Ilustrasi/MI
Ilustrasi/MI

Restrukturisasi Lembaga Riset, Pakar: Optimalisasi Fungsi Peneliti Jauh Lebih Penting

Antara • 19 Januari 2022 14:54
Purwokerto:  Pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Totok Agung Dwi Haryanto menilai aspek fungsional peneliti harus lebih dipentingkan agar tetap bisa berkarya dengan maksimal.  Sehingga ia menilai peleburan maupun tetap dalam bentuk desentralisasinya sejumlah lembaga penelitian nonkementerian ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bukanlah persoalan.
 
Dengan lebih mementingkan aspek fungsional, kata dia, peneliti-peneliti itu bisa melaksanakan tugas dalam fungsinya masing-masing secara maksimal.  "Jadi, apakah itu akan dikoordinasi oleh BRIN atau tetap seperti kemarin tersebar di beberapa kelembagaan, menurut hemat saya yang lebih penting adalah bagaimana peneliti-peneliti Indonesia itu bisa berfungsi maksimal," kata mitra bestari di berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian nasional itu.
 
Ia mengatakan jika peneliti-peneliti di Indonesia bisa berfungsi maksimal, mereka akan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.  Serta dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa secara konkret.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, kata dia, menghasilkan teknologi yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia yang sampai dihilirisasi dan dikomersialisasikan.
 
Contohnya, kata Totok, dalam menghasilkan alat, sepeda motor, mobil, pesawat, varietas, teknologi pertanian, pupuk, dan lain-lain serta menghasilkan kebijakan-kebijakan publik, dan menghasilkan model-model pemberdayaan masyarakat yang teradopsi sampai kepada masyarakat termasuk masyarakat industri.
 
"Itu artinya bagaimana peneliti itu berfungsi maksimal, baik dalam bentuk kelembagaan yang terpisah-pisah maupun terkoordinasi dalam BRIN itu yang nomor dua," katanya.
 
Lebih lanjut, Totok mengatakan ketika peneliti berfungsi maksimal, tidak akan ada duplikasi kegiatan yang sama di tempat yang berbeda.  Menurut dia, perguruan tinggi, badan penelitian dan pengembangan, serta semua kelembagaan seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan sebagainya bersinergi membagi tugas untuk penelitian-penelitian terbaik dari putra-putra terbaik bangsa.
 
"Harapannya memang ketika lembaga penelitian nonkementerian itu dilebur ke dalam BRIN bisa lebih terkoordinasi, bisa lebih terpusat, termasuk aset, sharing fasilitas, sharing pendanaan, sharing sumber daya manusia bisa menjadi lebih baik, bisa saling mendukung. Itu sisi positifnya," kata peneliti yang telah menghasilkan sejumlah karya seperti padi Gogo aromatik itu.
 
Kendati demikian, dia mengakui ada yang memandang bahwa dengan peleburan lembaga penelitian itu ke dalam BRIN akan terjadi intervensi terhadap independensi para peneliti.
 
"Makanya, ayo kita jaga bersama-sama nanti keputusan mana yang terbaik, ayo kita jaga bersama agar kelembagaan yang disepakati itu bisa juga berfungsi maksimal mendukung para SDM peneliti itu bisa berfungsi secara maksimal sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing," kata bakal calon Rektor Unsoed periode 2022-2026 itu.
 
Baca juga:  BRIN dan Forum Rektor Indonesia Kolaborasi Bidang Pendidikan dan Riset
 
Totok mengatakan, seperti yang telah diketahui bahwa jumlah peneliti terbanyak berada di perguruan tinggi dibandingkan dengan yang ada di badan litbang, kementerian, maupun lembaga-lembaga penelitian lainnya.  Di perguruan tinggi itu terdukung dengan sumber daya manusia mahasiswa S1, S2, S3 yang sangat banyak, sehingga tentu saja dukungan pendanaan untuk penelitian perguruan tinggi menjadi sangat penting.
 
"Nah ini bisa saja, selama ini dikoordinasi lalu dimanajemeni oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, kemudian nanti dikoordinasi oleh BRIN, yang penting akuntabilitasnya bisa terjaga," kata dia yang pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed itu.
 
Dengan demikian yang terpenting saat sekarang, kata dia, peneliti bisa melaksanakan fungsinya sebagai peneliti terbaik sampai menghasilkan produk yang mampu memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa saat ini, sehingga tidak menjadi bangsa yang mengimpor teknologi dari luar terus-menerus. 
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif