Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Inovasi dan Daya Saing, Ananto Kusuma Seta, UNS/Humas.
Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Inovasi dan Daya Saing, Ananto Kusuma Seta, UNS/Humas.

50% Tenaga Kerja Tak Sesuai Latar Pendidikan

Intan Yunelia • 25 Februari 2019 07:26
Jakarta: Sebanyak 50% tenaga kerja Indonesia yang bekerja saat ini tak memiliki latar pendidikan yang sesuai. Hal tersebut membuktikan arah pendidikan di Indonesia masih belum menyesuaikan dengan kebutuhan tenaga pasar.
 
Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Inovasi dan Daya Saing, Ananto Kusuma Seta mengatakan, pendidikan Indonesia tergolong lamban dalam merespons perubahan teknologi industri. Dibuktikan sejak 2018 lalu tingkat mismatch tenaga kerja Indonesia masih cukup tinggi.
 
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2018, jumlah pengangguran di pendidikan tinggi juga meningkat dibandingkan 2017. Mengetahui hal tersebut, Ananto menyarankan untuk mengubah paradigma pendidikan Indonesia secara komprehensif.

"Harus ada perubahan paradigma. Bahwa lulusan yang dihasilkan belum kompatibel untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja. Sebanyak 73% lulusan kita tidak bisa bekerja di Indonesia dan harus outsource dari negara tetangga. Kita harus bekerja keras untuk memenuhi itu," kata Ananto dalam keterangan pers tentang Simposium Nasional Pendidikan Bertema "Teknologi Industri dan Pendidikan" di UNS Inn yang diterima di Jakarta, Senin 25 Februari 2018.
 
?Baca: Pemerintah Jamin Infrastruktur Dongkrak Jumlah Unicorn
 
Ia mengatakan hampir separuh dari lulusan perguruan tinggi di Indonesia mengalami ketidakcocokan antara pekerjaan dengan latar pendidikan (mismatch). Baik secara horizontal maupun vertikal. 
 
Horizontal mismatch adalah tenaga kerja yang lulus dari fakultas tertentu, tapi bekerja di bidang lain yang dipelajari di fakultas lain. Sementara vertical mismatch over qualified adalah tenaga kerja yang sebenarnya lulusan sarjana tapi mengambil pekerjaan lulusan SMA. Pertanyaannya, mau dibawa kemana arah pendidikan kita," ujar Ananto.
 
Dalam mengantisipasi tingkat mismatch yang cukup tinggi, ada beberapa perubahan yang harus dilakukan pada sektor pendidikan. Di antaranya melihat kembali tujuan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia bukan untuk merobotkan manusia.
 
"Sehingga, lulusan yang dihasilkan lembaga pendidikan tidak hanya mampu bersaing melawan robot tapi juga diyakini bisa bertahan di dunia kerja masa depan," tutur Ananto.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan