Quality Assurance Specialist perusahaan food and beverage, Erwin Setiawan. Medcom.id/Ilham Pratama Putra
Quality Assurance Specialist perusahaan food and beverage, Erwin Setiawan. Medcom.id/Ilham Pratama Putra

Awas Panic Buying di Puasa Ramadan, Bisa Bikin Lupa Gizi Seimbang

Ilham Pratama Putra • 02 Maret 2026 14:00
Ringkasnya gini..
  • Kebiasaan memborong makanan sering kali membuat konsumen kehilangan sikap selektif.
  • Fokus utama hanya pada kuantitas, asal stok aman, tanpa memperhatikan komposisi dan kandungan nutrisi produk yang dibeli.
  • Selama Ramadan tubuh tetap membutuhkan asupan gizi seimbang.
Jakarta: Suasana pusat perbelanjaan pada 10 hari pertama puasa Ramadan terasa berbeda dari hari-hari biasa. Troli-troli belanja yang biasanya terisi seperlunya, mendadak penuh hingga meluap.
 
Rak-rak bahan pokok cepat kosong, antrean kasir mengular, dan keranjang belanja dipenuhi aneka produk makanan dalam jumlah besar. Fenomena ini seolah menjadi ritual tahunan.
 
Di balik euforia tersebut, muncul pertanyaan penting. Apakah lonjakan belanja ini turut mengorbankan kualitas gizi?

Quality Assurance Specialist perusahaan Food and Beverage, Erwin Setiawan, menyoroti perubahan perilaku tersebut. Erwin mengungkapkan pengamatannya langsung di lapangan.
 
“Sehari sebelum Ramadan datang, saya cek kebiasaan masyarakat di supermarket, minimarket, dan pasar tradisional. Ternyata, masyarakat banyak yang memborong makanan apa saja, semua di rak diambil sampai trolinya banyak. Padahal di hari-hari biasa, enggak segitunya,” ujar Erwin di sela Group Media Interview TikTok bertajuk #SerunyadiTikTok di Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.
 
Menurutnya, kebiasaan memborong makanan sering kali membuat konsumen kehilangan sikap selektif. Fokus utama hanya pada kuantitas, asal stok aman, tanpa memperhatikan komposisi dan kandungan nutrisi produk yang dibeli.
 
Erwin menilai salah satu persoalan mendasar adalah rendahnya kesadaran membaca label komposisi. Dalam kondisi terburu-buru, banyak orang mengambil produk tanpa benar-benar memahami apa yang akan dikonsumsi untuk sahur dan berbuka.
 
“Kebiasaan masyarakat itu beli banyak banget makanan tanpa melihat apa yang dia beli, salah satunya adalah komposisinya,” beber dia.
 
Padahal, selama Ramadan tubuh tetap membutuhkan asupan gizi seimbang. Meski tidak makan dan minum selama belasan jam, kebutuhan makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak tetap harus terpenuhi, begitu pula mikronutrien berupa vitamin dan mineral yang berperan menjaga fungsi organ tetap optimal.
 
Persiapan stok yang melimpah justru berpotensi memicu pola makan kurang sehat bila produk yang dipilih tinggi gula, garam, atau lemak jenuh. Kondisi ini dapat berdampak pada tubuh di pertengahan hingga akhir Ramadan, mulai dari mudah lemas hingga gangguan metabolisme.
 
Di sisi lain, tuntutan kepraktisan selama Ramadan turut mendorong peningkatan konsumsi makanan instan. Waktu sahur yang singkat dan kebutuhan berbuka yang cepat membuat produk siap saji menjadi pilihan favorit.
 
Agar tak mengorbankan gizi, ia mengingatkan makanan instan yang bisa dikonsumsi harus dilihat lebih jeli. Kuncinya terletak pada proses produksi dan teknologi pengemasan yang digunakan.
 
Ia mencontohkan produk makanan instan berbasis homemade, seperti rendang siap saji yang dikemas menggunakan teknologi vakum. “Misalnya makanan instan daging homemade, rendang yang hanya di-microwave saja, itu bagus karena memang tidak ada pengawet yang lain. Hanya menggunakan teknologi pengemasan seperti vacuum sealer,” ujar dia.
 
Teknologi pengemasan modern dinilai mampu menjaga kualitas makanan tanpa tambahan bahan pengawet kimia berlebihan. Meski demikian, konsumen tetap harus jeli membaca label dan memahami kandungan produknya.
 
Produk kalengan, seperti sarden, juga kerap menjadi stok andalan sahur karena harganya terjangkau dan mudah diolah. Akan tetapi, makanan jenis ini umumnya mengandung natrium tinggi sebagai bagian dari proses pengawetan.
 
“Boleh enggak sih makan sarden setiap hari untuk sahur? Ya boleh-boleh saja makan, tapi seminggu tiga kali aja karena kandungan natriumnya tinggi. Kenapa tinggi? Karena proses pengawetan paling sederhana ya menggunakan natrium atau gula,” ujar Erwin.
 
Konsumsi natrium berlebih dapat memicu berbagai risiko kesehatan, terutama bila berlangsung terus-menerus selama sebulan penuh. Pada akhirnya, euforia menyambut Ramadan tidak semestinya membuat masyarakat abai terhadap kualitas pangan.
 
Memborong makanan bukan hal yang salah, selama dilakukan dengan perencanaan dan pertimbangan gizi yang matang. "Ramadan adalah momentum memperbaiki pola hidup, termasuk pola makan. Troli boleh penuh, tetapi kesadaran akan gizi seimbang tetap harus menjadi prioritas agar ibadah berjalan optimal," tutr dia.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan