Alam semesta memiliki cara yang menakjubkan untuk menciptakan keseimbangan. Dalam rantai makanan, kecepatan sering kali menjadi penentu antara hidup dan mati. Bagi predator, kecepatan adalah alat untuk mendapatkan mangsa.
Bagi mangsa, kecepatan adalah satu-satunya tiket untuk bertahan hidup. Namun, tahukah Sobat Medcom bahwa gelar "tercepat" tidak hanya milik satu spesies saja? Bergantung pada ekosistemnya, apakah itu di atas tanah, di kedalaman samudra, atau di angkasa luas, alam memiliki sang juaranya masing-masing.
Hewan-hewan yang tercepat di Dunia (darat, udara, air)
Berikut adalah hewan-hewan yang tercepat di dunia:Elang Peregrine
.jpg)
(Pregrine Falcon. dok. Wildlife Science Center)
Saat terbang mendatar, burung ini mungkin tidak terlihat istimewa dibandingkan burung pemangsa lainnya. Namun, saat ia melakukan teknik berburu yang disebut stoop (menukik tajam dari ketinggian), kecepatannya bisa mencapai lebih dari 380 km/jam. Sebagai perbandingan, kecepatan ini setara dengan mobil Formula 1 atau kereta cepat.
Elang Peregrine memiliki struktur tulang hidung yang unik yang disebut tubercles. Struktur ini berfungsi mengalihkan tekanan udara yang sangat kuat agar tidak merusak paru-paru burung saat ia bernapas dalam kecepatan tinggi. Selain itu, matanya memiliki selaput pelindung khusus yang menjaga penglihatannya tetap tajam meski diterpa angin kencang.
Cheetah
.jpg)
(Cheetaah dok. safariventures)
Di daratan, tidak ada yang bisa menandingi akselerasi dan kecepatan Cheetah (Acinonyx jubatus). Kucing besar asal Afrika ini adalah simbol dari efisiensi mekanis tubuh biologis. Cheetah mampu berlari dari 0 hingga 96 km/jam hanya dalam waktu 3 detik.
Kecepatan puncaknya berada di angka 110 hingga 120 km/jam. Namun, Cheetah bukanlah pelari maraton, ia adalah pelari sprint. Ia hanya mampu mempertahankan kecepatan ini dalam jarak sekitar 500 meter sebelum tubuhnya mengalami overheat (kepanasan).
Cheetah tubuh yang aerodinamis, tubuh Cheetah dirancang khusus untuk kecepatan. Hewan ini memiliki tulang belakang fleksibel, bertindak seperti pegas yang memberikan dorongan ekstra pada setiap langkah.
Selain itu, Cheetah juga memiliki cakar yang tidak bisa ditarik masuk. Berfungsi seperti paku pada sepatu lari atlet lari gawang, memberikan cengkeraman maksimal pada tanah.
Ekor panjang pada cheetah berfungsi sebagai kemudi atau penyeimbang ketika melakukan manuver berbelok tajam di tengah kecepatan tinggi mengejar mangsa.
| Baca juga: Kenapa Buaya Tidak Memakan Kapibara? Ternyata Ini Alasannya |
Pronghorn Antelope
.jpg)
(Pronghorn dok. NPS)
Jika Cheetah adalah pelari sprint yang mematikan, maka Pronghorn Antelope (Antilocapra americana) adalah pelari jarak jauh yang tak terkalahkan. Meskipun menempati posisi kedua sebagai hewan darat tercepat setelah Cheetah, banyak ahli biologi menganggap Pronghorn lebih impresif karena kemampuannya mempertahankan kecepatan tinggi dalam waktu yang sangat lama.
Pronghorn dapat berlari dengan kecepatan puncak mencapai 88–90 km/jam. Namun, yang membuatnya unik adalah ketahanannya, yaitu mampu berlari sejauh 6 kilometer dengan kecepatan stabil 56 km/jam.
Pronghorn juga bisa menempuh jarak 1,6 kilometer dengan kecepatan konstan 72 km/jam. Sebagai perbandingan, Cheetah akan mengalami gagal jantung atau overheat jika dipaksa berlari dengan kecepatan puncaknya lebih dari beberapa ratus meter
Ikan Layaran (Sailfish) dan Marlin
.jpg)
(Sailfish dok. centralamericafishing)
Bergerak cepat di dalam air jauh lebih sulit daripada di udara karena hambatan air atau densitas jauh lebih besar. Namun, evolusi telah menciptakan Ikan Layaran dan Black Marlin sebagai mesin balap bawah air.
Ikan Layaran tercatat mampu berenang hingga kecepatan 110 km/jam. Ikan ini memiliki sirip punggung besar berbentuk layar yang bisa dilipat untuk mengurangi hambatan saat ia melakukan serangan kilat.
Selain Ikan Layaran, Black Marlin (Istiompax indica) juga merupakan pemegang rekor kecepatan di lautan. Ikan raksasa ini memiliki catatan kecepatan yang serupa, bahkan ada klaim yang menyebutkan bisa mencapai 130 km/jam dalam ledakan singkat.
Kemampuan ini menjadikannya salah satu predator puncak di lautan dan buruan paling menantang bagi para pemancing profesional yang ingin menguji kemampuan kecepatan dan kekuatan.
Baik Ikan Layaran maupun Black Marlin memiliki moncong panjang dan runcing yang berfungsi untuk membelah air, meminimalkan gesekan dan turbulensi. Tubuh mereka yang berotot kuat memberikan tenaga dorong yang luar biasa melalui gerakan ekor yang sangat cepat dan efisien, membuat mereka seperti torpedo hidup di dalam air.
Burung Swift

Meskipun Elang Peregrine adalah raja penukik, ada burung lain yang patut diperhitungkan untuk kecepatan terbang mendatar. Burung Swift (terutama Common Swift atau White-throated Needletail) adalah juara dalam kategori ini.
Burung ini dikenal mampu terbang dengan kecepatan horizontal yang sangat tinggi, mencapai 110 km/jam secara konsisten. Beberapa spesies Swift, seperti White-throated Needletail Swift, bahkan tercatat bisa mencapai 170 km/jam saat terbang mendatar. Mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya di udara, bahkan makan dan tidur sambil terbang, menjadikan kecepatan adalah gaya hidup.
Tubuh Burung Swift sangat ramping dengan sayap panjang dan melengkung yang dirancang untuk efisiensi aerodinamis. Otot-otot terbangnya sangat kuat, memungkinkan mereka melakukan manuver cepat dan mempertahankan kecepatan tinggi untuk waktu yang lama, jauh melampaui kemampuan burung-burung kecil lainnya.
Alasan Mereka Cepat
Kecepatan luar biasa ini bukan sekadar pamer kekuatan, melainkan hasil dari adaptasi jutaan tahun yang krusial untuk bertahan hidup.Bagi Elang Peregrine, Burung Swift, Cheetah, Ikan Layaran, atau Black Marlin, kecepatan adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan mangsa yang juga gesit. Di padang rumput yang terbuka tanpa tempat bersembunyi, atau di lautan luas, satu-satunya cara untuk makan adalah dengan menjadi lebih cepat daripada target. Tanpa kecepatan, mereka akan kelaparan.
Adapun risiko hewan-hewan yang memiliki kecepatan tinggi tersebut adalah risiko cedera yang tinggi dalam kecepatan 100 km/jam, kesalahan kecil saat menapakkan kaki bisa berakibat patah tulang bagi Cheetah. Burung yang menukik cepat juga berisiko tinggi jika salah perhitungan.
Selain itu, mereka juga berpotensi mengalami kelelahan yang ekstrem. Contohnya seperti cheetah. Setelah melakukan sprint mematikan, cheetah membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk memulihkan napas, menstabilkan detak jantung, dan mendinginkan suhu tubuhnya sebelum ia bisa benar-benar memakan mangsanya. Pada saat inilah ia paling rentan terhadap predator lain yang lebih besar.
Hewan-hewan tercepat yang telah disebutkan di atas biasanya memiliki sistem pernapasan dan jantung yang jauh lebih besar dan kuat dibanding hewan seukurannya untuk menyuplai oksigen ke otot secara kilat. Ini berarti mereka juga membutuhkan asupan energi (makanan) yang jauh lebih banyak.
Dari Elang Peregrine yang menembus batas kecepatan udara, Burung Swift yang melesat di ketinggian, hingga Cheetah yang melaju bak peluru di sabana, atau Ikan Layaran dan Black Marlin yang torpedo hidup di lautan, sampai Pronghorn Antelope, mereka semua mengingatkan kita bahwa alam memiliki cara unik untuk beradaptasi demi kelangsungan hidup. Kecepatan bukan hanya soal angka di atas kertas, melainkan perpaduan harmonis antara kekuatan, anatomi, dan insting bertahan hidup yang luar biasa.
(Fany Wirda Putri)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News