Di bidang pendidikan, Nadiem menyampaikan transformasi pendidikan melalui Merdeka Belajar. Di masa pandemi, Nadiem juga menyampaikan kurikulum darurat yang digunakan satuan pendidikan serta penyediaan kuota internet bagi peserta didik dan tenaga pendidik.
“Kemendikbudristek mengeluarkan berbagai kebijakan melalui Merdeka Belajar untuk menyiapkan generasi muda menuju Indonesia yang unggul,” terang Nadiem.
Di samping itu, Nadiem juga menyampaikan soal pengangkatan satu juta guru honorer menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), dan juga penguatan pada pendidikan vokasi. “Kerangka SDGs 2030 juga digunakan untuk bidang budaya, ilmu pengetahuan, komunikasi, dan informasi,” kata Nadiem.
Untuk diketahui, Indonesia merupakan negara pertama yang memiliki indeks pembangunan budaya sebagai ukuran perencanaan dan pelaksanaan strategi untuk memanfaatkan aset budaya Indonesia. Melalui peluncuran Indonesiana TV, Kemendikbudristek menyiapkan sebuah saluran TV budaya sebagai media kolaboratif bagi seniman untuk dijadikan wadah karyanya.
Untuk siklus nominasi Memory of the World 2022 hingga 2023, kata Nadiem, Indonesia akan mengajukan tiga nominasi, yakni arsip Soekarno, arsip KTT Pertama Gerakan Nonblok, dan Naskah Hikayat Aceh.
Sebagai negara mega biodiversitas terbesar kedua di dunia, Indonesia mengakui komitmen nasional terhadap pengelolaan hutan lestari membangun penyerap karbon pada tahun 2030. Hal ini diwujudkan diwujudkan dalam berbagai program UNESCO, dari Man and Biosphere, Global Geopark, hingga situs World Heritage.
Baca juga: Nadiem Targetkan 6.000 Guru Penggerak Hingga Akhir Tahun
Menandai peringatakan UNESCO ke-75, Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Ismunandar menyatakan pada sidang umum yang berlangsung di Paris pada 9 s.d. 24 November 2021, bahwa Indonesia akan mengambil beberapa keputusan penting, termasuk adopsi tentang etika kecerdasan artifisial dan sains terbuka (open science).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News