Viralnya isu LPDP belakangan ini tak lepas dari kontroversi yang melibatkan alumnus awardee LPDP, Dwi Sasetyaningtyas atau akrab disapa Tyas. Kegaduhan bermula ketika Tyas mengunggah video anaknya yang kini memegang paspor warga negara Inggris, disertai pernyataan yang langsung memantik reaksi keras dari warganet.
Sebagai mantan penerima beasiswa negara yang dibiayai dari pajak masyarakat, pernyataan bahwa ia tidak ingin anaknya menjadi WNI dinilai tidak pantas dan menuai kecaman luas. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pun angkat bicara, mengingatkan seluruh penerima LPDP untuk tidak menghina negara sendiri.
"Jangan menghina negara Anda sendiri. Enggak patriotis enggak apa. Tapi jangan menghina negara," kata Purbaya dalam unggahan di akun Instagram @metrotv dikutip Selasa, 24 Februari 2026.
Tyas akhirnya meminta maaf secara terbuka, mengakui bahwa kalimat yang ia ucapkan lahir dari rasa kecewa dan frustrasi pribadi, bukan sebagai serangan terhadap identitas kebangsaan Indonesia. "Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi," tulis Tyas di akun Instagram @sasetyaningtyas.
Di tengah ramainya polemik, muncul satu sosok dari komunitas alumni LPDP yang justru memberi kesejukan di tengah kegaduhan. Sosok itu adalah Tasya Kamila. Sebelum masuk ke pesan yang ia sampaikan, mari kita kenalan lebih dekat dengannya. Simak selengkapnya.
Siapa Itu Tasya Kamila?
Tasya Kamila bukan sekadar penyanyi dan aktris yang dikenal luas di industri hiburan Indonesia. Di balik cemerlang kariernya, ia menyimpan kepedulian mendalam terhadap isu lingkungan hidup dan kebijakan publik.Tasya menempuh studi S2 di Columbia University, Amerika Serikat, mengambil jurusan Public Administration in Energy and Environmental Policy pada 2016–2018 dengan dukungan Beasiswa LPDP. Melansir dari akun LinkedIn pribadinya (linkedin.com/in/tasyakamila), berikut jejak pendidikan dan karier Tasya Kamila:
Pendidikan Tasya Kamila:
- Bachelor's Degree, Accounting – Universitas Indonesia (UI) (2010–2013): Lulus dengan predikat Cum Laude dan tercatat sebagai lulusan tercepat Program Sarjana 2014
- Master of Public Administration (M.P.A.), Energy and Environment – Columbia University | SIPA (2016–2018): Sebagai Awardee Beasiswa LPDP, selama masa studi ia aktif sebagai Bendahara Southeast Asia Student Initiative 2017
Karier Tasya Kamila
- Junior Auditor – KAP GPAA (Juni 2012–Februari 2013)
- Intern – SKK Migas (Juli 2013–Oktober 2013)
- Artist (Singer, Songwriter) – Sony Music Entertainment (November 2000–April 2016)
- Network Coordinator Indonesia – SDSN Youth (Januari 2016–Desember 2016)
- Project Officer TwentyThirty – SDSN Youth (Januari 2017–Juni 2018)
- Summer Intern – Kementerian ESDM (LINTAS EBTKE) (Juli 2017–Agustus 2017)
- Graduate Consultant – GE Capital (Januari 2018–Mei 2018)
- Founder – Green Movement Indonesia (Juni 2015–sekarang)
Laporan Kontribusi Tasya Kamila Selama Masa Bakti LPDP
Usai menuntaskan masa baktinya sebagai alumni awardee LPDP, Tasya Kamila menyampaikan laporan kontribusinya kepada publik melalui akun Instagram @tasyakamila. Ia membuka unggahannya dengan penuh rendah hati dan rasa syukur kepada LPDP atas kepercayaan yang diberikan, seraya menyatakan bahwa masa baktinya telah resmi selesai."Izin laporan, Boss! Terima kasih @lpdpd_ri atas kepercayaannya. Alhamdulillah telah selesai masa bakti," kata Tasya dalam unggahannya di akun Instagram @tasyakamila, dikutip Selasa, 24 Februari 2026.
Selama periode masa bakti LPDP 2018–2023, Tasya mencatat sejumlah kontribusi nyata bagi Indonesia. Ia aktif menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat dalam kapasitasnya sebagai figur publik, termasuk berkolaborasi dengan berbagai kementerian dan lembaga seperti KLHK, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, Kemenko Maritim dan Investasi, Kominfo, Kementerian Pendidikan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pariwisata, Kementerian BUMN, Bappenas, hingga KPK.
Ia juga sempat menjabat sebagai Dewan Pertimbangan Kalpataru 2022. Tidak hanya bergerak di lingkaran pemerintahan, Tasya juga menjalankan gerakan akar rumput melalui yayasan Green Movement Indonesia.
Ia membangun komunitas peduli lingkungan dengan lebih dari 500 relawan, berkolaborasi dengan berbagai organisasi untuk program carbon offset, circular economy, reboisasi, dan penanaman mangrove, serta mengedukasi masyarakat soal pilah sampah dan kompos dari rumah. Di bidang pemberdayaan pemuda, Tasya menjangkau lebih dari 10.000 pemuda Indonesia melalui talkshow, seminar, dan workshop di lebih dari 100 acara dan 50 universitas serta sekolah di Indonesia. I
Ia juga aktif membagikan tips beasiswa LPDP melalui media sosial, dengan video perkuliahan S2-nya yang telah ditonton lebih dari 1 juta kali di YouTube. Di industri kreatif, Tasya turut melestarikan lagu anak Indonesia.
Lagu "Apa Kabar" bersama Arrasya yang dirilis pada 2023 meraih lebih dari 10 juta penayangan di YouTube dan berhasil mendapatkan penghargaan AMI Awards pada 2024. Selain itu, ia juga aktif membagikan konten seputar parenting, tumbuh kembang anak, dan kesehatan demi mendukung Generasi Emas Indonesia.
Lantas, bagaimana sebenarnya ketentuan pengabdian yang ditetapkan LPDP? Berikut penjelasannya.
Ketentuan Pengabdian LPDP
Terdapat dua ketentuan pengabdian yang berlaku bagi penerima beasiswa LPDP:- Penerima Beasiswa wajib kembali dan mengabdi di Indonesia setelah selesai studi sesuai dengan ketentuan LPDP
- Kembali ke Indonesia dan berkontribusi di Indonesia selama 2 kali masa studi ditambah 1 tahun (2N+1) setelah selesai studi secara berturut-turut
Pesan untuk Sesama Awardee dan Seluruh Masyarakat
Di bagian penutup unggahannya, Tasya menegaskan bahwa kontribusi kepada negeri tidak mengenal batas waktu masa bakti. Baginya, ini adalah komitmen seumur hidup untuk terus mencintai negeri, menghargai perjuangan rakyat, dan turut membangun Indonesia yang sejahtera dan berkelanjutan.Tasya juga menekankan bahwa di era sekarang, ada banyak cara dan kesempatan untuk berkontribusi kepada negeri, baik secara konvensional seperti bekerja di instansi pemerintah maupun secara modern seperti menjadi influencer yang mampu menggerakkan semangat masyarakat hingga mendorong lahirnya kebijakan. Siapapun, termasuk para ibu rumah tangga sekalipun, memiliki tempat untuk berkontribusi asal mau mengusahakannya.
Ia pun menutup laporannya dengan pesan yang hangat sekaligus menginspirasi bagi seluruh penerima beasiswa dan masyarakat Indonesia. "Bismillah, jangan lelah mencintai negeri. Kita semua punya tempat untuk berkontribusi," tulis Tasya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News