Para ulama besar menganjurkan agar umat Islam tidak melewatkan kesempatan berharga ini sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Umat Islam menunjukkan semangat yang tetap terjaga untuk terus berbuat baik dengan melanjutkan ibadah setelah Ramadan.
Waktu pelaksanaannya sangat fleksibel karena boleh berpuasa secara berurutan mulai hari kedua Lebaran maupun dilakukan secara acak. Hal ini tentu memudahkan siapa saja yang ingin mencicil puasanya di sela-sela kesibukan silaturahmi bersama keluarga.
Seperti ibadah pada umumnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memantapkan niat di dalam hati sebelum memulai. Selain di dalam hati, mengucapkan niat secara lisan juga sangat disarankan agar lebih fokus dan sungguh-sungguh saat beribadah.
Sebelum mengetahui lafal niatnya, yuk simak terlebih dahulu dasar hukum pelaksanaan puasa Syawal dikutip dari laman Majelis Ulama Indonesia berikut ini:
Dasar Hukum Pelaksanaan Puasa Syawal
Dasar hukum pelaksanaan ibadah ini merujuk pada sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim nomor 1164:أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Sungguh Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang berpuasa Ramadan, kemudian diiringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.’” (HR Muslim)
Mengenai waktu pelaksanaannya, menurut al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab (juz 6, hlm 379), paling utama dilakukan pada 2-7 Syawal secara berurutan. Namun, jika dilakukan secara acak atau baru sempat di akhir bulan, hal tersebut tetap diperbolehkan dan sah secara agama.
Niat Puasa Syawal
Ulama menganjurkan agar niat tidak hanya dilakukan dalam hati, tetapi juga dilafalkan secara lisan. Berikut adalah beberapa lafal niat yang dapat dilafalkan:1. Niat malam hari (Jjika akan puasa berurutan 6 hari)
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ للهِ تعالىNawaitu shauma ghadin ‘an adai sittatin min syawwal lillahi ta’ala
Artinya: “Saya niat puasa pada esok hari untuk menunaikan puasa sunah enam hari dari bulan Syawal karena Allah Ta’ala.”
2. Niat malam hari (jika puasa tidak berurutan)
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ للهِ تعالىNawaitu shauma ghadin ‘an adaa’i sunnatis Syawwal lillaahi ta‘ala.
Artinya: “Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah SWT.”
3. Niat siang hari (jika baru berniat saat sudah siang)
Kewajiban niat malam hari hanya untuk puasa wajib. Untuk puasa sunnah, diperbolehkan berniat saat siang hari asalkan belum makan/minum sejak subuh:نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لللهِ تعالى
Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an adaa’i sunnatis Syawwaal lillaahi ta‘ala.
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah SWT.”
Keutamaan Puasa Syawal
Puasa enam hari di bulan Syawal bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan penyempurna dari ibadah Ramadan yang telah dilalui. Berikut beberapa keutamaan utamanya yang dikutip dari laman Baznas Provinsi Lampung:1. Pahala setara berpuasa setahun penuh
Keutamaan yang paling besar adalah balasan pahala yang melimpah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, orang yang menyambung puasa Ramadan dengan enam hari di bulan Syawal akan mendapat pahala seolah berpuasa sepanjang tahun.2. Mendapat pahala berlipat ganda
Setiap amal kebaikan dalam Islam dilipatgandakan sepuluh kali lipat, sehingga puasa Ramadan selama satu bulan dihitung setara dengan sepuluh bulan pahala. Apabila ditambah dengan enam hari puasa Syawal yang setara dengan enam puluh hari atau dua bulan, total pahala yang diperoleh genap menjadi dua belas bulan atau satu tahun penuh.3. Parameter diterimanya amalan Ramadan
Para ulama menyebutkan salah satu tanda diterimanya amal ibadah seseorang adalah ketika amalan tersebut mendatangkan kebaikan berikutnya. Keistiqamahan seseorang dalam melaksanakan puasa Syawal menjadi bukti semangat ibadah Ramadan tetap terjaga dan diterima oleh Allah SWT.4. Menjaga konsistensi dan kualitas ibadah
Puasa Syawal berperan penting melatih kedisiplinan diri agar kualitas ibadah tidak menurun tepat setelah bulan Ramadan berakhir. Melalui ibadah ini, seorang muslim dapat memperkuat kedekatan kepada Allah SWT sekaligus menjaga semangat kepedulian sosial dan nilai-nilai ketakwaan agar tetap konsisten di bulan berikutnya.5. Pelaksanaan puasa yang fleksibel
Ibadah ini memiliki keistimewaan dalam tata cara pelaksanaannya. Meskipun utama dilakukan berturut-turut setelah Idulfitri, umat Islam diberikan keringanan melaksanakannya terpisah selama masih berada di dalam bulan Syawal.Sobat Medcom, itulah informasi mengenai niat puasa Syawal beserta keutamaannya. Semoga informasi ini dapat bermanfaat, ya! (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News