Assistant Dean (Digital Operations) di National University of Singapore (NUS) Business School, Tan Hong Ming. Medcom.id/Renatha Swasty
Assistant Dean (Digital Operations) di National University of Singapore (NUS) Business School, Tan Hong Ming. Medcom.id/Renatha Swasty

Pakar NUS: Anak Tak Perlu Diajari AI, tapi Kuasai 3 Hal Ini

Renatha Swasty • 09 Oktober 2026 12:27
Ringkasnya gini..
  • Pakar NUS menyarankan pendidikan era AI fokus membangun fondasi utama anak, bukan sekadar mengajarkan cara memakai AI.
  • Tiga fondasi utama mencakup pengembangan rasa ingin tahu, kemampuan bahasa dan membaca, serta keterampilan matematika.
  • Penguasaan bahasa memperlancar interaksi prompting, sementara matematika mendukung kemampuan berpikir kritis dan pemrograman.
Singapura: Artificial intelligence (AI) menuntut perubahan cara belajar sejak usia dini. Siswa tak perlu diajari cara menggunakan AI tetapi memanfaatkanya. 

Nah, agar mahir memanfaatkan AI ada tiga hal pembelajaran yang mesti menjadi fondasi bagi anak-anak. Pertama, rasa ingin tahu. 

Assistant Dean (Digital Operations) di National University of Singapore (NUS) Business School, Tan Hong Ming, menuturkan berpikir kritis memang penting, tetapi rasa ingin tahu jauh lebih penting. 

"Sekarang kita memiliki alat yang sangat canggih, tetapi untuk memanfaatkannya kita harus memiliki rasa ingin tahu," kata Tan saat berdiskusi dengan media di The Ridge, Singapura, Kamis, 8 Oktober 2026. 

Dia menuturkan untuk anak-anak kecil, pada usia itu, yang terpenting adalah rasa ingin tahu, yaitu memperkenalkan pada berbagai hal dan konsep, termasuk matematika. Tan menyebut perlu fondasi matematika yang kuat karena hal itu mengarah pada kemampuan berpikir kritis.

Kedua, bahasa dan membaca. Saat ini, kata dia, digunakan large language model, sehingga cara berinteraksi dengan alat-alat ini adalah melalui bahasa dan membaca. 

"Orang yang memiliki kemampuan membaca, menulis, dan berbahasa yang lebih baik akan dapat membaca lebih cepat, menulis lebih cepat, dan menggunakan alat-alat ini dengan lebih baik," papar Deputy Head dan Senior Lecturer di Department of Analytics and Operations itu. 
 
Dia mengatakan alat-alat ini akan memberikan teks panjang. Apabila seseorang tidak dapat membaca dengan baik dan cepat, ia akan menggunakan alat tersebut dengan lebih lambat dan kurang efektif dibandingkan orang yang mampu membaca dan merangkum informasi dengan lebih baik.

Tan mengatakan membaca sangat penting bagi para siswa, juga mengetik, karena perlu mengetik untuk berinteraksi dengan AI. Namun intinya adalah membaca dan merangkum informasi, yaitu keterampilan berbahasa. 

"Bahasa apa pun tidak masalah, tetapi akan lebih baik jika menguasai lebih dari satu bahasa. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa siswa dwibahasa (bilingual) memiliki, saya tidak ingin memakai kata “lebih baik”, tetapi pikirannya lebih lentur (plastis). Jadi, kemampuan dwibahasa juga penting," ujar Tan

Ketiga, keterampilan matematika. Tan mengatakan matematika penting karena ketika mereka dewasa, untuk memanfaatkan AI dengan baik, sebaiknya tidak berfokus pada pelatihan AI, melainkan pada pelatihan pemrograman. 

AI sangat mudah digunakan, jadi yang dibutuhkan justru adalah pelatihan pemrograman, karena AI sangat andal dalam pemrograman. 

"Jika Anda memberikan perintah (prompt) dengan baik, didukung kemampuan berbahasa dan berpikir kritis yang baik, serta memahami cara memprogram, Anda dapat memanfaatkan AI untuk membangun berbagai hal, seperti aplikasi, dan AI dapat membantu memprogram untuk Anda. Hal itu membuka dunia yang sepenuhnya baru," ujar dia.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan