Stop kekerasan terhadap anak. Foto: Antara/R. Rekotomo
Stop kekerasan terhadap anak. Foto: Antara/R. Rekotomo

KPAI: Kasus Kekerasan di Sekolah Mayoritas Dilakukan Guru

Pendidikan Kekerasan di Sekolah
Intan Yunelia • 30 Desember 2019 14:22
Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima 153 aduan kasus kekerasan pada anak di lingkungan sekolah sepanjang 2019. Anak menjadi korban kebijakan sekolah, kekerasan fisik, dan perundungan. Sebagian besar kekerasan atau sebanyak 44 persen dilakukan oleh guru.
 
Berdasarkan data KPAI, mayoritas kasus diselesaikan melalui rapat koordinasi nasional di Jakarta, yakni 95 kasus (62 persen). Sebanyak 19 kasus (13 persen) diselesaikan dengan mediasi dan 16 kasus (10 persen) melalui rujukan ke pihak terkait.
 
Sementara itu, sebanyak 23 kasus (15 persen) merupakan kekerasan fisik di lembaga pendidikan. Kasus itu diselesaikan melalui pengawasan langsung ke lokasi dan penyelesaian melalui rapat koordinasi dengan pemerintah provinsi, pemerintah daerah, dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


KPAI menyayangkan masih ditemukan fakta guru menerapkan hukuman fisik dalam penegakan disiplin sekolah. Kekerasan fisik dan perundungan tersebut 39 persen terjadi di jenjang SD/MI, 22 persen terjadi di jenjang SMP/sederajat, dan 39 persen di tingkat SMA/SMK/MA.
 
"Padahal pendekatan kekerasan akan berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak. Selain itu tidak membuat anak menghentikan perilakunya," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti, Senin, 30 Desember 2019.
 
Kasus kekerasan di sekolah pun sampai menimbulkan korban jiwa. Dua siswa SMA TI Kota Palembang meninggal saat kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS), satu siswa SMPS di Kota Manado juga meninggal setelah dihukum lari keliling lapangan sekolah karena terlambat. Selain itu ada satu guru SMK di Kota Manado meninggal karena ditikam siswanya.
 
"Jumlah siswa yang menjadi korban kekerasan fisik dan perundungan mencapai 171 anak, sedangkan guru korban kekerasan ada lima orang," ujar Retno.
 
Kasus kekerasan guru/kepala sekolah ke peserta didik sebanyak 44 persen. Kekerasan siswa ke guru sebanyak 13 persen, kekerasan orang tua ke siswa atau ke guru sebanyak 13 persen, dan pelaku kekerasan antara siswa ke siswa lainnya 30 persen.
 
"Modus kekerasan fisik yang dilakukan guru berupa dicubit, dipukul, ditampar, dibentak dan dimaki, dijemur di terik matahari, dan dihukum lari keliling lapangan sekolah sebanyak 20 putaran," terang Retno.
 
Sedangkan kekerasan sesama siswa umumnya dilakukan bersama-sama (pengeroyokan) dengan cara dipukul, ditampar, dan ditendang. Sedangkan bentuk kekerasan siswa ke guru adalah di pukul, dirundung, divideokan kemudian diunggah ke media sosial, dan ditikam dengan pisau.
 
Kekerasan fisik yang terjadi di lingkungan pendidikan ini memiliki beragam alasan. Di antaranya guru yang berdalih untuk mendidik dan mendisiplinkan siswanya dengan kekerasan fisik. Alasan orang tua siswa melakukan kekerasan kepada guru adalah ingin membela anaknya yang dianggap telah jadi korban kekerasan oleh gurunya.
 
"Adapun alasan kekerasan sesama siswa adalah balas dendam dan sengaja adu kekuatan karena perintah siswa senior. Sedangkan kasus siswa mem-bully guru sebagian besar karena ingin video yang dibuatnya viral sehingga jadi terkenal," ujar Retno.
 

 

(FZN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif