Ketua Asosiasi Dosen Indonesia, Dino Patti Djalal.  Medcom.id/Sonya Michaella
Ketua Asosiasi Dosen Indonesia, Dino Patti Djalal. Medcom.id/Sonya Michaella

Asosiasi Dosen: Indonesia Perlu Memanjakan Dunia Riset

Pendidikan Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Intan Yunelia • 22 Agustus 2019 14:28
Jakarta: Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) tengah mengkaji kebijakan memberikan honor kepada dosen yang meneliti. Pemikiran ini diapresiasi Asosiasi Dosen Indonesia (ADI), yang menilai Indonesia perlu mengadopsi cara negara-negara maju dalam memanjakan dunia risetnya.
 
Pemberian honor ini dituntut harus sesuai dengan tingkat dan kompetensi penelitian yang dihasilkan.“Tentunya Dikti harus fair kepada penelitinya juga. Kalau di luar negeri kalau kita lihat penelitian itu yang menjadi ujung tombak dari dunia pendidikan di kampus dan dananya sudah enggak ada batasnya untuk riset seperti di Amerika, Inggris dan Australia. Kita perlu mengadopsi pemikiran seperti itu juga memanjakan riset di Indonesia,” kata Ketua Asosiasi Dosen Indonesia, Dino Patti Djalal kepada Medcom.id, Kamis 22 Agustus 2019.
 
Dino mendukung penuh wacana Kemenristekdikti tersebut. Hal itu akan memacu dan mendongkrak publikasi dan riset penelitian yang dihasilkan para dosen peneliti.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Bagus banget dan saya setuju sekali, karena kelemahan kita terbesar itu salah satunya dana penelitian,” ujar Dino.
 
Baca:Kemenristekdikti Kaji Kebijakan Dosen Meneliti Dapat Honor
 
Menurut mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat itu, minimnya jumlah penelitian karena kurangnya insentif kepada para peneliti. Kendala keuangan merupakan salah satu faktor terbesar.
 
“Umumnya dosen hanya untuk mata pencarian. Jadi untuk mendapat gaji. Banyak yang gajinya rendah dan bekerja di berbagai tempat, sehingga akhirnya tidak punya waktu untuk riset,” jelasnya.
 
Minimnya jumlah penelitian dari para dosen akan memengaruhi para mahasiswanya. Kemampuan dan kompetensi dosen tidak terasah karena vakum dari penelitian.
 
“Akibatnya kasihan muridnya juga, karena kalau dia melakukan riset berarti kan pengetahuannya berkembang terus dan itu ditularkan ke murid dan mahasiswanya. Jadi saya kira bagus sekali kalau ada inisiatif yang dilakukan dikti (Kemenristekdikti),” ujar Dino.
 
Sebelumnya,Kemenristekdikti tengah mengupayakan adanya honor bagi dosen yang sedang melakukan penelitian. Ini dimaksudkan agar peneliti terhindar dari tuduhan korupsi dalam saat melakukan penelitian.
 
Skema yang coba ditawarkan adalah dengan menaruh dana riset diLembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), sehingga lembaga tersebut yang akan melakukan kontrol terhadap keuangan. Nantinya dana riset tersebut juga akan dikucurkan dalam bentuk honor pada peneliti, agar lebih transparan.
 
“Kami ingin dorong agar ada honor untuk peneliti. Saya ingin honor itu ada. Uang masuk, honor diberikan pada peneliti dan dana risetnya di LPPM. Supaya ada kontrol dan tanggung jawab. Ini kaitannya dengan pertanggungjawaban keuangan, nanti yang diperiksa LPPM-nya. Jangan dosennya yang diperiksa, mereka sudahneliti, carioutput, masih diperiksa juga,” kata Direktur Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti), Ocky Karna Radjasa dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu, 21 Agustus 2019.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif