Dalam seminar yang berlangsung di Kampus Universitas YARSI, para ahli kesehatan dan akademisi berkumpul untuk merumuskan rekomendasi penting terkait pemeriksaan kesehatan calon jamaah haji. Pembahasan utama berfokus pada konsep Istitha'ah atau kemampuan kesehatan yang menjadi syarat mutlak keberangkatan haji.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Suryo Bantolo, menegaskan, Istitha'ah kesehatan merupakan salah satu isu utama dalam penyelenggaraan haji. Menurutnya, calon jamaah yang akan berangkat ke Tanah Suci harus dipastikan dalam kondisi sehat dan siap beribadah dengan segala tantangannya.
"Dalam haji, mereka yang pergi ke tanah suci diharapkan dalam kondisi sehat dan siap beribadah di sana dengan segala tantangannya. Oleh karena itu, biasanya ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi," ujar Suryo Bantolo dalam pemaparannya.
Ia menjelaskan, syarat kesehatan Istitha'ah ditentukan oleh tim dokter di Indonesia melalui proses pemeriksaan yang ketat. Calon jamaah yang memenuhi syarat diperbolehkan berangkat, sementara yang belum memenuhi dapat ditunda atau bahkan dibatalkan keberangkatannya.
"Proses-proses, langkah-langkah, dan prosedur-prosedur tersebut memiliki tahapan dan panduan. Panduan tersebut harus jelas, baik itu panduan dari agama, panduan dari disiplin ilmu, maupun panduan dari peraturan resmi," tegasnya.
Suryo Bantolo menambahkan, kejelasan panduan ini sangat penting agar para dokter yang melakukan pemeriksaan Istitha'ah kesehatan haji dapat bekerja dengan benar, adil, dan bertanggung jawab.
Sementara itu, Rektor Universitas YARSI, Fasli Jalal mengungkapkan, pihaknya mendorong agar pemahaman tentang kesehatan haji terintegrasi dalam kurikulum pendidikan kedokteran. Hal ini penting mengingat Indonesia sebagai negara dengan jumlah jamaah haji terbesar di dunia.
"Dalam hal pendidikan, kami ingin semua dokter, karena di Indonesia sebagian besar Muslim, jadi mereka memahami betapa rumit dan kompleksnya situasi di bidang kesehatan. Sehingga mereka dapat mendampingi, pertama-tama, dalam hal pencegahan dan promosi," jelas Fasli Jalal.
Ia menekankan, pemahaman tentang kesehatan haji tidak hanya penting bagi jamaah, tetapi juga bagi para dokter yang akan mendampingi mereka. Para tenaga kesehatan perlu memiliki keterampilan khusus dalam merawat calon jamaah selama masa tunggu yang panjang.
"Jangan biarkan mereka mendaftar, oke di awal, di tengah jalan kembali lagi, tapi terhalang. Itu adalah keterampilan yang harus dipelajari," tegasnya.

Suasana Seminar Nasional Kesehatan Haji. Foto: Medcom/Citra Larasati
Fasli juga menyoroti pentingnya pendampingan kesehatan jamaah secara berkelanjutan. Mulai dari proses perencanaan, masa tunggu, hingga keberangkatan dan kepulangan ke Tanah Air.
"Itulah mengapa kami berharap sejak awal rencana, setelah proses selesai, kemudian didampingi selama masa tunggu, mereka akan dirawat, diperiksa, dan jika ada penyakit, akan diobati segera. Kemudian saat waktunya tiba, mereka akan dirawat lagi oleh profesional," paparnya.
Integrasi dalam Kurikulum Kedokteran
Menjawab pertanyaan tentang implementasi pendidikan kesehatan haji di Universitas YARSI, Fasli Jalal menjelaskan, materi tentang kesehatan haji akan dimasukkan ke dalam kurikulum yang sudah ada, bukan sebagai mata kuliah terpisah."Kita akan memasukkannya ke dalam kurikulum agar dokter-dokter memahami dengan benar. Komponen-komponennya dibagi menjadi berbagai jenis. Ada di dalam jiwa, ada fisik, diabetes, gejala. Ada di dalam penyakit, terutama penyakit ginjal, penyakit jantung. Jadi, tersebar dalam berbagai jenis pengetahuan. Oleh karena itu, hal ini termasuk dalam pembahasan di setiap mata kuliah," jelas Guru Besar Universitas YARSI tersebut.
Universitas YARSI juga berencana mengadakan pelatihan khusus bagi para dokter yang ingin meningkatkan kompetensinya dalam bidang kesehatan haji, terutama mereka yang berniat menjadi mitra penelitian atau petugas haji.
"Kita bisa mengadakan pelatihan untuk mereka. Itu cukup tinggi kebutuhannya," tambah Prof. Fasli Jalal.
Di akhir seminar, kedua narasumber menyampaikan pesan penting kepada masyarakat Indonesia, khususnya para calon jamaah haji. "Haji adalah peristiwa yang sangat suci. Dan terutama di Indonesia, sangat ramai karena kita harus menunggu waktu yang panjang. Sayang sekali jika mereka tidak berhati-hati, mereka telah menabung berbagai macam uang, mereka telah berniat, dan kemudian mereka tidak bisa berangkat," pesan Fasli.
Ia mengajak masyarakat untuk saling mendukung dan melaporkan dengan cepat jika menemukan calon jamaah yang mengalami masalah kesehatan. Dengan perawatan dan terapi yang lebih baik serta kemajuan teknologi, mereka yang sebelumnya tidak diizinkan berangkat bisa mendapatkan izin karena kondisi kesehatannya membaik.
Sementara itu Suryo menambahkan, sikap positif perlu ditunjukkan oleh para tenaga kesehatan dalam menangani calon jamaah. Meskipun saat mendaftar ditemukan berbagai penyakit yang tidak memungkinkan untuk berangkat, diharapkan calon jamaah tidak menyerah dan tetap berjuang untuk kesembuhannya.
"Kita harus percaya sejak awal bahwa niat telah diberikan oleh Allah. Namun, jika memungkinkan, jika masih bisa disembuhkan, meskipun saat dia mendaftar ternyata dia memiliki berbagai penyakit yang tidak diperbolehkan, kita harap dia tidak menyerah. Kita berharap kita akan berjuang lagi, agar semuanya bisa disembuhkan, sehingga memenuhi syarat, dan dia bisa melaksanakan ibadahnya," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News