Pengukuhan lima guru besar Unair. Foto: Dok. Unair
Pengukuhan lima guru besar Unair. Foto: Dok. Unair

Sepanjang Oktober 2020 Unair Kukuhkan 14 Guru Besar

Pendidikan Pendidikan Tinggi Guru Besar Perguruan Tinggi UNAIR
Citra Larasati • 21 Oktober 2020 19:36
Jakarta:  Universitas Airlangga (UNAIR) mengukuhkan guru besar baru untuk ketiga kalinya sepanjang Oktober 2020. Pengukuhan itu menambah daftar panjang jumlah guru besar yang dimiliki UNAIR, yaitu sebanyak 513 orang.
 
Sepanjang Oktober ini rektor UNAIR mengukuhkan sebanyak 14 guru besar. Pada 8 Oktober sebanyak empat guru besar, 14 Oktober sebanyak lima guru besar, dan 21 Oktober sebanyak lima guru besar.  Pengukuhan guru besar dihadiri secara terbatas oleh tamu undangan dengan penerapan protokol kesehatan ketat.   
 
Kelima guru besar yang dikukuhkan antara lain Prof. Dr. Kun Ismiyatin, drg., M.Kes., Sp.KG(K) dari Fakultas Kedokteran Gigi, Prof. Dr. Seger Handoyo, Drs M.Si., Psikolog. dari Fakultas Psikologi, Prof. Dr. Raden Darmawan Setijanto, drg., M.Kes dari Fakultas Kedokteran Gigi, Prof. Dr. Dwikora Novembri Utomo, dr., Sp.OT(K) dari Fakultas Kedokteran, dan Prof. Dr. Hendrian Dwikoloso Soebagjo, dr., Sp.M(K) dari Fakultas Kedokteran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rektor UNAIR, Mohammad Nasih mengatakan, dengan dikukuhkannya kelima guru besar, akan menambah stabilitas kekuatan yang dimiliki UNAIR. Guru besar merupakan jabatan tertinggi dalam dunia akademik.
 
“Jika sudah top level (jabatan di bidang akademik), tidak akan ada lagi langkah tujuan lanjutan yang berkaitan dengan jabatan akademik,” ujar Rektor.
 
Baca juga:  Senat IPB Setuju Beri Gelar Honoris Causa untuk Doni Monardo
 
Oleh karenanya, lanjut Rektor, diharapkan para guru besar akan memberikan sumbangsih karya dan pemikirannya untuk almamater.  Selain itu, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNAIR itu mengimbau kepada seluruh guru besar untuk mampu bergerak melintas batas.
 
“Kemampuan melintas batas untuk berbicara multidisiplin menjadi kunci utama keberhasilan kita. Dunia ini berkembang luar biasa. Tidak lagi mengikuti rumus linier. Tetapi mengikuti perubahan yang radikal dan fundamental. Dan itu tidak cukup hanya dipecahkan hanya menggunakan tool disiplin ilmu yang kita pelajari di bidang kita masing-masing,” ucap Nasih.
 
Tak hanya itu, Nasih mengimbau masing-masing guru besar di bidang ilmu yang mereka tekuni harus berkolaborasi. Bukan hanya melintang batas, tapi melintas batas menjadi kebutuhan yang mutlak.
 
“Kami berharap UNAIR dikenal secara internasional karena kontribusinya dalam persoalan universal dan kebermanfaatan manusia di dunia ini,” tambahnya.
 
Guru besar pertama, Kun Ismiyatin, merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi aktif ke-28. Dalam orasi ilmiahnya, guru besar bidang Ilmu Konservasi Gigi itu memaparkan inovasi penggunaan Epigallocatechin-Gallate (EGCG) dan laser dioda sebagai terapi antibakteri dan penyembuhan karies gigi.
 
Guru besar kedua, Seger Handoyo, merupakan Guru Besar Fakultas Psikologi aktif ke-5. Dalam orasi ilmiahnya, guru besar Ilmu Psikologi Industri dan Organisasi itu mengatakan bahwa saat ini perguruan tinggi tidak seperti kapal pesiar untuk berpelesir, namun layaknya organisasi bisnis yang diterjang perubahan dunia.
 
Perubahan ini melaju dengan cepat, adaptasi dan improvisasi harus senantiasa dilakukan agar dapat bertahan.  “Empat tantangan pemimpin saat ini adalah membongkar sekat-sekat ego sektoral, kesombongan identitas diri atau kelompok, dan memegang teguh kepentingan sendiri di atas kepentingan yang lebih besar yang menjadi tembok untuk berkordinasi dan berkolaborasi,” ucap Seger.
 
Guru Besar ketiga, Darmawan Setijanto, merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi aktif ke-29. Dalam orasi ilmiahnya, guru besar bidang Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat itu mengatakan bahwa melalui teknologi Artificial Intelligence Al dan machine learning, penelitian terhadap kesehatan gigi maupun epidemiologi mampu menghilangkan asumsi statistika dan bias.
 
“Ilmu dan penelitian yang awalnya berlaku lokal, akan lebih mudah menemukan generalisasi yang mendekati hasil nyata. Selain itu, teknologi tersebut mampu mempelajari bidang lintasbatas serta ilmu yang berdasarkan emosional dan norma,” ucap Darmawan.
 
Guru besar keempat, Dwikora, merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran aktif ke-114. Guru besar bidang Ilmu Orthopaedi dan Traumatologi itu menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Menuju Kemandirian Penanganan Cedera Lutut Secara Komprehensif”.
 
Dwikora dan tim telah mengembangkan teknik baru yang disebut dengan Teknik UNAIR-Soetomo. Teknik itu terbilang menguntungkan dari sisi estetik dan pemulihan pascaoperasi bagi pasien atlet yang mengalami cedera lutut.
 
Upaya tersebut merupakan bentuk nyata kemandirian dalam melakukan desain dan produksi dengan menggandeng industri dalam negeri, sehingga dapat diperoleh dengan harga terjangkau.
 
Guru besar kelima, Hendrian Dwikoloso, merupakan Guru Besar Fakultas Kedokteran aktif ke-115. Guru besar dalam bidang Ilmu Kesehatan Mata itu dalam orasi ilmiahnya menguraikan risetnya mengenai peran biomolekular dan artificial intelligence dalam mendeteksi kanker mata retinoblastoma di era normal baru.
 
Hendrian mengembangkan aplikasi dan riset alat deteksi dini penyakit pada mata berdasarkan foto mata dengan memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence. Aplikasi tersebut memanfaatkan alat deteksi dini penyakit mata berupa foto atau citra mata.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif