan membangun portofolio yang menunjukkan kemampuan mereka.

Sertifikasi yang diakui secara global juga dapat menjadi nilai tambah bagi mahasiswa. Pengalaman dan bukti kompetensi tersebut dapat membantu mereka menunjukkan kemampuan ketika bersaing untuk kesempatan akademik maupun profesional.

Rini mengatakan pengalaman internasional tidak harus selalu diperoleh dengan kuliah satu semester di luar negeri. Mahasiswa juga dapat belajar melalui perkuliahan bersama dosen tamu internasional atau mengerjakan proyek kelompok dengan mahasiswa dari universitas di negara lain. BINUS, misalnya, mendorong mahasiswa mendapat pengalaman internasional sejak semester awal melalui sejumlah kegiatan. Bentuknya antara lain diskusi dengan dosen tamu, proyek kolaborasi lintas negara, dan program yang mendorong mahasiswa bekerja sama dengan rekan dari latar belakang budaya berbeda.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berlatih menyelesaikan tugas bersama, berdiskusi, serta memahami cara kerja dan kebiasaan orang dari negara lain. Pengalaman ini dapat menjadi bekal untuk beradaptasi ketika memasuki lingkungan kerja yang semakin terhubung secara global.

Rini juga menekankan pentingnya mahasiswa aktif mengambil kesempatan yang disediakan kampus. "Pengalaman belajar, keterlibatan dalam kompetisi, dan portofolio perlu dibangun selama masa kuliah, bukan baru dipikirkan ketika lulus, jadi itu yang bisa mendukung para mahasiswa terlebih ketika sudah lulus dalam persaingan global," tutur dia.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan