Seremonial Pembukaan FESyar Jawa 2026. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Seremonial Pembukaan FESyar Jawa 2026. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

FESyar Jawa 2026 Bukan Sekadar Festival, BI Dorong UMKM dan Pesantren Naik Kelas

Ilham Pratama Putra • 28 September 2026 12:56
Ringkasnya gini..
  • BI mendorong FESyar Jawa 2026 menghasilkan dampak nyata bagi UMKM dan pesantren, bukan sekadar festival atau kegiatan seremonial.
  • Penguatan dilakukan melalui pendampingan usaha, sertifikasi halal, akses pembiayaan, perluasan pasar, hingga pengembangan jejaring bisnis.
  • Rezti’s Batik Jember dan usaha melon Pesantren Hamalatul Qur’an menjadi contoh dampak pendampingan BI terhadap pengembangan ekonomi usaha.
Surabaya: Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa 2026 tidak hanya menjadi ajang memamerkan produk usaha halal. Bank Indonesia (BI) mendorong gelaran tersebut menjadi ruang yang mempertemukan pelaku UMKM dan pesantren dengan pasar, pembiayaan, serta jejaring usaha agar mampu berkembang dan naik kelas.
 
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan FESyar harus menghasilkan dampak yang dapat ditindaklanjuti, bukan berhenti sebagai kegiatan seremonial. Menurut dia, pengembangan ekonomi syariah perlu diarahkan pada penguatan pelaku usaha sekaligus membuka akses mereka terhadap pembiayaan dan pasar.
 
“FESyar jangan hanya sekadar event. Harus ada impact, harus ada follow up,” kata Destry dalam sambutannya pada FESyar Jawa 2026 di Surabaya.
 
Destry mengatakan salah satu persoalan yang masih dihadapi pelaku UMKM ialah akses terhadap pembiayaan formal. Banyak pelaku usaha sebenarnya memiliki produk dan kemampuan produksi, tetapi belum memenuhi aspek administratif seperti pencatatan dan laporan keuangan sehingga sulit dinilai layak oleh lembaga keuangan. Karena itu, menurut Destry, pendampingan UMKM tidak cukup hanya dengan membantu meningkatkan produksi atau kualitas produk. Pelaku usaha juga perlu dibekali kemampuan mengelola usaha dan menyusun laporan keuangan agar lebih siap mengakses pembiayaan.
 
“Banyak UMKM kita yang sebenarnya bisa produksi, tapi karena dia tidak punya financial statement, dia tidak bankable,” ujar dia.
 
WhatsApp Image 2026-09-26 at 5_27_22 PM
Paviliun Bank Indonesia di FESyar Jawa 2026. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Dorong Ekonomi Syariah Lebih Inklusif

Destry juga menekankan ekonomi syariah tidak seharusnya dipandang sebagai sektor yang hanya diperuntukkan bagi masyarakat muslim. Menurut dia, prinsip ekonomi syariah seperti inklusivitas, keberlanjutan, dan keadilan dapat diterapkan secara lebih luas.
 
Hal itu juga tercermin dari perkembangan industri halal yang memiliki pasar global. Indonesia saat ini berada di peringkat keempat dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026, dengan posisi kuat antara lain pada sektor modest fashion, pariwisata ramah muslim, dan makanan halal.
 
Namun, potensi tersebut perlu diikuti dengan penguatan ekosistem, termasuk variasi produk pembiayaan syariah dan akses terhadap layanan keuangan. Destry menyebut tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah masih memiliki kesenjangan sehingga pengembangan produk dan akses menjadi pekerjaan penting.
 
Di sinilah FESyar ditempatkan sebagai salah satu ruang untuk mempertemukan berbagai unsur dalam ekosistem tersebut, mulai dari pelaku UMKM, pesantren, lembaga keuangan hingga calon pembeli.

Dari Ekosistem hingga Akses Pembiayaan

Kepala Perwakilan BI Jawa Timur Ibrahim mengatakan pengembangan ekonomi syariah saat ini tidak lagi cukup dipandang sebagai potensi. Menurut dia, ekonomi syariah perlu dibangun sebagai ekosistem yang mampu menggerakkan sektor riil, memperluas pembiayaan, serta meningkatkan kapasitas UMKM dan pesantren.
 
“Ekonomi syariah ini bukan lagi hanya potensi, tetapi sudah menjadi ekosistem dan menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi,” kata Ibrahim.
 
Jawa, lanjut Ibrahim, memiliki modal besar untuk mengembangkan ekosistem tersebut. Selain menjadi wilayah dengan basis ekonomi dan industri yang kuat, Jawa memiliki pasar yang luas serta jaringan pesantren dan pendidikan Islam yang dapat menjadi bagian dari penggerak ekonomi syariah.
 
Khusus Jawa Timur, Ibrahim menyebut lebih dari 97 persen penduduknya beragama Islam. Wilayah ini juga memiliki lebih dari 7.000 pesantren dengan jumlah santri mencapai lebih dari 600 ribu orang.
 
Potensi tersebut kemudian diterjemahkan BI melalui berbagai bentuk pendampingan, mulai dari penguatan usaha pesantren, sertifikasi halal, peningkatan kapasitas pelaku UMKM hingga membuka akses pasar dan pembiayaan.
 
BI juga mendorong pengembangan ekonomi pesantren agar tidak hanya menjadi lembaga pendidikan dan sosial, tetapi memiliki unit usaha yang produktif dan mampu menopang kemandirian pesantren.
 
“Pesantren itu tidak hanya menjadi tempat pendidikan, tetapi juga bisa menjadi pusat kegiatan ekonomi yang produktif,” ujar dia.
 
Dalam FESyar Jawa 2026, pendekatan tersebut antara lain diwujudkan melalui program penguatan pasar halal, pengembangan Zona Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS), pemanfaatan wakaf produktif untuk pendidikan, serta inovasi pembiayaan bagi sektor yang berkaitan dengan pesantren dan madrasah.
 
Dengan demikian, FESyar tidak hanya mempertemukan penjual dan pembeli. BI berupaya membangun rantai yang lebih panjang, mulai dari peningkatan kapasitas pelaku usaha, sertifikasi, produksi, pembiayaan hingga akses pasar.

Kemajuan Batik Jember hingga Melon Pesantren

 Upaya tersebut terlihat dari kehadiran pelaku UMKM yang telah mendapat pendampingan BI. Salah satunya Lestari Kusumawati, pemilik Rezti’s Batik Jember.
 
Lestari mengembangkan usaha batik sejak 2012. Awalnya, usaha tersebut tumbuh secara perlahan karena batik belum menjadi produk yang banyak dikenal di Jember. Ia kemudian mendapatkan berbagai pelatihan, termasuk pendampingan dari BI.
 
“Setelah kita dibina BI, banyak sekali ilmu yang kita dapat. Kemudian kita bisa networking dengan UKM-UKM lain, IKM lain, sehingga kita lebih termotivasi untuk meningkatkan usaha,” kata Lestari.
 
WhatsApp Image 2026-09-26 at 5_27_06 PM
Owner Rezti’s Batik, Lestari Kusumawati. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Rezti’s Batik kini tidak hanya memproduksi kain batik. Produk yang dihasilkan juga dikembangkan menjadi pakaian, selendang, hingga udeng. Usaha tersebut juga telah mengantongi sertifikasi halal, Batikmark untuk produk batik tulis dan cap, serta sertifikat industri hijau.
 
Pendampingan BI, menurut Lestari, turut membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat dan memperkuat branding produknya. Ia memperkirakan omzet usahanya meningkat sekitar 40 persen dibandingkan sebelum mendapatkan pendampingan.
 
Selain mengembangkan produk, Lestari juga melibatkan masyarakat dalam proses produksinya. Ia memberdayakan ibu rumah tangga, anak muda kreatif, hingga penyandang disabilitas.
 
Usaha batik tersebut bahkan berkembang menjadi sarana edukasi. Sejak 2014, Lestari membuka kegiatan edukasi batik yang kemudian berkembang menjadi salah satu tujuan wisata edukasi di Jember.
 
Model pengembangan ekonomi juga diterapkan di lingkungan pesantren. Salah satunya dilakukan Hamalatul Qur’an Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, melalui pengembangan budidaya melon.
 
Aazimuddin dari unit pengembangan ekonomi pesantren mengatakan budidaya melon dikembangkan setelah mendapat dukungan BI. Pesantren memperoleh fasilitas greenhouse sekaligus pendampingan dan pelatihan budidaya.
 
“BI memberikan greenhouse, kemudian kita juga diberikan pembelajaran. Kita dikirim untuk belajar selama dua minggu tentang bagaimana membudidayakan melon,” kata Aazimuddin.
 
WhatsApp Image 2026-09-26 at 5_26_39 PM
Pengurus Ekopontren Hamalatul Qur’an Aazimuddin. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
 
Greenhouse tersebut memiliki luas sekitar 500 meter persegi dan dapat menampung sekitar 1.000 tanaman melon. Pesantren mengembangkan varietas premium seperti lavender dan honey globe untuk dipasarkan ke sejumlah saluran.
 
Hasil panen dijual ke supermarket, melalui penjualan langsung saat masa panen, serta dikirim kepada reseller dan supermarket di Bandung. Harga di tingkat kebun sekitar Rp35 ribu per kilogram, sedangkan harga di supermarket atau kegiatan pameran dapat mencapai Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.
 
Dari satu kali panen, unit usaha pesantren dapat menghasilkan keuntungan bersih sekitar Rp35 juta hingga Rp50 juta, dengan kondisi tertentu minimal sekitar Rp25 juta. Keuntungan tersebut kemudian digunakan untuk mendukung operasional pesantren, termasuk beasiswa dan kebutuhan pengajar.
 
Pengembangan usaha juga sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi santri. Setiap Sabtu, para santri mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai proses budidaya dan pengelolaan pertanian.
 

FESyar Jadi Ruang Memperluas Jejaring

Bagi Aazimuddin, keikutsertaan dalam FESyar Jawa 2026 bukan hanya soal menjual produk. Ajang tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan model ekonomi pesantren sekaligus membuka hubungan dengan pihak lain yang tertarik mengembangkan usaha serupa.
 
“Manfaatnya tentu promosi, kemudian sharing, bagaimana mengembangkan ekonomi pesantren. Kita juga mendapatkan relasi-relasi baru,” ujarnya.
 
Hal serupa menjadi bagian dari tujuan BI dalam mengembangkan ekonomi syariah. FESyar diarahkan untuk mempertemukan pelaku usaha dengan pasar dan lembaga keuangan, sekaligus mendorong peningkatan kapasitas agar usaha yang dibangun tidak berhenti pada produksi.
 
Dengan pendekatan tersebut, ekonomi syariah tidak hanya ditampilkan melalui produk yang dipamerkan selama festival. Lebih jauh, FESyar menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem yang membuat UMKM dan pesantren memiliki kapasitas usaha, akses pembiayaan, pasar, serta jejaring yang lebih kuat. 

Jejak FESyar dalam Ekosistem Ekonomi Syariah

Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Rifki Ismal mengatakan FESyar Jawa merupakan bagian dari struktur pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang dilakukan secara berjenjang. Pengembangan tersebut tidak hanya berlangsung di tingkat nasional, tetapi juga regional hingga provinsi dan kabupaten/kota.
 
Menurut Rifki, FESyar menggabungkan berbagai inisiatif pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Mulai dari halal food, modest fashion, pariwisata ramah muslim hingga sektor keuangan dan keuangan sosial Islam.
 
“FESyar ini, sebagaimana ISEF secara nasional, menggabungkan semua inisiatif pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional,” kata Rifki.
 
WhatsApp Image 2026-09-26 at 5_25_55 PM
Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Rifki Ismal. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

 
BI menggelar FESyar sejak 2019 dengan pembagian wilayah Sumatera, Jawa, serta Kawasan Timur Indonesia. Selain itu, ada juga rangkaian Road to FESyar di tingkat provinsi atau daerah, sedangkan pada tingkat nasional terdapat Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF).
 
Struktur tersebut dibuat agar pengembangan ekonomi syariah dapat berjalan dari tingkat pusat hingga daerah. Pelaksanaan tahunan sekaligus menjadi momentum untuk memantau capaian, mengevaluasi program, serta menyesuaikan target pengembangan ekonomi syariah untuk tahun berikutnya.
 
“Karena kita sudah punya program pencapaian dalam target lima tahunan, kita sudah punya planning, ada target-target tahunan. Jadi kita ingin memonitor seberapa capaiannya tahun ini, harus evaluasi enggak untuk tahun depan, harus ada capaian-capaian baru,” ujar dia.
 
Di samping itu, Rifki mengatakan pengembangan ekonomi pesantren menjadi salah satu bagian penting karena pesantren merupakan bagian dari rantai nilai halal. BI mendorong unit-unit usaha di pesantren tidak hanya menopang kemandirian lembaga, tetapi juga memberikan dampak kepada masyarakat di sekitarnya.
 
“Kenapa BI mengembangkan usaha halal di pesantren? Pertama, untuk mendorong kemandirian ekonomi pesantren. Kedua, akan mengembangkan masyarakat penduduk sekitar, termasuk di wilayah-wilayah di mana pesantren itu berdiri,” jelasnya.
 
Untuk memperkuat unit usaha pesantren, BI turut membina Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (Hebitren). Organisasi tersebut menjadi wadah bagi pesantren yang memiliki unit usaha untuk mendapatkan pembinaan, mulai dari peningkatan kualitas dan standar produk, pengemasan hingga perluasan akses pasar, termasuk pasar ekspor.
 
“Pesantren-pesantren yang punya unit usaha itu dibina. Yang dibina apa? Kualitas produknya, standar produknya, dibuka pasar ekspor, pengemasannya,” kata Rifki.
 
Hebitren telah berjalan selama delapan tahun. Produk-produk pesantren yang ditampilkan dalam FESyar Jawa 2026 antara lain merupakan produk dari pesantren yang masuk dalam ekosistem pembinaan tersebut.
 
Dengan pola tersebut, FESyar Jawa 2026 menjadi salah satu bagian dari upaya BI membangun ekosistem ekonomi syariah yang terhubung dari tingkat daerah hingga nasional. Penguatan kapasitas UMKM dan pesantren, akses pembiayaan, perluasan pasar hingga peluang ekspor menjadi rangkaian yang diarahkan agar ekonomi syariah tidak berhenti pada potensi, tetapi menghasilkan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
 
FESyar Jawa 2026 berlangsung pada 25-27 September 2026 di Surabaya dengan mengusung tema “Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi dan Keuangan Syariah Regional Berkelanjutan melalui Sinergi dan Transformasi Digital”. Gelaran ini menjadi bagian dari rangkaian menuju Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2026.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan