Ilustrasi obat herbal. DOK Unpad
Ilustrasi obat herbal. DOK Unpad

Sering Salah Persepsi, Guru Besar FK Unpad Luruskan Soal 'Keracunan Obat'

Renatha Swasty • 06 Juli 2022 18:27
Jakarta: Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Oki Suwarsa mengatakan selama ini banyak persepsi keliru di masyarakat mengenai istilah keracunan obat atau kondisi kulit menjadi melepuh setelah mengonsumsi obat tertentu. Padahal, ini adalah salah satu reaksi dari erupsi obat alergi.
 
“Istilah masyarakat itu ‘keracunan’. Padahal, itu mungkin reaksi alergi yang memang tidak bisa diprediksi,” kata Oki saat menjadi pembicara pada diskusi Satu Jam Berbincang Ilmu “Alergi Obat: Perspektif Sains, Kesehatan, dan Masyarakat” dikutip dari laman unpad.ac.id, Rabu, 6 Juli 2022. 
 
Erupsi obat alergi merupakan salah satu reaksi simpang dari suatu obat (adverse drug reaction/ADR) yang tidak diinginkan. Reaksi simpang obat tersebut memiliki dua klasifikasi, yaitu reaksi yang dapat diprediksi serta reaksi yang tidak dapat diprediksi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Oki menjelaskan reaksi yang dapat diprediksi atau tipe A. Reaksi tipe A dapat terjadi pada setiap individu. 
 
Selain itu, dosis obat berpengaruh terhadap terjadinya reaksi. Reaksi tipe A merupakan efek samping akibat overdosis atau karena interaksi obat dengan obat lainnya.
 
“Reaksi tipe A ini sudah bisa kita prediksi. Misalkan kalau kita beri obat dalam kemasan, ada efek samping ngantuk, muntah, diare, dan sebagainya,” papar Oki.
 
Sementara itu, reaksi yang tidak bisa diprediksi dikenal sebagai reaksi tipe B. Oki mengatakan kondisi erupsi alergi obat termasuk dalam reaksi yang tidak bisa diprediksi. 
 
Reaksi ini hanya terjadi pada individu yang rentan (suceptible). Reaksi ini juga tidak bergantung pada dosis dan tidak berhubungan dengan farmakologi obat.
 
“Jadi, meskipun hanya minum setengah tablet atau satu sendok teh sirup, pada orang yang suceptible itu bisa terjadi reaksi yang tidak diinginkan,” jelas Guru Besar pada Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Unpad tersebut.
 
Oki menjelaskan erupsi obat alergi ada yang menyebabkan reaksi ringan hingga berat. Reaksi ringan ditunjukkan dengan munculnya bercak kemerahan pada bagian tubuh dan menyebar ke lengan, tungkai, dan kaki, serta terasa gatal.
 
Alergi ini dikatakan berat jika kondisi kulit melepuh seperti habis terbakar. Dalam beberapa kondisi, reaksi yang berat bisa menyebabkan kekurangan cairan dan kematian.
 
Dilihat dari kasus yang terjadi, erupsi obat alergi lebih banyak terjadi pada perempuan kelompok dewasa muda. Hal ini terlihat dari hasil studi oleh kelompok studi Imunodermatologi dan Dermatosis Akibat Kerja di beberapa rumah sakit di Indonesia kurun waktu 2015-2017.
 
Dari studi tersebut, enam dari sembilan rumah sakit memiliki angka pasien erupsi obat alergi lebih tinggi ketimbang laki-laki. Namun, kata Oki, tidak dijelaskan spesifik alasan perempuan lebih berisiko mengalami alergi obat ketimbang laki-laki. 
 
“Dalam beberapa hal terkait faktor hormonal dan metabolisme yang berbeda. Tetapi belum ada penjelasan spesifik,” kata Oki.
 
Masih dari studi yang sama, etiologi erupsi obat alergi di Indonesia didominasi oleh obat-obat penurun panas, seperti Parasetamol, Amoksisilin, Sefradoksil, dan Karbamazepin. Selanjutnya, obat-obatan antibiotik dan obat-obat antikejang.
 
Temuan ini berbeda dengan hasil penelitian di negara lain yang mana golongan antibiotik seperti sulfa dan penisilin,  serta antikolvusan seperti karbamazepin menjadi penyebab terbanyak alergi obat.
 
Oki menegaskan erupsi obat alergi dapat mengganggu kualitas hidup bahkan dapat menyebabkan kematian. Dia menyebut edukasi dan tata laksana komperehensif diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup dan mencegah terjadinya kematian akibat alergi obat.
 
Baca juga: Biaya Pendidikan Dokter Kian Mahal, AIPKI Harapkan Subsidi Pemerintah

 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif