Buku. DOK Medcom
Buku. DOK Medcom

Mengulik Revolusi Ejaan Republik yang Mengubah Wajah Bahasa Indonesia

Renatha Swasty • 04 Februari 2026 15:00
Ringkasnya gini..
  • Ejaan bahasa Indonesia terus mengalami perubahan. Salah satu sejarah yang paling berpengaruh adalah lahirnya Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi.
  • Ejaan Soewandi diprakarsai oleh Mr. Soewandi untuk menggantikan dan menyempurnakan Ejaan van Ophuijsen yang dianggap terlalu rumit dan kurang efisien.
  • Tujuan utama dari sistem Ejaan Republik adalah untuk menghilangkan beberapa konsonan ganda atau huruf rangkap yang digunakan dalam ejaan sebelumnya.
Jakarta: Pernahkah Sobat Medcom membaca tulisan “doeloe” yang dibaca “dulu” atau “sjair” yang sekarang kita kenal dengan “syair”? Keduanya adalah contoh ejaan lama dalam bahasa Indonesia.
 
Dari masa ke masa, ejaan bahasa Indonesia terus mengalami perubahan dan penyempurnaan.
Perubahan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebuah proses panjang untuk menyesuaikan bahasa dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat.
 
Salah satu tonggak sejarah yang paling berpengaruh dalam perjalanan ini adalah lahirnya Ejaan Republik atau yang lebih akrab dikenal sebagai Ejaan Soewandi pada tahun 1947. Ejaan ini hadir sebagai simbol semangat nasionalisme yang membara pascakemerdekaan.

Diprakarsai oleh Mr. Soewandi, ejaan ini digunakan untuk menggantikan dan menyempurnakan Ejaan van Ophuijsen yang dianggap terlalu rumit dan kurang efisien. Yuk simak informasi lengkapnya di bawah ini!

Apa itu ejaan?

Menurut KBBI, ejaan merupakan kaidah untuk menggambarkan bunyi bahasa ke dalam bentuk tulisan yang mencakup pengaturan huruf, kata, serta tanda baca. Penerapan ejaan yang benar sangat penting dalam komunikasi tertulis untuk menjamin efektivitas pesan dan menghindari kesalahpahaman. 
 
Mengutip laman Brain Academy, ejaan berfungsi sebagai fondasi dalam pembakuan tata bahasa dan kosakata, sekaligus menjadi penyaring unsur bahasa asing agar identitas bahasa Indonesia tetap terjaga. Selain mencerminkan profesionalisme penulis, ejaan yang konsisten juga memudahkan pembaca menyerap informasi dan memperkuat fungsi bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa.

Ejaan yang berlaku di Indonesia

Ejaan Bahasa Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan, berikut perkembangan ejaan Bahasa Indonesia dari waktu ke waktu:
  1. Ejaan van Ophuisjen
  2. Ejaan Republik/Ejaan Soewandi
  3. Ejaan Pembaharuan
  4. Ejaan Melindo
  5. Ejaan Baru/Ejaan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK)
  6. Ejaan yang Disempurnakan (EYD)
  7. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)
  8. EYD Edisi V

Profil Singkat Mr. Soewandi

Salah satu ejaan yang pernah berlaku di Indonesia adalah Ejaan Republik/Ejaan Soewandi. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai Ejaan Republik/Ejaan Soewandi, yuk kenalan dulu sama penciptanya!
 
Mengutip laman Narabahasa, Raden Mas Soewandi Notokoesoemo merupakan lulusan ITB yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pada masa awal kemerdekaan. Ia memiliki kontribusi besar dalam mereformasi pendidikan nasional. 
 
Melalui Panitia Penyelidik Pengajaran yang diketuai Ki Hajar Dewantara, ia merancang sistem sekolah baru yang menekankan pada kurikulum praktis dan keterampilan hidup seperti pertanian serta perdagangan. Langkah ini dilakukan agar masyarakat tetap memiliki kemandirian ekonomi meski tidak melanjutkan sekolah tinggi, sekaligus menjadi upaya nyata dalam memberantas buta aksara di Indonesia.
 
Selain pendidikan formal, Soewandi memanfaatkan semangat kebangsaan untuk memperkuat bahasa Indonesia sebagai identitas nasional. Ia membentuk komisi khusus yang berhasil membakukan tata bahasa, menyusun ribuan istilah baru, serta melahirkan Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi sebagai pengganti sistem ejaan lama. 
 
Bagi Soewandi, pembakuan bahasa bukan sekadar urusan teknis, melainkan alat politik yang krusial untuk mempersatukan bangsa dan memajukan kebudayaan nasional di tengah masa transisi pemerintahan.

Ejaan Republik/Ejaan Soewandi

Mengutip unggahan Instagram @pt_balaipustaka, Ejaan Republik/Ejaan Soewandi digunakan sebagai penyederhanaan dan pembaruan Ejaan van Ophuijsen. Ejaan ini secara resmi diberlakukan pada 19 Maret 1947. 
 
Tujuan utama dari sistem Ejaan Republik adalah untuk menghilangkan beberapa konsonan ganda atau huruf rangkap yang digunakan dalam ejaan sebelumnya. Selain itu, sistem ejaan ini juga mengubah ejaan beberapa kata dan kata serapan dari bahasa asing agar sesuai dengan pengucapan dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, ejaan ini memiliki lima ciri utama dalam penerapannya.

Ciri-ciri Ejaan Ejaan Republik/Ejaan Soewandi

Berikut ciri-ciri Ejaan Republik/Ejaan Soewandi yang berlaku dari tahun 1947 hingga 1972:

1. Penggantian huruf oe

Perubahan yang paling mencolok adalah penggantian kombinasi huruf oe menjadi u. Kata-kata seperti doeloe kini resmi ditulis dulu, dan akoe berubah menjadi aku.

2. Singkatan angka 2 untuk kata ulang

Agar lebih efisien, kata ulang kini boleh menggunakan angka 2. Sebagai contoh, penulisan anak-anak dapat diringkas menjadi anak2, begitu pula dengan kata berimbuhan seperti ke-barat2-an.

3. Hilangnya tanda diakritis

Bunyi schwa atau e pepet (ê) tidak lagi memerlukan tanda khusus di atasnya. Kata seperti kêluarga kini cukup ditulis sederhana menjadi keluarga.

4. Huruf K menggantikan bunyi hamzah

Bunyi hamzah (‘) tidak lagi ditulis dengan tanda khusus, melainkan diganti huruf k, seperti pada kata ra’yat yang berubah menjadi rakyat dan ta’ menjadi tak.

5. Penyeragaman imbuhan di- dan kata depan

Awalan di- maupun kata depan di sama-sama ditulis serangkai dengan kata-kata yang mengikutinya, misalnya dijalan, diluar, dijual, diminum.
 
Nah, Sobat Medcom itulah ulasan lengkap mengenai Ejaan Republik/Ejaan Soewandi yang sempat digunakan dalam kaidah penulisan bahasa Indonesia. Semoga informasi ini dapat bermanfaat, ya! (Talitha Islamey)

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan