Kampus ITS. DOK ITS
Kampus ITS. DOK ITS

Laporan Praktikum Ditulis Tangan, Dosen ITS Jelaskan Keuntungan di Masa Kini

Pendidikan Pendidikan Tinggi Perguruan Tinggi ITS Mahasiswa Jurnal Ilmiah
Renatha Swasty • 19 April 2022 14:44
Jakarta: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sejak semester satu memperkenalkan atmosfer sains melalui rangkaian praktikum dengan output berupa laporan yang dikerjakan manual alias tulis tangan sebagai bagian dari scientific community. Melihat kemajuan teknologi yang ada, relevankah metode ini dalam proses penulisan laporan untuk mahasiswa baru?
 
Mahasiswa semester 1 ITS yang menjalani mata kuliah Fisika Dasar 1, terdapat praktikum wajib. Praktikum bersama ini bertujuan memudahkan mahasiswa memahami materi perkuliahan melalui kegiatan motorik. Kemudian, memberikan kemampuan pengamatan melalui pendekatan ilmiah.
 
Kepala Laboratorium Fisika Dasar Unit Penyambutan Mahasiswa Baru (UPMB) ITS, Bachtera Indarto, menuturkan pembuatan laporan dengan tulis tangan bukan suatu bentuk penolakan atas teknologi yang seharusnya memudahkan manusia. Pilihan ini diambil sebagai bentuk kehati-hatian dalam penggunaan teknologi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dosen Departemen Fisika ini mengungkapkan sejak komputer berkembang, orang-orang menjadi malas menulis tangan. Penggunaan komputer dan teknologi memang praktis, namun membuka peluang penyalahgunaan.
 
Dia menyebut orang-orang akan malas berkarya untuk membuat laporan original. Hal tersebut akan menimbulkan berbagai masalah kepada mahasiswa.
 
“Yang pertama proses pembelajaran motorik mahasiswa tidak terjadi, dan masalah kedua kejujuran tidak bisa dijamin,” ujar Indarto dikutip dari laman its.ac.id, Selasa, 19 April 2022.
 
Dia menyebut penulisan laporan praktikum dengan komputasi akan membuka peluang luas ke arah plagiarisme. Mahasiswa juga dipaksakan membaca bahan ajar yang diberikan atau dicari sendiri dengan menerapkan aturan tulis tangan.
 
Bach mengakui hal ini juga tidak dapat menghilangkan kemungkinan plagiarisme penuh. Namun, dapat menjadi usaha memperkecil peluang plagiarisme.
 
Dia menuturkan bila plagiarisme tetap terjadi, dengan menulis laporan manual, mahasiswa yang plagiat tetap melakukan proses pembelajaran. Caranya, membaca materi dan/atau laporan praktikum orang lain.
 
“Dengan begini, proses pembelajaran tetap terjadi,” tutur dia.
 
Bach menuturkan ITS sebagai lembaga pendidikan tinggi juga bertanggung jawab secara moral untuk turut serta menciptakan pembelajaran yang kondusif agar mahasiswa terbiasa jujur. Kondisi tersebut dibangun salah satunya melalui penerapan penulisan laporan praktikum tulis tangan.
 
Alasan lainnya yang berupa tanggung jawab moral, Bach juga menitikberatkan kepada para mahasiswa mengenai motorik kerja seorang saintis dan teknisi. Jika praktikum dan laporan secara terus-menerus dikerjakan melalui teknologi, motorik laboratorium mahasiswa tidak akan bekerja dengan maksimal.
 
“Alasan tersebut sangat kuat untuk diperhatikan, terlebih dengan kondisi pandemi saat ini,” tutur dia.
 
Bentuk target motorik kerja mahasiswa ini, yaitu terbiasa dengan alat dan bahan dasar laboratorium, tata kerja, gejala fisis percobaan, hingga karakter yang disumbangkan melalui metode praktikum banyak dari proses pembelajaran.
 
“Nilai motorik kerja dalam metode praktikum ini yang sesuai dengan nilai-nilai pembelajaran penggerak yang dirumuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” jelas Bach.
 
Pengerjaan laporan praktikum diharapkan menjadi salah satu metode pengajaran yang berpusat pada mahasiswa yang menggambarkan strategi-strategi pengajaran di mana dosen dan asisten laboratorium lebih memfasilitasi ketimbang mengajar langsung. Dalam strategi pengajaran yang berpusat pada mahasiswa, pengajar secara sadar menempatkan perhatian yang lebih banyak pada keterlibatan, inisiatif, dan interaksi sosial mahasiswa saat di laboratorium.
 
Hal tersebut juga dapat dijadikan refleksi diri karena akhirnya sebagian besar mahasiswa akan merasa kewalahan dengan banyaknya laporan praktikum yang harus diselesaikan. Namun, sebagai mahasiswa, mereka harus menyadari kehidupan mahasiswa bukanlah kehidupan normal di mana semuanya dapat terus melakukan segala hal dengan sesuka hati.
 
Bach menuturkan momen laporan bertumpuk-tumpuk ini dapat mereka maknai sebagai proses belajar memanajemeni waktu dan menantang diri agar tidak menyerah dengan keadaan. “Di samping itu, mahasiswa dan dosen juga harus mengingat-ingat kembali makna Sistem Kredit Semester (SKS), barangkali mereka lupa makna SKS yang sesungguhnya,” papar dia.
 
Baca: Mantap, 2 Mahasiswa ITS Jalani Magang di Mercedes-Benz Inggris
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif