Perguruan Tinggi Cetak Ratusan Ribu Pengangguran Tiap Tahun

Intan Yunelia 26 Juni 2018 21:04 WIB
Daya Saing
Perguruan Tinggi Cetak Ratusan Ribu Pengangguran Tiap Tahun
Suasana acara wisuda di salah satu perguruan tinggi, MI/Panca Syurkani.
Jakarta:Angka pengangguran terdidik terutama yang berasal dari lulusan perguruan tinggi sangat tinggi.  Dari sekitar satu juta lulusan perguruan tinggi setiap tahun, ratusan ribu di antaranya menjadi pengangguran.

"Jumlah lulusan perguruan tinggi sekitar satu juta orang, tapi ratusan ribu di antaranya menganggur," kata Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kemenristekdikti, Intan Ahmad, usai Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Pimpinan Perguruan Tinggi Swasta di Lingkungan Kopertis Wilayah III bertema "Mewujudkan Pelayanan Prima 4.0 Guna Meningkatkan Mutu Lulusan dan Iptek" di Hotel Bidakara, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta, Selasa, 26 Juni 2018.


Penyerapan lulusan perguruan tinggi yang rendah tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di sejumlah negara.   Rendahnya kesiapan kerja lulusan perguruan tinggi juga diungkapkan sebuah riset di Eropa. 

Riset tersebut mengungkapkan, tak sampai 50 persen lulusan dari 8.000 perguruan tinggi di 25 negara yang diteliti siap kerja.  Padahal, pihak kampus biasanya telah mempersiapkan setidaknya 70 persen lulusan dapat terserap di dunia kerja, namun faktanya tak kurang 50 persennya saja yang terserap.

"Karena yang dibutuhkan dunia kerja itu kemampuan kepemimpinan, kemampuan kerja sama, membaca, high order thinking skill, itu dibutuhkan," jelas Intan.

Namun, hal-hal seperti itu yang menurut Intan kurang ditekankan di dalam kampus. Perguruan Tinggi kebanyakan menekankan kepada indeks prestasi kumulatif (IPK) yang tinggi saja.

Baca: Menembus Dunia Kerja Tak Cukup Bermodal IPK Tinggi

"Sedangkan di dunia kerja, kemampuan negosiasi, kemampuan bekerja sama, kepemimpinan itulah yang justru banyak dibutuhkan, ini harus dilatih di kampus-kampus melalui kegiatan ekstrakurikuler dan kokurikuler," jelasnya.

Meski begitu, indeks prestasi akademik tetap penting.  Intan berharap, kampus  juga memberikan keleluasaan kepada mahasiswanya untuk berkegiatan di luar kampus, demi melatih skill di atas.

"Bukan tidak penting, jadi kalau bisa IPK tinggi plus kemampuan," pungkasnya.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id