Ilustrasi/Medcom
Ilustrasi/Medcom

Kemendiktisaintek Yakin Nasib sekolah Garuda Tak Seperti RSBI yang Dibubarkan MK

Ilham Pratama Putra • 18 Februari 2026 22:28
Ringkasnya gini..
  • Kemendiktisaintek meyakini SMA Unggul Garuda tidak akan memilki nasib yang sama dengan model rintisan sekolah bertaraf internasional atau RSBI.
  • Di mana RSBI akhirnya dibubarkan pada 2013 lalu karena dinilai inkonstitusional oleh Mahakamah Konstitusi setelah 7 tahun beroperasi.
  • MK menetapkan RSBI inkonstitusional karena menciptakan diskriminasi pendidikan dan mengikis penggunaan bahasa Indonesia.
Jakarta: Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) meyakini jika SMA Unggul Garuda tidak akan memilki nasib yang sama dengan model rintisan sekolah bertaraf internasional atau RSBI. Di mana RSBI akhirnya dibubarkan pada 2013 lalu karena dinilai inkonstitusional oleh Mahakamah Konstitusi setelah 7 tahun beroperasi.
 
MK menetapkan program itu inkonstitusional karena menciptakan diskriminasi pendidikan dan mengikis penggunaan bahasa Indonesia. Putusan MK Nomor 5/PUU-X/2012 diumumkan pada Januari 2013 itu membatalkan Pasal 50 Ayat (3) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang jadi dasar hukum RSBI dan SBI.
 
Ketua Tim Aspek Akademik SMA Unggul Garuda Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Vira Agustina menjelaskan, SMA Unggul Garuda dirancang khusus bagi siswa dengan kemampuan akademik istimewa. Anak-anak tersebut dikenal dengan istilah anak gifted atau cerdas istimewa berbakat istimewa (CIBI).

Sementara program RSBI, kata dia, dibuat untuk meningkatkan sekolah umum menuju standar internasional. Sehingga ia menilai konsep RSBI dengan SMA Unggul Garuda menjadi berbeda.
 
"Negara itu berupaya menghadirkan berbagai menu pendidikan sesuai kebutuhan anak. Sebetulnya itu yang kita lakukan (di Sekolah Garuda),” kata Vira dalam sosialisasi PPDB SMA Unggul Garuda Baru, di Kantor Kemendiktisaintek, Rabu 18 Februari 2026.
 
Menurutnya anak CIBI memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata skor intelligence quotient (IQ) di atas 130. Populasinya pun terbilang langka.
 
Populasi anak CIBI, kata dia, hanya sekitar 2,2 persen hingga 5 persen dari total populasi global. Anak tersebut tak hanya cerdas tapi dinilai memiliki kemampuan analisis, daya ingat kuat, dan pemikiran jauh dibandingkan dengan anak seusianya.
 
Pun kata dia, SMA Unggul Garuda tidak diskriminatif seperti RSBI. Sebab, SMA Unggul Garuda Garuda bertujuan untuk mewujudkan pemerataan akses pendidikan bermutu tinggi dan meningkatkan talenta sains-teknologi.
 
"Didanai penuh oleh negara, dan tersebar di berbagai daerah," imbuhnya.
 
Sekolah ini juga membuka kesempatan bagi talenta unggul dari kalangan menengah ke bawah. ”Misalnya ada anak dari lulusan paket B atau homeschooling (sekolah rumah). Sepanjang dia memenuhi persyaratan, maka boleh mendaftar dan boleh jadi bagian dari Sekolah Garuda. Jadi ini sangat terbuka, tidak ada biaya tambahan lagi,” tuturnya.
 
Oleh karena itu, lanjut Vira, pemerintah berharap pemahaman publik terhadap Sekolah Garuda tidak disamakan dengan RSBI. Sebab, keduanya memiliki konsep, pendekatan, dan implementasi yang berbeda.
 
”Jadi memang ini bukan rebranding (memperbarui citra) RSBI. Karakteristiknya tidak sama, konsepnya memang berbeda” tutup Vira.
 
Baca juga:  5 Fakta Sekolah Garuda: Beasiswa Full Ternyata Gak untuk Semua Siswa


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan