Selama berkarier sebagai peneliti, Masteria tercatat telah menghasilkan tidak kurang dari 43 Artikel di Jurnal Internasional, 8 conference papers, dan dua paten.
Sedangkan Dr. Indri Badria Adilina, adalah peneliti di Pusat Riset Kimia BRIN. Perempuan yang menguasai Bahasa Inggris, Jepang, Jerman, dan Perancis tersebut memiliki pengalaman dalam riset di bidang kimia, khususnya green chemistry, katalis, dan biomasa. Indri menyelesaikan Pendidikan doktoralnya di Chiba University, Jepang Tahun 2013. Sebagai peneliti, Indri banyak menerima penghargaan nasional dan internasional.
Antara lain: AONSA Young Research Fellowship (2020), ISIS Impact Awards (2019), L'Oreal-UNESCO for Women in Science National Fellowship (2013), dan Chiba University Environmental Award (2012). Menurut Masteria, setiap negara memerlukan figur ilmuwan yang berperan sebagai role model bagi generasi muda.
]“Oleh karena itu, pemilihan ASD yang berusia di bawah 45 tahun ini menjadi salah satu langkah untuk mencari potensi ilmuwan di tingkat ASEAN”, ujarnya.
Lebih lanjut Indri menyampaikan bahwa jaringan ASD ini juga berfungsi sebagai wadah untuk membina pemahaman yang erat antar ilmuwan di negara-negara ASEAN. “Di Asia Tenggara banyak sekali ilmuwan, khususnya ilmuwan muda yang andal. Untuk itu, diperlukan suatu wadah untuk membangun diskusi yang lebih produktif di antara mereka, untuk bersama-sama mencari solusi dari berbagai permasalahan global yang sedang kita hadapi,” kata Indri.
ASD juga menjadi kesempatan bagi para peneliti untuk belajar mengkomunikasikan penelitiannya sehingga dapat dipahami oleh dan sampai kepada para stakeholders dan policy makers. Menurut Indri, tujuan akhirnya adalah para peneliti dapat berkontribusi membuat science-based policy dalam rangka mencari solusi dan permasalahan global.
“ASD Award ini menjadi ajang untuk memilih peneliti-peneliti yang andal di bidang science-nya sekaligus juga memiliki potensi menjadi science diplomat. Kami akan dilatih lebih dalam untuk hal science diplomat, dan bagaimana cara untuk berkontribusi dalam pembuatan science-based policy dengan stakeholders dan policy makers,” pungkas Indri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News