Secara biologis, setiap kali anak menemukan video menarik, otak mereka segera melepaskan neurotransmitter dopamin yang menciptakan sensasi kesenangan instan.
“Keluarnya neurotransmitter dopamin ini membuat anak menjadi seperti ketagihan, sehingga ia terus ingin membuka video pendek lainnya berulang kali,” papar ungkap dokter anak dan ahli tumbuh kembang pediatri sosial, dr. Bernie Endiyani Medise, Sp.A(K), MPH, dalam unggahan Instagram @metrotv dikutip Senin, 20 April 2026.
Namun, di balik antusiasme tersebut, kebiasaan menonton konten singkat ini perlahan mengikis durasi atensi dan kemampuan fokus anak dalam jangka panjang. Apabila kebiasaan ini terus berlanjut, anak akan mengalami kesulitan besar dalam berkonsentrasi pada tugas sekolah yang membutuhkan ketekunan serta pemikiran yang mendalam.
Ancaman Nyata, Atensi Pendek dan Hilangnya Fokus
Dampak paling mengkhawatirkan dari kebiasaan ini adalah perubahan cara kerja otak anak dalam memproses informasi. Karena terbiasa dengan konten yang serba cepat, daya konsentrasi anak perlahan menurun drastis.“Anak terbiasa memperhatikan sesuatu yang kontennya pendek, yang akhirnya membuat atensi atau fokus anak menjadi terganggu,” kata dr. Bernie.
Ketika dihadapkan pada tugas sekolah atau penjelasan guru yang membutuhkan konsentrasi mendalam, anak-anak ini cenderung cepat merasa bosan dan gelisah. Performa akademik menjadi taruhannya karena otak mereka telah 'terlatih' hanya merespons stimulasi yang singkat dan meledak-ledak.
Tembok Digital dalam Interaksi Sosial
Selain masalah kognitif, aspek sosial anak juga terdampak hebat terutama bagi mereka yang diperkenalkan dengan media digital sejak usia dini.“Ini berbahaya karena anak terlihat cuek, dipanggil tidak menengok, dan sulit untuk melakukan komunikasi dua arah,” tegas dr. Bernie.
Oleh karena itu, orang tua akan sering menemukan masalah seperti:
- Anak memiliki sikap apatis seolah memiliki dunianya sendiri dan mengabaikan lingkungan sekitar
- Anak kehilangan kemampuan untuk merespons percakapan nyata yang dinamis
- Kehilangan kepekaan karena anak lebih asyik dengan layar ketimbang berinteraksi dengan teman sebaya atau orang tua
Gangguan Tidur dan Efek 'Cranky' di Pagi Hari
Bahaya terakhir menyasar pada kualitas istirahat anak yang sering menggunakan gawai sebelum tidur. Paparan layar di malam hari membuat waktu tidur menjadi lebih lama tertunda dan berisiko merusak kualitas mimpi anak."Kadang-kadang ada anak-anak yang akhirnya mengalami nightmare atau mimpi buruk dan sering terbangun pada malam hari,” ujar dr. Bernie.
Akibatnya, anak bangun dalam kondisi kurang segar dan emosi tidak stabil. Di pagi hari, mereka menjadi sangat rewel atau cranky dan akhirnya mengantuk di sekolah.
Hal ini menciptakan lingkaran setan yang merusak performa akademik dan kesehatan fisik mereka secara keseluruhan. Dengan begitu, orang tua perlu menyadari durasi tontonan bukan satu-satunya masalah, melainkan jenis konten pendek yang mampu memanipulasi hormon dan kemampuan fokus anak sejak usia dini. (Talitha Islamey)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News