Sidang terbuka yang dipimpin oleh Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), ini menjadi momen syukur bagi kedua profesor. Turut hadir dalam acara tersebut Kepala LLDIKTI Wilayah III, Dr. Henri Togas Hasiholan Tambunan, S.E., M.A., serta perwakilan dari Ditjen Diktiristek.
“Menjadi profesor bukanlah garis akhir, justru ini adalah titik awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memastikan ilmu yang dimiliki tidak hanya tinggi, tetapi juga bermakna,” ujar Yuda dalam sambutannya di Gedung Yustinus, Unika Atma Jaya, Rabu, 8 April 2026.
Rektor menekankan pentingnya menghidupi nilai dasar universitas, yaitu KUPP (Kristiani, Unggul, Profesional, dan Peduli). Ia menegaskan bahwa aspek 'Unggul' dan 'Peduli' merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan dalam pengabdian seorang akademisi.
“Keunggulan tanpa kepedulian menjauhkan kita dari manusia, ilmu menjadi tinggi tapi tidak menyentuh kehidupan. Sebaliknya, kepedulian tanpa keunggulan hanya akan berhenti pada niat baik tanpa daya untuk menghadirkan perubahan nyata,” tegas Yuda.
Ia mengajak para profesor untuk menjadi ilmuwan yang diakui dunia namun tetap hadir memberikan solusi konkret bagi bangsa.
Dalam orasi ilmiahnya, Manara mengungkap isu diskriminasi linguistik yang selama ini dianggap tabu di dunia pengajaran bahasa Inggris di Indonesia. Ia menyayangkan adanya asumsi bahwa pengajar lokal dianggap tidak ideal sebagai model bahasa dibandingkan penutur asing atau native speakers.
“Kami ingin mengajak semua pengambil keputusan untuk mempelajari ulang hal-hal diskriminatif seperti ini. Berikan kepercayaan pada guru bahasa Inggris di Indonesia bahwa kami profesional dan kompeten,” ungkap Manara.
Ia juga mengkritik sistem evaluasi yang terlalu mendewakan skor tes bahasa, yang sering kali menjadi bisnis besar tanpa menguji kemampuan mengajar secara utuh.
Sementara itu, Yasintha memaparkan pentingnya model manajemen yang adaptif dan berkelanjutan dalam menghadapi dinamika ekonomi global. Risetnya bertujuan memberikan pijakan kuat bagi industri agar mampu menciptakan nilai tambah nyata di tengah krisis.
Sejalan dengan visi inovasi, rangkaian acara ini juga membahas digitalisasi pelayanan penerbangan. Pemanfaatan teknologi biometrik wajah dinilai mampu meningkatkan efisiensi biaya operasional sehingga harga tiket pesawat dapat lebih terjangkau.
"Kalau itu bisa digitalisasi, pasti meningkatkan efisiensi yang menimbulkan pengurangan biaya penerbangan," ujar Yasintha.
Kepala LLDIKTI Wilayah III, Henri Togas Hasiholan Tambunan menutup dengan harapan agar seluruh hasil riset ini segera dihilirisasi. Ia berpesan agar para guru besar baru dapat menjadi inspirasi yang karyanya dirasakan langsung oleh masyarakat luas.
"Kami menunggu karya-karya nyata yang mampu menyumbang pada pencapaian indikator kinerja utama institusi dan lebih luas lagi tentunya pada kemajuan bangsa," pungkas Henri menutup sambutannya. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News