Ilustrasi. Foto: MI/Adi Kristiadi
Ilustrasi. Foto: MI/Adi Kristiadi

Tips Persiapan Asesmen Nasional Bagi Guru dan Sekolah

Pendidikan Ujian Nasional Kebijakan pendidikan Asesmen Kompetensi Minimum
Ilham Pratama Putra • 04 November 2020 15:12
Jakarta:  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) meyakini jika Asesmen Nasional (AN) mampu meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Meski ditegaskan tidak perlu persiapan khusus apapun, namun tetap diperlukan upaya untuk mencapai target tersebut.
 
Ketua Yayasan Guru Belajar, Bukik Setiawan pun mengatakan, upaya untuk mencapai target tersebut dapat dilakukan pihak guru dan sekolah. Kemampuan analisis satuan pendidikan dibutuhkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
 
Dengan begitu konten pembelajaran harus berfokus pada pengembangan kompetensi. Baik itu kompetensi literasi, numerasi dan karakter siswa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kira-kira mana yang paling dekat dan dibutuhkan siswa dari kompetensi itu, masing-masing guru perlu tahu mana yang bisa memberikan kontribusi terbesar bagi pengembangan siswa" kata Bukik dalam Webinar Jurus Jitu Lulus AN: Bagaimana Seharusnya Guru dan Kepala Sekolah menyikapi AN, Selasa, 3 November 202
 
Hal itu perlu dilakukan, karena kemampuan siswa di setiap sekolah dan daerah berbeda-beda. Guru dan sekolah lah yang paling tahu kompetensi apa yang mesti mendapat perhatian lebih untuk dikembangkan di sekolahnya masing-masing.
 
Baca juga:  Kemendikbud Beri 'Bocoran' Contoh Soal Asesmen Nasional
 
Kedua adalah melakukan perencanaan pembelajaran kolaboratif berbasis pada murid. Artinya, kolaborasi tidak hanya dilakukan oleh para guru dengan mata pelajaran yang sama, melainkan kolaborasi keseluruhan guru di tingkat kelas masing-masing. 
 
"Kalau mengajar kelas yang sama itu guru-gurunya harus kolaborasi, berdiskusi melakukan analisis capaian pembelajaran yang bisa menjadi tujuan bersama atau setidaknya bisa menganalisis beban tugas para murid. Misalnya kelas berbeda tapi itu semua di kelas 7, semua mata pelajaran gurunya harus berkumpul jadi satu sehingga bisa merancang pengalaman belajar pada murid," terang Bukik. 
 
Lalu, perbanyak juga forum berbagi praktik baik pembelajaran berbasis kompetensi. Menurut dia pertemuan para pendidik bukan hanya di daerah saja, tapi juga perlu antarsekolah. 
 
"Ini setidaknya yang realitstis dilakukan sehingga kita bisa lebih sensitif dan peka dalam memanfaatkan hasil level AN pada lingkup sekolah," tambahnya.
 
Yang jelas kata dia, guru saat ini sudah harus memulai melakukan asesmen di awal pembelajaran. Untuk memahami kompetensi awal murid sebagai dasar penyusunan rencana pembelajaran. 
 
"Itu harus mulai dibiasakan. Saya percaya guru dan sekolah dengan dukungan yang tepat mampu menyusun asemen numerasi ,literasi dan karakter. Tidak harus sempurna, sesuai dengan kemampuan sekarang bikin dulu aja, kalau butuh perbaikan itu nanti kita revisi, tapi mulailah dengan membiasakan untuk membuat asesmen di awal pembelajaran," kata dia.
 
Guru juga perlu mengurangi tugas untuk murid-muridnya. Dengan begitu, waktu untuk meningkatkan kualitas murid pun menjadi lebih banyak daripada murid terus-terusan mengerjakan tugas.
 
"Perlu mengurangi tugas, di samping itu guru bisa mendapatkan energi yang lebih banyak untuk meningkatkan kualitas tugasnya karena kalau kita ngasih tugas yang lebih banyak, energi kan habis, sedikit aja tapi kualitas bagus dan nanti dikasih umpan balik (oleh murid)," pungkasnya.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif