Ketua Dewan Kehormatan AJBI, Fasli Jalal. Foto: Talitha Islamey/Medcom.id
Ketua Dewan Kehormatan AJBI, Fasli Jalal. Foto: Talitha Islamey/Medcom.id

Beasiswa Tak Cukup Bayar Kuliah, Awardee Juga Perlu Pendampingan Persiapan Kerja

Ilham Pratama Putra • 15 Oktober 2026 15:57
Ringkasnya gini..
  • Fasli Jalal menilai keberhasilan beasiswa tidak cukup diukur dari jumlah penerima dan dana yang disalurkan.
  • Penerima beasiswa perlu mendapat pendampingan, mentoring, pengalaman praktik, dan persiapan memasuki dunia kerja.
  • Program beasiswa perlu terhubung dengan pengembangan kompetensi dan pembelajaran sepanjang hayat.
Jakarta: Keberhasilan beasiswa tidak cukup diukur dari jumlah penerima dan besarnya dana yang disalurkan. Penerima beasiswa juga perlu mendapat pendampingan untuk mengembangkan kompetensi hingga mempersiapkan diri memasuki dunia kerja.

Ketua Dewan Kehormatan Asosiasi Jaringan Beasiswa Indonesia (AJBI), Fasli Jalal, mengatakan beasiswa perlu dipandang sebagai investasi strategis dalam pembangunan manusia. Bukan sekadar bantuan pembiayaan pendidikan.

“Seorang yang memperoleh beasiswa tidak cukup hanya dibantu sampai memperoleh ijazah. Ia memerlukan pendampingan, ia memerlukan mentoring, pengembangan kompetensi, pengalaman praktik, jejaring profesional, dan persiapan untuk memasuki dunia kerja dan menciptakan lapangan kerja itu sendiri,” kata Fasli dalam Global Scholarship Summit 2026, Kamis 15 Oktober 2026. Menurut Fasli, pengembangan talenta tersebut tidak bisa hanya mengandalkan pendidikan formal dan akademik. Penerima beasiswa juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, kepemimpinan, dan integritas.

Kemampuan beradaptasi juga semakin penting. Sebab perubahan dunia kerja saat ini juga terdisrupsi perkembangan kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, otomasi, bioteknologi, hingga transisi energi dan perubahan iklim.

Karena itu, Fasli menekankan pentingnya konsep lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat. Pengembangan kompetensi perlu terus berlangsung setelah penerima beasiswa menyelesaikan pendidikan formalnya.
Ilustrasi Kuliah_ Medcom
Ilustrasi. Dok Medcom

“Ekosistem beasiswa perlu menghubungkan antara pendidikan, pengembangan kapasitas, dunia usaha dan industri, kewirausahaan, dan pembelajaran sepanjang hayat,” ujarnya.

Fasli juga mengingatkan pengembangan talenta tidak boleh hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja pada masa depan. Talenta Indonesia perlu dipersiapkan untuk berkontribusi di berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, pertanian, industri, penelitian, seni, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.

Di samping itu, Fasli menilai ukuran keberhasilan program beasiswa perlu diperluas. Jumlah penerima, besaran dana yang disalurkan, dan jumlah lulusan memang penting, tetapi belum cukup menggambarkan dampak program.

Penyelenggara beasiswa juga perlu melihat sejauh mana program tersebut meningkatkan kualitas manusia. Termasuk memperkuat produktivitas, menghasilkan inovasi, mendorong hilirisasi, dan meningkatkan mobilitas sosial.

Menurut Fasli, beasiswa juga berperan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi mereka. Ketika anak dari keluarga kurang mampu memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan, manfaatnya berpotensi dirasakan keluarga dan generasi berikutnya.

"Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga filantropi, dan institusi pendidikan diperlukan untuk memperkuat pengembangan penerima beasiswa," pungkasnya. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan