Vice-Rector for Collaboration & Global Engagement BINUS University, Rini Setiowati, mengatakan mahasiswa yang mengikuti program pertukaran tersebut tetap perlu menyiapkan biaya lain. Misalnya untuk tiket pesawat dan akomodasi selama berada di negara tujuan.
“Dengan menjalin beberapa kerja sama dengan universitas-universitas di luar, tuition fee-nya enggak bayar. Jadi mereka hanya bayar pesawat, akomodasi, dan lain-lain,” kata Rini dalam Live TikTok Medcom.id dikutip Jumat, 16 Oktober 2026.
Rini mengatakan kesempatan belajar di luar negeri menjadi salah satu pengalaman yang bisa dimanfaatkan mahasiswa selama menempuh pendidikan tinggi. Bentuk programnya beragam, bergantung pada program studi dan kerja sama yang tersedia.
Ada program yang mewajibkan mahasiswa mengikuti pengalaman belajar di luar negeri. Namun, ada pula program yang tidak mewajibkan mahasiswa melakukan study abroad, meski peminatnya cukup besar.
Kuliah. Dok Unesa
Di samping itu, Rini mengatakan BINUS University terus berupaya memperluas kerja sama dengan universitas di kawasan Asia Pasifik. Langkah ini dilakukan untuk merespons minat mahasiswa yang ingin mengikuti program pertukaran ke negara-negara di kawasan tersebut.
Menurut dia, tujuan belajar mahasiswa kini tidak hanya berkutat pada negara-negara di Eropa, Amerika, atau Australia. "Kawasan Asia Pasifik juga menjadi tujuan yang semakin diminati," sambung dia.
Rini mengingatkan mahasiswa tidak hanya menjalani rutinitas kuliah tanpa memanfaatkan kesempatan yang tersedia. Pengalaman internasional dapat membantu mahasiswa belajar berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami budaya dari negara lain.
"Mahasiswa yang tertarik mengikuti program pertukaran perlu mencari informasi mengenai pilihan program, universitas mitra, persyaratan akademik, serta komponen biaya yang harus ditanggung. Informasi ini penting agar mahasiswa dapat mempersiapkan diri sebelum mendaftar," kata dia.
Perluasan kemitraan dengan universitas luar negeri menjadi salah satu hal yang ingin dijajaki BINUS dalam QS Higher Education Summit: Asia Pacific pada 3-5 November 2026 di Bali. Forum tersebut akan mempertemukan pimpinan perguruan tinggi dan berbagai pemangku kepentingan pendidikan tinggi dari kawasan Asia Pasifik.
"Pertemuan itu membuka peluang kerja sama yang dapat memberikan manfaat langsung bagi mahasiswa," ujar dia.