Ilustrasi. Foto: MI/Gino Hadi
Ilustrasi. Foto: MI/Gino Hadi

Pandangan Guru Besar IPB Soal Tantangan Pendidikan di 2021

Pendidikan Virus Korona sekolah Pembelajaran Daring Guru Besar Pembelajaran Tatap Muka
Citra Larasati • 06 Januari 2021 20:22
Jakarta:  Awal 2021, dengan tekad menggebu, sekolah-sekolah sudah mulai mempersiapkan kegiatan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan protokol kesehatan ketat.  Sementara, pada Desember 2020 hingga awal Januari 2021 ini, lonjakan kasus covid-19 masih terjadi di mana-mana.
 
Situasi pendidikan saat ini bak buah simalakama, beraktivitas di sekolah memunculkan kekhawatiran tertular covid-19, sementara belajar daring di rumah pun mulai terasa melelahkan dan membosankan.
 
Hal tersebut disinggung Guru Besar Departemen Gizi Masyaraka Institut Pertanian Bogor (IPB), Ali Khomsan dalam sebuah pandangan tertulisnya. “Saat pandemi, beban siswa semakin berat. Di beberapa wilayah dijumpai jaringan internet yang kurang stabil sehingga menyulitkan mereka mengikuti pelajaran secara daring,” ungkap Ali Khomsan, Guru Besar IPB University bidang Community Nutrition ini, Rabu, 6 Januari 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, kata Ali, belajar sepenuhnya dari rumah juga menjadi beban bagi orang tua. Pasalnya, orang tua tidak hanya harus mengawasi anaknya selama belajar secara daring, namun sering kali juga harus menuntun anaknya dalam mengerjakan PR (pekerjaan rumah).
 
Orang tua pun ikut stres memikirkan PR anaknya, di samping memikirkan nafkah dan uang belanja yang semakin menyusut karena sektor perekonomian yang belum pulih.  “Wabah covid-19 yang menyebar di hampir seluruh negara di dunia memunculkan kelelahan psikis yang luar biasa bagi semua orang termasuk para pelajar,” terang Ali.
 
Ali menyebutkan, tantangan lain pada 2021 adalah kenyataan bahwa anak-anak usia sekolah semakin melek teknologi. “Ini harus diarahkan sehingga kegemaran menggunakan gadget bukan sekadar untuk bermedsos atau main games. Gadget bisa menjadi sumber informasi dan teknologi. Hal ini akan menuntun anak-anak kita untuk menjadi lebih terampil,” terang Ali.
 
Dengan kemudahan akses internet, lanjutnya, maka siswa tidak perlu lagi mengandalkan sistem hafalan untuk menguasai informasi. Dunia pendidikan justru harus mendorong agar anak-anak bisa lebih berani mengemukakan pendapat dan meningkatkan kemampuan analisis mereka. Seperti halnya sistem pendidikan Barat yang selalu merangsang curiousity atau keingintahuan seorang siswa.
 
Baca juga:  PSBB Jawa-Bali, Sekolah Kembali Digelar Daring
 
Ia berharap situasi pandemi dan sistem pembelajaran daring jangan sampai mengurangi kehidupan sosial anak. Dunia yang semakin kompetitif menuntut individu-individu dengan emotional quotient (EQ) yang tinggi. EQ (bukan IQ) dalam kehidupan modern saat ini dianggap lebih dapat memprediksi kesuksesan seseorang.
 
“Tantangan pendidikan pada 2021 adalah menghasilkan anak Indonesia yang memiliki kemampuan bekerja sama (team work), mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, dapat berkomunikasi dengan baik, berpikir kreatif, memiliki jiwa kepemimpinan, serta motivasi yang tinggi,” jelas Ali.
 
Ali juga menerangkan, pendidikan bukan hanya menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang siap menjadi pekerja, tetapi juga SDM yang memiliki jiwa entrepreneurship, berpikir efektif dan efisien, serta lebih dari itu semua adalah adanya karakter positif (disiplin, kerja keras, jujur) yang melekat kuat dalam dirinya. 
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif