Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara Berkolaborasi dengan Tiongkok di Bidang Riset. Dok. Kementerian Transmigrasi
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara Berkolaborasi dengan Tiongkok di Bidang Riset. Dok. Kementerian Transmigrasi

Indonesia Jajaki Riset dengan Kampus Tiongkok, Bidik Pertanian-Industri

Ilham Pratama Putra • 12 Oktober 2026 12:51
Ringkasnya gini..
  • Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman menjajaki kolaborasi riset dan pengembangan SDM dengan sejumlah perguruan tinggi di Tiongkok.
  • Pemerintah fokus mendorong hilirisasi komoditas unggulan transmigrasi seperti durian, kelapa, dan kopi agar bernilai tambah tinggi.
  • Kunjungan ini juga mencakup kerja sama teknologi produksi pertanian modern serta revitalisasi ekonomi pedesaan di Indonesia.
Jakarta: Pemerintah Indonesia menjajaki peluang kolaborasi riset dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) dengan perguruan tinggi Tiongkok. Kerja sama ini diarahkan untuk menghasilkan penelitian terapan yang dapat mendukung pengembangan kawasan transmigrasi, mulai dari peningkatan produktivitas pertanian hingga pengembangan industri pengolahan.

Penjajakan tersebut menjadi salah satu agenda Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara di Tiongkok. Dalam kunjungan itu, Iftitah dijadwalkan memberikan kuliah umum di Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD), Peking University, Beijing.

Di hadapan kalangan akademisi internasional, Iftitah akan memaparkan transformasi transmigrasi Indonesia sebagai strategi pembangunan kawasan berbasis investasi, industrialisasi, peningkatan produktivitas, dan pemerataan kesempatan ekonomi. Agenda tersebut sekaligus menjadi peluang untuk membuka kolaborasi penelitian antara perguruan tinggi Indonesia dan Tiongkok.

Iftitah mengatakan Indonesia membutuhkan penelitian yang tidak berhenti pada publikasi atau laporan, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab persoalan pembangunan di lapangan. Menurutnya, kolaborasi akademik perlu diarahkan pada solusi yang bisa meningkatkan produktivitas, menarik investasi, dan memperluas kesempatan kerja masyarakat.

"Kita tidak hanya membutuhkan penelitian yang berakhir menjadi laporan. Kita membutuhkan pengetahuan yang dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan di lapangan, bagaimana meningkatkan produktivitas, menarik investasi, membangun industri, dan memastikan masyarakat setempat memperoleh manfaat ekonominya," ujar Iftitah dalam keterangan tertulis Kementerian Transmigrasi, Senin, 12 Oktober 2026.

Salah satu bidang yang berpotensi dikembangkan ialah riset pertanian modern dan pengolahan hasil pertanian. Pemerintah juga melihat peluang pemanfaatan teknologi untuk memperkuat industri lokal sehingga komoditas dari kawasan transmigrasi tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.

Dalam kunjungan tersebut, delegasi Indonesia juga dijadwalkan bertemu dengan Kementerian Pertanian dan Pedesaan Tiongkok serta melibatkan Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS) dan Foreign Economic Cooperation Center (FEC). Agenda ini mencakup penjajakan kerja sama teknologi produksi, pengolahan hasil pertanian, dan revitalisasi ekonomi pedesaan.

Pengembangan riset dan teknologi tersebut berpotensi diarahkan pada sejumlah komoditas unggulan dari kawasan transmigrasi. Misalnya, durian di Sulawesi Tengah, kelapa genjah di Nusa Tenggara Timur, kelapa di Maluku Utara, serta padi, kakao, kopi, dan tebu di Papua.

Pemerintah ingin mendorong pengembangan komoditas tersebut hingga tahap pengolahan agar nilai tambah ekonomi dapat dinikmati masyarakat di daerah penghasil. Karena itu, kerja sama yang dijajaki tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga transfer teknologi, pengembangan industri, dan akses pasar.

"Kita punya durian, kelapa, kopi, kakao, dan banyak komoditas unggulan lainnya. Tetapi kita tidak ingin berhenti sebagai penghasil bahan mentah. Kita ingin lebih banyak produk diolah di Indonesia, lebih banyak nilai tambah tinggal di daerah, dan lebih banyak masyarakat memperoleh pekerjaan," kata Iftitah.

Menurut dia, pengembangan kawasan transmigrasi perlu ditopang oleh sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan teknologi dan mengembangkan industri. Kolaborasi dengan lembaga riset dan perguruan tinggi diharapkan dapat membantu memperkuat kapasitas tersebut.

Selain agenda akademik, delegasi Indonesia dijadwalkan mengunjungi sejumlah pusat industri dan penelitian di Beijing, Chongqing, Hangzhou, Zhejiang, dan Shanghai. Kunjungan tersebut mencakup lembaga penelitian pertanian, industri manufaktur, teknologi lingkungan, hingga pengembangan pesawat.

Rangkaian kunjungan itu dimaksudkan untuk mempelajari pendekatan pengembangan industri, riset pertanian, teknologi, dan pembangunan desa. Hasil pembelajaran tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengembangkan kawasan transmigrasi sesuai kebutuhan Indonesia.

Iftitah menegaskan pengalaman Tiongkok tidak akan diterapkan begitu saja. Model kerja sama dan teknologi yang dipelajari perlu disesuaikan dengan kondisi geografis, sosial, budaya, lingkungan, serta kebutuhan masyarakat Indonesia.

"Kita belajar dari keberhasilan negara lain, tetapi tidak berarti harus meniru semuanya. Indonesia memiliki karakter dan keunggulannya sendiri. Yang ingin kita ambil adalah pengetahuan, teknologi, dan model kerja sama yang dapat membantu kita mempercepat pembangunan," ujar dia.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan