Rektor Universitas Indonesia (UI), Muhammad Anis, Medcom.id/Citra Larasati.
Rektor Universitas Indonesia (UI), Muhammad Anis, Medcom.id/Citra Larasati.

Tanggapan UI Soal Kuliah-Magang yang Aman

Pendidikan Pendidikan Tinggi Mahasiswa di Taiwan
Octavianus Dwi Sutrisno • 09 Januari 2019 08:06
Depok: Universitas Indonesia (UI) memiliki cara sendiri untuk melindungi mahasiswanya agar aman dari penyalahgunaan program kuliah-magang di dalam maupun luar negeri. Sejumlah prosedur ketat harus dijalani setiap mahasiswa yang ingin mengikuti kuliah-magang.
 
Rektor UI, Muhammad Anis mengatakan, ada sejumlah mekanisme yang UI lalui sebelum memberangkatkan mahasiswanya mengikuti kuliah-magang di dalam maupun luar negeri. Seluruh proses diawas ketat, mulai dari pembuatan MOU (Memorandum of Understanding), hingga Letter of Agreement (LoA), yaitu perjanjian antara penerima dan pengirim mahasiswa.
 
"Misalnya saya mau mengirim seseorang untuk ambil mata pelajaran di luar negeri, harus dipastikan pihak penerimanya siap menerima mahasiswa kami. Setelah semuanya siap, barus MoU dan LoU ditulis lalu ditandatangani, setelah itu baru kita urus pengiriman mahasiswanya," kata Anis kepada Medcom.id ditemui di Gedung Rektorat Kampus UI Depok, Selasa, 8 Januari 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, tahapan-tahapan tersebut penting untuk diikuti, sebagai bentuk pertanggung jawaban kampus terhadap pengiriman mahasiswa magang. "Kalau prosedur ini tidak diikuti oleh mahasiswa magang, maka seluruh tanggung jawab ada pada individu itu sendiri. Tapi untuk kasus mahasiswa di Taiwan saya tidak tahu, mungkin karena ada faktor lain," paparnya.
 
Baca:DPR Minta Kemenristekdikti Klarifikasi Kasus di Taiwan
 
Selanjutnya, saat ditanya mengenai dugaan kerja paksa yang dialami oleh ratusan mahasiswa yang kuliah-magang di Taiwan, Anis mengaku enggan berkomentar lebih jauh. Namun, dari pantauan pihaknya, tidak ada mahasiswa Universitas Indonesia yang terdeteksi menjadi korban rekrutmen program tersebut.
 
"Saya tidak mau menanggapi, karena tidak tahu juga itu benar atau tidak, meskipun sudah ada tanggapan dari berbagai kalangan. Kalau ada mahasiswa UI di situ yang jadi korban, tentu menjadi tanggung jawab kami," ungkap Anis.
 
Seperti diberitakan sebelumnya, ratusan Mahasiswa Indonesia diduga menjadi korban belum sempurnanya skema dan pelaksanaan program kuliah-magang di Taiwan melalui kebijakan New Southbound Policy milik Pemerintah Taiwan. Program ini sejatinya ditawarkan untuk memberi kesempatan kepada pelajar dari Asia Tenggara termasuk Indonesia untuk kuliah sambil magang di industri Taiwan.
 
Namun dalam implementasinya, program ini masih bercelah, sehingga banyak dimanfaatkan oleh agen-agen pendidikan yang tidak kredibel. Alhasil, ratusan mahasiswa Indonesia turut menjadi korban kerja paksa di pabrik-pabrik yang ada di Taiwan dengan aturan kerja yang tidak semestinya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif