Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Unair) Karina Kusuma Wardhani. DOK Unair
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Unair) Karina Kusuma Wardhani. DOK Unair

Cerita Mahasiswi FKG Unair, Ikut Pertukaran Pelajar di Niigata University Jepang

Renatha Swasty • 27 Maret 2023 19:13
Jakarta: Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Unair) Karina Kusuma Wardhani punya impian bisa kuliah di luar negeri. Hal itu tercapai berkat short term program exchange di Faculty of Dentistry Niigita University Jepang selama 10 hari pada 14-24 maret 2023.  
“Jadi, program ini memang dikhususkan untuk mahasiswa yang studi di bidang kedokteran gigi. Pesertanya-pun dari berbagai macam negara, seperti Kanada, Peru, Vietnam, Thailand, dan Indonesia,” beber Karina dikutip dari laman unair.ac.id, Senin, 27 Maret 2023.
 
Karina tak sendiri, dia mengikuti pertukaran pelajar bersama Tasya Regita Pramesti dan Vania Khairunnisa Lenggogeni yang juga mahasiswa FKG Unair. Dia membeberkan proses seleksinya.
 
Proses seleksi tidak begitu sulit. Peserta mengirimkan berkas-berkas seperti paspor, transkrip nilai, dan skor tes bahasa inggris, seperti ELPT/TOEFL/IELTS.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Berkas tersebut dikirimkan ke dosen secara daring lalu dosen meneruskan ke pihak Niigata University. Setelah itu tahap wawancara oleh dosen FKG Unair,” beber dia.
 
Karina kerap terlibat dalam kegiatan skala internasional, seperti Short-Term International Exchange Program di Tohoku University, Virtual Spring Study Abroad Program di Osaka University, dan Virtual Summer Program di Sawasdee Thailand.
 
Dia bercerita selama di Jepang, selain kuliah dan praktikum kerap visit dental hospital dan dental clinic. “Praktikum di Jepang sudah menggunakan teknologi yang lebih maju. Contohnya untuk latihan preparasi gigi, di sini menggunakan Simodont Dental Trainer,” ungkap Karina.
 
Baginya berkomunikasi dengan warga lokal menjadi hal menantang. “Kalau ke sini at least perlu belajar basic bahasa Jepang karena orang Jepang jarang berbahasa Inggris. Kami juga sesekali membutuhkan Google translate,” kata Karina sambil terkekeh.
 
Belum lagi, adaptasi dengan budaya jalan kaki. Terlepas dari hal itu, Karina mendorong mahasiswa lain tidak takut daftar lantaran kendala biaya.
 
Karina berhasil ikut program itu lantaran beasiswa dari Japan Student Service Organization (JASSO). “Banyak banget program ke luar negeri, setidaknya punya niat mencari, baik negara maupun universitas yang dituju, nanti akan ada jalan,” ujar gadis asal Surabaya itu.
 
Baca juga: Cerita Mahasiswi Unair Bikin 2 Proyek Selama IISMA di University College Dublin

 
(REN)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif