Guru sedang mengajar di muka kelas, MI/Panca Syurkani.
Guru sedang mengajar di muka kelas, MI/Panca Syurkani.

Asesmen Nasional Hilangkan Persaingan Antarsekolah

Pendidikan Ujian Nasional Kebijakan pendidikan Asesmen Kompetensi Minimum
Ilham Pratama Putra • 04 November 2020 17:02
Jakarta:  Evaluasi pendidikan berskala nasional yang dulu dilaksanakan melalui Ujian Nasional (UN) bakal digantikan oleh Asesmen Nasional (AN) pada 2021 mendatang. Munculnya AN diyakini akan menghilangkan persaingan antarsekolah yang dulu kerap menjadikan nilai UN sebagai tolok ukur keberhasilan sekolah.
 
Ketua Yayasan Guru Belajar, Bukik Setiawan mengatakan, yang dilihat dari AN bukanlah nilai individual siswa seperti UN. Melainkan menilai proses belajar keseluruhan yang terjadi di sekolah melalui berdasarkan tiga komponen, yaitu Asesmen Kompentensi Minimum (AKM), Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar.
 
Dengan begitu, sekolah tak akan lagi berpacu nilai siswa. Namun sekolah yang baik adalah sekolah yang peserta didiknya bisa melampaui kompetensi AN berdasarkan capaian tahun-tahun sebelumnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dalam konteks ini yang dikejar bukan persaingan sekolah dengan daerah lain, yang dikejar adalah persaingan dengan diri kita sendiri seberapa baik dari tahun ke tahun," kata Bukik dalam Webinar Jurus Jitu Lulus AN: Bagaimana Seharusnya Guru dan Kepala Sekolah menyikapi AN, Selasa, 3 November 2020.
 
Baca juga:  Gaya Belajar Harus Diubah untuk Optimalkan Hasil Asesmen Nasional
 
Dengan AN,  sekolah akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa untuk meningkatkan kompetensi peserta didik. Sebab, jika tidak mendapatkan manfaat tersebut, maka sama saja sekolah tidak membuat siswa berkembang.
 
"Apa ukurannya kita sebagai sekolah, madrasah atau daerah mendapatkan manfaat AN, untuk mengukurnya adalah kalau capaian AN tahun 2022 itu lebih baik daripada capaian AN 2021, bila lebih baik itu artinya lulus, kenapa? karena bisa menggunakan informasi AN 2021 sebagai perbaikan pembelajaran selama setahun ke depan, itu artinya lulus," terang Bukik.
 
Jika sekolah tidak bisa meningkatkan capaian AN dari tahun sebelumnya, maka pembelajaran dirasa percuma. Dia meminta agar guru dan sekolah memulai merancang asesmen untuk para siswa.
 
"Kalau enggak naik capaian AN, ya keterlaluan, sudah ada anggaran, program, input dan masukan tentang kualitas pembelajaran di daerah kita, mubazir, buat apa dananya. Oleh karena itu kita perlu berkomitmen untuk memanfaatkan sebaik mungkin AN," tutup dia.

 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif