“Sebesar 34 persen angkatan kerja masih lulusan SD ke bawah,” ujar Rerie dalam Diskusi Denpasar 12, Rabu 6 Mei 2026.
Menurutnya hal ini berkaitan dengan masalah akses pendidikan. Semakin tinggi jenjang pendidikan, kata dia, aksesnya semakin sempit.
"Akses pendidikan tinggi masih tergolong rendah. Hanya sebagian kecil masyarakat yang memiliki kesempatan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Hanya 13 persen yang memiliki kesempatan mendapatkan pendidikan tinggi,” katanya.
| Baca juga: 1,01 Juta Sarjana Nganggur, Rerie: Kesesuaian Pasar Kerja Tak Bisa Ditunda Lagi! |
Kondisi tersebut, kata Rerie, dinilai menjadi tantangan besar bagi pembangunan sumber daya manusia. Rendahnya tingkat pendidikan berpotensi memengaruhi daya saing nasional.
“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” tegasnya.
Rerie menilai perlu ada langkah strategis untuk meningkatkan akses pendidikan. Pemerintah dan pemangku kepentingan harus menyusun kebijakan yang lebih inklusif.
“Kita perlu menyusun langkah untuk menjawab permasalahan ini,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemerataan pendidikan di seluruh wilayah. Ketimpangan akses pendidikan masih menjadi isu yang perlu diselesaikan.
“Dan masalah pemerataan akses ini harus kita pahami secara utuh,” ungkapnya.
Menurutnya, peningkatan kualitas dan akses pendidikan harus berjalan beriringan. Hal ini penting untuk memastikan semua lapisan masyarakat memiliki peluang yang sama di dunia kerja.
| Baca juga: Rerie: Institusi Pendidikan Harus Mampu Bangun Kepekaan Sosial Masyarakat |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News