Anggota ORI, Ahmad Suaedy (kiri) bersama Rektor Unnes, Fathur Rokhman (kanan), Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.
Anggota ORI, Ahmad Suaedy (kiri) bersama Rektor Unnes, Fathur Rokhman (kanan), Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.

ORI Minta Investigasi Kasus Plagiasi Rektor Unnes Diulang

Kautsar Widya Prabowo • 08 Maret 2019 17:14
Jakarta:  Ombudsman Republik Indonesia (ORI) menemukan maladministrasi yang dilakukan oleh senat Universitas Negeri Semarang (Unnes) dalam penanganan dugaan plagiasi yang dilakukan Rektor Unnes, Fathur Rokhman. Penyimpangan prosedur sudah terjadi sejak tim investigasi pihak UNNES dibentuk untuk mendalami kasus tersebut.
 
Anggota ORI, Ahmad Suaedy menjelaskan, Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum UNNES telah menyalahgunakan kewenangan dalam menerbitkan Surat Tugas Tim Investigasi Nomor 3397/UN37/KP/2018 pada 8 Juni 2018 dan Surat Tim Investigasi Nomor 5432/UN37/KP/2018 pada 24 Agustus 2018.
 
Lantaran tidak melakukan pendelegasian kewenangan sebagaimana dalam Undang - Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentangan Administrasi Pemerintahan.  Selain itu, dalam melakukan investigasi, tim tidak melibatkan pihak yang diduga merasa diplagiasi karyanya oleh Rektor UNNES, yaitu sodara  Ristin dan Anif Rida.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Padahal pelibatan korban sudah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2010.  "Meskipun ada ada alasan sakit, alasan melahirkan tapi prinsipnya harus hadir (Ristin dan Anif), jadi harusnya bisa ditunggu," ujar Suaedy di Gedung ORI, Kuningan, Jakarta, Jumat 8 Maret 2019.
 
Selain itu, pembentukan anggota tim investigasi diketahui tidak dilakukan secara transparan oleh pihak Senat UNNES. Tidak ada yang menjelaskan latar belakangan dari anggota investigasi, baik Bambang Hariyadi, Mungin, Ahmad Slamet, dan Soesanto.
 
"Harus ada alasan orang ini (anggota yang terpilih), kemudian ketika rapat ada berita acara, ada lampiran hasilnya apa, ini gak ada, orang bisa menduga-duga," tuturnya.
 
Senat UNNES terlihat semakin tidak kompeten, ketika mengeluarkan surat Keputusan Senat UNNES Nomor 1 Tahun 2018 dan Nomer 2 Tahun 2018 tentang dugaan plagiasi sodara Fathur Rokhman yang dinilai tidak ditemukan.  Namun, dalam surat tersebut tidak menyebutkan secara jelas bahwa terjadinya plagiasi atas persaingan dengan karya siapa.
 
Terlebih, berdasarkan hasil pemeriksaan secara visual keempat anggota investigasi, kemiripan karya korban dengan Rerktor UNNES lebih dari 50 persen. Namun kesimpulannya tidak ditemukan adanya plagiasi, lantaran sodara Fathur Rokhman Rekor UNNES memiliki stiker emas pada 2002. 
 
"Senat UNNES tidak kompeten dalam melakukan investigasi, sebagian dalam notulensi rapat tim investigasi tidak memiliki salinan atau skripsi sodara Ristin Setani (korban) untuk disandingkan dengan draft Disertasi sodara Fathur Rokhman," imbuhnya.
 
Baca:  Menristekdikti Resmikan Prototipe Produk Pengolahan Air Bersih
 
Atas dasar tersebut, ORI memberikan tindakan korektif terhadap Senat UNNES, agar melakukan proses ulang pelaksanaan investigasi penanggulangan dugaan plagiasi, dengan membentuk tim investigasi yang baru.  Tim tersebut harus melibatkan pihak luar, tidak hanya dosen - dosen UNNES. 
 
"Kami mengusulkan kepada Kemenristekdikti agar kalau yang diduga melakukan plagiasi itu pejabat struktural (seperti) Rektor, Ketua Senat, itu hendaknya mengikutkan dalam tim itu personel dari Kemenristekdikti dan masyarakat, selama ini dari anggota senat aja," tuturnya.
 
Sementara itu, Ketua Senat UNNES Santo yang memenuhi panggilan ORI dan mendampingi  Rektro UNNES Fathur Rokhman, menjelaskan dalam melakukan investigasi telah berpaku pada Peraturan Menteri nomer 19 tahun 2010. Seperti menunjuk anggota tim yang diyakini berkompeten.
 
"Menunjuk orang-orang tertentu, mengapa itu, mengapa ini, ini yang diduga melakukan plagiasi adalah Rektor guru besar, otomatis harus menunjuk orang-orang yang memiliki kompetensi di bidang itu, nah itulah sehingga semuanya berjalan dengan baik," tutur Santo.
 
Kendati demikian, Santo mengaku akan menjalankan tindak korektif yang dibuat oleh ORI, dengan membentuk tim investigasi baru. 
 
"Kami akan sesuai dengan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP), jadi mungkin ada beberapa prosedur koreksi, sesuai dengan saran kritik," tuturnya.
 
Sebelumya, kasus ini berawal dari laporan masyarakat yang melaporkan Rektor Universitas Semarang,Fathur Rokhman melakukan plagiasi karya tulis atas nama Anif Rida yang berjudul "Pemakaian Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri dan Implikasinya Bagi Rekayasa Bahasa Indonesia: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas".
 
Karya tulis tersebut dimuat dalam Kumpulan Makalah KOLITA (Konferensi Linguistik Tahunan) I Universitas 17-18 Februari 2003. Adapun karya tulis dalam bentuk laporan penelitian Fathur Rokhman berjudul "Kode Bahasa dalam Interaksi Sosial Santri: Kajian Sosiolinguistik di Pesantren Banyumas" dimuat dalam jurnal ilmiah terakrediasi Nasional LITERA terbitan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) edisi 3 Nomor 1 Tahun 2004.

 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif