Mata Kuliah Tumpang Tindih Bisa Digabungkan
Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Ravik Karsidi, Medcom.id/Citra Larasati.
Jakarta: Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Ravik Karsidi berpendapat, penyederhanaan Satuan Kredit Semester (SKS) di perguruan tinggi sangat mungkin dilakukan. Pasalnya, selama ini ada beberapa mata kuliah yang materinya tumpang tindih dengan mata kuliah lainnya. 

"Bagi mata kuliah yang overlapping(tumpang tindih) perlu digabungkan dengan mata kuliah yang sejenisnya," kata Ravik saat dihubungi Medcom.id,Kamis, 6 Desember 2018.


Baca: Rektor IPB: 128 Jumlah SKS Ideal

Penyederhanaan jumlah SKS, kata Ravik, merupakan langkah tepat mengurangi beban kuliah mahasiwa. Dengan catatan, tanpa mengurangi substansi dan isi materi dari mata kuliah tersebut. Namun di sisi lain, Ravik juga berharap penyederhanaan SKS dibarengi dengan upaya pendalaman materi kuliah di setiap SKS-nya.

"Saat ini rata-rata SKS di perguruan tinggi Indonesia itu secara jumlah memang banyak, tetapi secara substansi kurang dalam. Sehingga perlu diperdalam," ujar Ravik. 

Selanjutnya, mata kuliah yang memang tak relevan dengan program studi juga perlu dipangkas. Digantikan dengan SKS yang sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. 

"SKS diganti yang relevan menyesuaikan perkembangan atau tuntutan perubahan yang ada," ujarnya.

Pemerintah akan mengevaluasi kembali Sistem Kredit Semester (SKS) yang berlaku di perguruan tinggi jenjang strata 1 (S1).  Jumlah 144 SKS yang berlaku saat ini berpotensi disederhanakan, sebab selama ini dinilai menghambat kreativitas dan membebani biaya kuliah.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan, wacana pengurangan jumlah SKS tersebut masih dikaji.  Untuk saat ini, penyederhanaan SKS belum bisa terlaksana, karena masih ada tarik ulur antarlembaga terkait. 




(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id