Press Conference Festival Pahlawan Anak 2026. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Press Conference Festival Pahlawan Anak 2026. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Save the Children Gaungkan Isu Hak Anak Lewat Festival, Gandeng Industri Kreatif hingga Pemprov DKI

Ilham Pratama Putra • 13 Agustus 2026 15:24
Ringkasnya gini..
  • Save the Children rayakan 50 tahun lewat Festival Pahlawan Anak.
  • Industri kreatif diajak mengampanyekan isu hak anak secara lebih populer.
  • Pemprov DKI perkuat ekosistem perlindungan anak melalui layanan publik.
Jakarta: Yayasan Save the Children Indonesia menggelar Festival Pahlawan Anak sebagai bagian dari peringatan 50 tahun kiprahnya di Indonesia. Berbeda dengan pendekatan kampanye konvensional, festival ini dirancang untuk membawa isu pemenuhan hak anak ke ruang publik melalui aktivitas yang lebih populer, inklusif, dan melibatkan berbagai sektor.

CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, mengatakan peringatan lima dekade organisasi tersebut bukan sekadar momentum seremonial. Festival Pahlawan Anak menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mengajak publik berpartisipasi dalam upaya pemenuhan hak-hak anak.

"Bagi kami ini bukan hanya sekadar perayaan. Kami ingin menggunakan Festival Pahlawan Anak untuk memberikan kesadaran lebih lagi kepada publik terkait isu-isu anak dan mengundang partisipasi aktif masyarakat untuk mendukung program-program yang kami jalankan bersama demi memastikan hak-hak anak terpenuhi," ujar Dessy di Gandaria City, Jakarta 13 Agustus 2026.
 
Baca juga: Lestari Moerdijat Ajak Semua Pihak Ciptakan Ruang Digital Aman untuk Anak  

Menurutnya, pemenuhan hak anak tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab lembaga sosial maupun pemerintah. Keterlibatan masyarakat luas menjadi kunci agar setiap anak memperoleh hak untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal.

Pendekatan tersebut diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai pelaku industri kreatif. Ia menegaskan persoalan anak sejatinya merupakan isu bersama yang harus dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat, karena itu, narasi mengenai perlindungan anak perlu disampaikan menggunakan bahasa yang lebih populer dan mudah diterima publik.

"Isu anak bukan isu yang eksklusif, tetapi isu yang harus dipahami semua pihak. Karena itu kami di industri kreatif merasa terpanggil untuk membantu menerjemahkan isu ini dalam bentuk kampanye yang lebih populer," lanjutnya.

Ia mengakui banyak organisasi nonpemerintah memiliki narasi dan semangat yang kuat dalam memperjuangkan hak anak. Namun, tidak semuanya memiliki kapasitas untuk mengemas kampanye secara kreatif sehingga mampu menjangkau masyarakat perkotaan yang lebih luas.

Atas dasar itu, Festival Pahlawan Anak melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas subsektor, mulai dari industri kreatif, dunia seni, sektor swasta, hingga pemerintah. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperluas gaung isu perlindungan anak sekaligus membangun kepedulian publik.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemprov DKI Jakarta selama beberapa tahun terakhir bekerja sama dengan Save the Children dalam berbagai program perlindungan anak.
 
Baca juga: Seberapa Efektif Peraturan Larangan Medsos bagi Anak? Ini Kata Pakar IPB  


Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta, Dwi Oktavia TLH, mengatakan kolaborasi sejak 2020 telah menghasilkan beragam layanan yang memudahkan masyarakat mengakses bantuan maupun konsultasi terkait persoalan keluarga dan anak. Menurutnya, pembangunan ekosistem perlindungan anak dilakukan melalui berbagai jalur, mulai dari keluarga, layanan digital, hingga ruang-ruang publik.

"Saat ini kami juga menghadirkan layanan konseling bagi pengunjung pusat perbelanjaan, termasuk pos konsultasi dan pengaduan. Ini bagian dari upaya membangun ekosistem perlindungan anak yang komprehensif," ujarnya.

Oktavia menjelaskan pusat perbelanjaan dipilih karena menjadi salah satu lokasi yang banyak dikunjungi keluarga, terutama saat akhir pekan. Dengan menghadirkan layanan konseling dan informasi di tempat tersebut, pemerintah berharap semakin banyak keluarga yang memperoleh akses terhadap layanan perlindungan anak.

"Kalau informasi mengenai perlindungan anak bisa hadir di tempat-tempat yang memang banyak dikunjungi keluarga, tentu itu menjadi hal positif bagi anak dan keluarga di Jakarta," katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Yayasan Save the Children Indonesia Daniel Rembeth menegaskan Festival Pahlawan Anak bukanlah tujuan akhir dari gerakan perlindungan anak. Festival justru menjadi refleksi atas perjalanan organisasi selama lima dekade sekaligus pijakan untuk memperkuat langkah ke depan.

Menurut Daniel, tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini semakin kompleks di tengah berbagai ketidakpastian. Karena itu, dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan mereka.

"Festival ini bukan tujuan akhir, tetapi pembelajaran dari perjalanan kami selama 50 tahun. Kami ingin memastikan setiap anak dapat tumbuh dengan aman, sehat, berkembang, dan itu membutuhkan keterlibatan banyak pihak," ujar Daniel.

Melalui Festival Pahlawan Anak, Save the Children berharap isu pemenuhan hak anak tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab kelompok tertentu semata. Melainkan menjadi gerakan bersama yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, komunitas kreatif, dan masyarakat luas.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan