Keris Pangeran Diponegoro. Foto: Dok. Pribadi Sri Margana
Keris Pangeran Diponegoro. Foto: Dok. Pribadi Sri Margana

Sejarawan UGM Ikut Uji Keaslian Keris Pangeran Diponegoro

Pendidikan kebudayaan
Ilham Pratama Putra • 10 Maret 2020 14:55
Jakarta: Sejarawan UGM, Sri Margana terlibat dalam proses verifikasi keris Pangeran Diponegoro yang selama ini berada di Belanda. Dalam proses verifikasi, ini Sri mengaku memiliki sedikit perbedaan pendapat dengan tim peneliti Belanda.
 
Menurut Margana, ada perbedaan tentang salah satu dari tiga binatang yang diukirkan pada keris. Tim peneliti Belanda sebelumnya menerka satu binatang itu ialah singa, harimau atau gajah.
 
Namun, setelah melihat langsung objeknya Margana memastikan bahwa binatang yang diinterpretasikan sebagai gajah, singa atau harimau itu ialah Naga Siluman Jawa. Hal itu sesuai dengan nama keris yang pernah disebut Pangeran Diponegoro.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Ini adalah keris Pangeran Diponegoro yang dinamai Naga Siluman itu. Kesimpulan saya diamini oleh Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, yang juga seorang sejarawan, Duta Besar RI untuk Belanda serta saudara Bonnie Triyana, sejarawan, juga jurnalis yang menjadi bagian dari delegasi Indonesia,” kata Margana dikutip dari laman UGM, Selasa, 10 Maret 2020.
 
Pada kesempatan tersebut, Margana menuturkan perjalanan panjang bagaimana Keris Pangeran Diponegoro bisa sampai ke Belanda. Museum Volkenkunde di Leiden sudah lama mencoba mencari Keris Diponegoro yang ada di koleksinya sejak tahun 1984.
 
Orang pertama yang melakukan upaya ini adalah Pieter Pott, kurator museum dan kemudian menjadi Direktur Museum. Kemudian pencarian diikuti oleh Susan Legene dari Frije Universiteit Amsterdam, Johanna Leifeldt (1917) dan Tom Quist (2019).
 
Dari empat peneliti itu ditemukan ada tiga keris yang diduga milik Pangeran Diponegoro. Tahun 2019, Tom Quist sepakat dengan pendapat Johanna Leifeldt bahwa dua keris lain yang ditemukan oleh Pieter Pott dan Susan Legense dipastikan bukan keris Pangeran Diponegoro.
 
Kepastian bahwa keris Diponegoro ada di Belanda dibuktikan dari tiga dokumen penting. Di antaranya korespondensi antara De Secretaris van Staat dengan Directeur General van het department voor Waterstaat, Nationale Nijverheid en Colonies antara 11-15 Januari 1831.
 
Dalam korespondensi itu disebutkan bahwa Kolonel J.B. Clerens menawarkan kepada Raja Belanda Willem I sebuah keris dari Pangeran Diponegoro. Keris itu kemudian disimpan di Koninkelijk Kabinet van Zelfzaamheden (KKVZ).
 
"Setelah itu, pada tahun 1883 keris ini diserahkan ke Museum Volkenkunde Leiden," lanjut Margana.
 
Baca juga:Keris Pangeran Diponegoro akan Dipamerkan di Museum Nasional
 
Dokumen kedua adalah kesaksian dari Sentot Prawirodirjo yang ditulis dalam Bahasa Jawa, kemudian diterjemahkan dalam Bahasa Belanda. Dalam surat itu Sentot menyatakan, bahwa ia melihat sendiri Pangeran Diponegoro menghadiahkan Keris Kyai Naga Siluman kepada Kolonel Clerens.
 
Dokumen ketiga adalah catatan dari Raden Saleh, pelukis yang pernah tinggal di Belanda dan melukis penangkapan Pangeran Diponegoro. Catatan Raden Saleh ini dituliskan di bagian sisi kanan surat kesaksian Sentot Prawirodirjo.
 
"Dalam catatan itu, Raden Saleh yang telah melihat dengan mata kepala sendiri keris itu di Belanda menjelaskan makna Keris Naga Siluman dan ciri-ciri fisik keris itu," ungkap Margana.
 
Selanjutnya, dari ketiga dokumen itu, para peneliti di Belanda yakin bahwa keris koleksi Museum Volkenkunde Leiden dengan nomor seri 360-8084 adalah yang paling mendekati keabsahan. Bahwa keris tersebut memang milik Pangeran Diponegoro.
 
Pada bulan Januari 2020 Tim verifikasi dari Viena Austria, Habil Jani Kuhnt-Saptodewo diminta memverifikasi temuan tim Belanda itu. Untuk menyatakan bahwa Tom Quist dan Johanna Leijfeldt telah menghadirkan dokumen dan arsip arsip yang menyatakan bahwa keris itu milik Pangeran Dipnegoro.
 
Setelah itu, bulan Februari 2020 Kemendikbud juga diminta untuk memverikasi hasil temuan Provenant Research di Museum Volkenkunde Leiden itu. Pihak Kemendikbud diharapkan juga mampu memastikan bahwa keris itu milik Pangeran Diponegoro.
 
"Ini penting karena bukti sejarah tentang Pangeran Diponegoro semakin lengkap. Semoga ini nanti akan diikuti dengan pengembalian benda sejarah lainnya yang masih ada di Belanda," tegas Margana.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif